DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
CUCUKU, EDWARD


__ADS_3

Sorot mata Mas Reza tidak bisa berbohong, ada kepedihan, kerinduan dan juga kekecewaan. Dia menatap wajah Mbak Bella dari kejauhan. Kerinduan tersurat jelas di wajahnya.


Aku menepuk pelan tangannya, menyadarkan dia bahwa kini Mbak Bella bukan miliknya lagi.


Dia menoleh padaku, aku menggelengkan kepalaku dia terdiam.


"Tolong jaga mata anda! Yang anda lihat itu istri dan anak saya. Tolong ingat itu." ucapan Mas Gaga membuat hatiku bergetar.


Lembut tapi pas menembus jantungku. Aku sendiri merasa linu, apa lagi Mas Reza di sisiku.


Aku menggenggam erat tangan Mas Reza. Memintanya tenang, karna apapun yang di katakan Mas Gaga memang benar adanya.


Mas Gaga mendekati Mbak Bella, merangkul mesra pinggang Mbak Bella dan mengecup kepalanya.


"Om, mohon maaf sebelumnya. Saya telat meminta ijin kepada, Om. Saya dan Bella kini sudah resmi menjadi suami istri dan ini adalah buah hati kami, Edward Putra Gaga. Usianya 23 bulan, cucu Om." ucapnya di hadapan Papa.


Papa terlihat begitu senang, rasa gembiranya terlihat jelas dan bahkan mungkin sampai lupa rasa sakitnya. Papa langsung bangun, bersandar pada tempat tidurnya.


"Bersama siapapun kamu, jika itu membuatmu bahagia Nak. Papa tidak akan pernah mempertahankan, maafkan kesalahan Papa yang berulang kali Papa lakukan padamu, Bella." Papa mengelus kepala Mbak Bella.


Mbak Bella mengangguk dan meraih tangannya, "Lupakan lah, Pa. Yang lalu biar berlalu, mungkin jika aku tidak membuang penyakit yang akan menyakiti hidupku... Aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan yang sempurna ini."

__ADS_1


Dengan mesra Mbak Bella memandang Mas Gaga dan putranya.


Papa mengangguk, "Iya, sayang. Terimakasih."


menepuk tangan Mbak Bella dengan pelan.


"Bolehkan aku menggendong, cucuku." matanya tertuju pada Edward Putra Gaga.


Mas Gaga memberikan Edward kepada Papa.


Papa begitu senang menimangnya.


"Beliau adalah Eyang Edward, sayang." ucap Mas Gaga lembut sedikit berjongkok meratakan wajahnya dengan putranya.


Tangan Mas Reza bergetar, aku terus berusaha menahan emosinya. Amarah, rasa cemburu, sakit hati dan air mata seakan hendak meledak.


Aku melirik Mas Glen yang ada di hadapanku, aku mengisyaratkan kepadanya untuk membawa Mas Reza keluar.


Mas Glen paham dengan isyarat ku dan mendekati Papa.


"Pa, aku ada urusan sebentar. Aku keluar dulu ya.. Nanti aku kesini lagi.." pamitnya.

__ADS_1


"Kamu baru bertemu dengan Mbak mu Glen, apa tidak bisa di tunda?." Papa meminta Mas Glen tinggal. Mbak Bella dan Mas Gaga hanya diam saja.


"Sebentar aja, mau beli sesuatu untuk jagoan kecil kita." dia mencolek pipi gembul Edward.


"Baiklah, belikan mainan juga ya.. Papa ingin memberikan mobil untuk cucu, Eyang." Papa mengayun ayunkan tubuh Edward di pangkuannya. Mas Glen mengangguk dan pamit kepada Mbak Bella dan Mas Gaga.


"Pergilah, Glen. Kami akan di sini sampai sore." ucap Mbak Bella lembut.


"Apa Mbak akan pergi lagi?." ada rasa ingin menahan dari tatapan mata Mas Glen. Aku pun sama ingin bertanya demikian. Apa mungkin Mbak Bella akan pergi lagi. Selama ini dia di mana.


"Tidak untuk sementara, karna kami masih ada urusan di sini." jawab Mas Gaga, mengusap kepala Mbak Bella.


Dari tadi aku gak habis pikir dengan manusia kulkas 12pintu ini, kok bisa dari awal masuk sampai sekarang sikapnya hangat dan lembut kepada Mbak Bella. Memang luar biasa, Mbak Bella. Bisa mencairkan, bongkahan es dalam diri Mas Gaga.


Akhirnya, Mas Glen berhasil membawa Mas Reza keluar. Tanganku panas dan basah akibat luapan emosi Mas Reza. Tangannya begitu panas, apa lagi hatinya.


Aku berusaha mencairkan suasana, aku yang sedikit merasa canggung dengan mereka akhirnya berhasil masuk.


Memang benar, sikap hangat Mas Gaga hanya untuk Mbak Bella. Aku yang sudah bisa masuk ke dalam suasana hati Mbak Bella, tapi belum bisa menyentuh sedikitpun bongkahan es itu.


"Sebentar lagi ulang tahun ya, di rayakan di sini saja ya, sayang. Sama Tante dan Om sama Eyang juga." aku berbicara dengan Edward di hadapan kedua orangtuanya. Aku sebenarnya ingin meminta mereka tinggal lagi di sini, seperti yang mereka bilang. Yang lalu biarlah berlalu, tapi aku malu jika teringat kesalahan itu.

__ADS_1


__ADS_2