DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
TEROR,


__ADS_3

Untuk mengurangi rasa jenuhku di rumah, aku membuka toko kecil-kecilan. Karna kecintaan ku kepada anak kecil membuat aku terinspirasi membuat toko peralatan bayi.


Aku duduk di depan halaman toko, menanti pembeli. Ya walau tidak terlalu ramai, tapi cukup membuat aku punya rutinitas.


Edwina dan Bibi sedang asik main di tempat permainan bayi yang toko sediakan. Di khususkan untuk pelanggan yang membawa bayinya berbelanja.


TRING ...


Pesan Masuk Tidak Dikenal


"Kamu tidak bisa diberitahu baik baik ya, kita perlu bertemu!!!"


Wah.. wanita ini lagi!! Minta bertemu? Aku harus bilang Mas Gaga atau tidak, ya. Sebaiknya aku pergi atau cuekin aja.. batinku.


Pesan Keluar


"Aku tidak ada mengenal, anda? Untuk apa aku mengikuti perkataan, anda? Anda sudah gila ya, meminta seorang istri meninggalkan suaminya?."


IH... geram sekali aku, dia bicara seperti seolah olah aku yang pela kor.


TRING ...


Pesan Masuk Tidak Dikenal


"Wah.. kamu kurang ajar ya, aku kekasih Gaga. Kamu pelacur yang tiba tiba merebut kekasih orang. GAK TAU DIRI!!! WANITA MURAHAN!!!"


Hah... Gak salah ini ? aku sedang ingin berbuat banyak dosa. Baiklah aku ikuti kemauan mu.


"HEI!!!... ANDA GAK SALAH BICARA? Buktikan jika anda benar dan aku salah!!!"


PESAN TERKIRIM


Aku gak sabar nunggu balasan darinya.


TRING ...


"Aku lebih mengenal Gaga? Aku mengenalnya lebih dari 10tahun!!! Siapa kamu yang tiba tiba datang, mengacaukan segalanya. PELACUR !!!!


Wah... wah... luar biasa, dia bilang mengenal Mas Gaga lebih dari 10tahun. Terus aku harus bilang "Waw" gitu.


Ternyata seru juga meladeni wanita seperti ini, terimakasih sudah membuatku tidak jenuh.


"Wah... hebat sekali, anda! Pernah di peluk dengan penuh kasih sayang oleh Mas Gaga? Atau pernah di basuh tubuhmu, olehnya? Atau apakah pernah Mas Gaga suamiku, bilang cinta sama kamu??"


PESAN TERKIRIM


Haha.. yang panas biar tambah panas.


TRING ...


Pesan Masuk Tidak Dikenal.


"Aku tidak perlu bicara padamu yang ku lakukan dengan Gaga. Seorang pelacur bangga dengan sentuhan lelaki lain. Dasar liar!!!"


Aku tertawa puas, "Lah dia ngamuk..Hahaha"


"Maaf, Non. Ada apa?" bibi tiba tiba menyapaku.

__ADS_1


"Eh gak, Bi. Saya lagi chating sama orang." menggaruk kepala, mungkin tawaku terlalu keras. Mengawasi sekeliling, ternyata keadaan sekitar lumayan ramai. Mereka menoleh ke arahku, aku mengangguk malu menebarkan senyum.


"Oh.. Bibi kira kenapa, Non. Non kecil tidur di ruang istirahat, Non. Bibi mau beli bakso di depan, Non mau, gak?" menawarkan padaku.


"Oh, boleh Bi. Minta sambal agak banyak, ya." Aku memberikan uang, "Bayar sekalian punya Bibi, ya. Oh ya, punya saya seperti biasa ya." pesanku.


Bibi mengangguk, "Siap, Non. Makasih, Bibi titip Non kecil, ya." pamitnya.


"Gini saja Mbak sang kekasih suamiku. Kita ketemu saja ngopi ngopi cantik gitu. Sambil membicarakan momen momen indah bersama Mas Gaga, suamiku. Gimana?"


PESAN TERKIRIM


TRING ...


Pesan Masuk Tidak Dikenal


"Jangan bangga menyebut Gaga "Suamiku". Lihat saja nanti, Gaga akan berada di pelukan siapa."


Aku melangkah masuk ke ruang istirahat, melihat Edwina takut terbangun. Karna kondisi toko lumayan ramai.


Aku duduk di sudut ruangan yang tepat di depan jendela, menatap taman kecil buatan.


"Tentu saja, pelukanku 😘"


Kita terasa aku terus membalas pesannya seakan kita ngobrol dengan kawan lama. Aku senang ada teman chatting di saat senggang. Mungkin jika ada kesempatan bisa kita bertemu untuk ngopi ngopi manis, tapi itu nggak akan terjadi lebih manis yang ada tatapan sinis.


"Jangan bangga dulu kamu, sementara ini Gaga belum tahu aku sudah balik Indonesia


Dan dilihat saja nanti kalau dia sudah tahu aku sudah di Indonesia. Kesombongan mu nggak akan lama, nikmatilah waktumu saat ini. Karna itu semua sementara."


Hahaha... aku ingin sekali mencubit pipinya saat membayangkan bibirnya bicara 'karna itu sementara' pasti lucu sekali. Ih!! menggemaskan.


PESAN TERKIRIM


TOK ... TOK ...


"Masuk..." seruku.


Bibi masuk membawa mangkok bakso, wanginya semerbak menggugah selera. Isi perutku serempak berdendang.


"Wah... Bibi... yummy..." aku meletakkan ponselku, meraih mangkok yang di berikan Bibi.


"Sesuaikan, Non?." tanya Bibi.


Aku menelisik mangkok baksoku dan mengangguk, "The best". Bibi tertawa.


"Yuk kita makan.." Bibi duduk di hadapanku.


Kami menikmati bakso langganan depan toko. Warung bakso itu ramai terus setiap hari, bahkan memesannya pun memerlukan waktu lebih dari setengah jam menunggu. Tapi itu sesuai dengan rasa dan kepuasan yang kita dapat.


Ah!!! kenyang nya... mengusap perutku sambil bersandar.


"Non, mau minum es buah, gak? Bibi mau beli es kopyor.." Bibi merapihkan mangkok.


"Wah,.. Bibi ni, bisa gendut badanku nanti." ucapku tertawa.


"Gak apa lah, Non. Bohay..." tawanya riang.

__ADS_1


"Bener bener ya,. Setiap di ajak keluar, Bibi jajan terus, ya. Tapi gak gemuk gemuk Loch, aku iri." godaku. Aku tahu itu adalah kebahagiaan buat Bibi, dia bekerja sepanjang hari tapi tidak ada yang di nafkahi. Jadi sudah seharusnya dia mengapresiasikan dirinya sendiri.


"Saya udah dari sananya, Non. Gak bakal gemuk walau makan banyak. Insha Allah." ucapnya bangga.


"Iya ya, selama ini jajan apa aja tapi badan tetap oke ya, Bi." pujiku dengan tubuhnya yang tetap ramping walau makan banyak. Di kulkas rumah bahkan cemilan banyak miliknya, kadang bikin cake untuk sekedar ngeteh. Aku senang dia bahagia tinggal bersama keluargaku.


"Mau gak, Non. Mumpung Non kecil masih tidur, kita nyantai Non." tawarannya menggiurkan.


"Boleh, Bi. Aku juga mau es kopyor banyakin alpukat sama duriannya ya." Aku menyodorkan uang. Bibi menolak.


"Gak usah, Non. Seperti biasa, gantian oke. Bibi juga ada uang, tenang aja." menepuk kantong celananya dengan bangga.


Kami tertawa bersama, "Baiklah Bibiku sayang, terimakasih atas traktirannya."


Dia pergi melambaikan tangannya.


Ah, Bibi ini ada ada saja. Setiap jajan kita gantian bayar. Aku memang menganggapnya keluarga, begitupun dia. Jadi sudah tidak ada kecanggungan antara kami. Bahkan saling menyantap pesanan kami bergantian juga sudah biasa.


TRING ....


Pesan Masuk Suamiku


"Sayang, kamu masih di toko?."


Aku segera menelponnya..


TUT ... TU


"Halo, sayang.."


"Iya, Mas. Ada apa, aku masih di toko. Edwina sedang tidur siang.."


"Oh, baguslah. Kamu sudah makan siang?"


sreet ... sreeet ...


"Sudah, Mas. Mas sendiri sudah makan belum.. Jangan sampai telat makan Loch, nanti perut kamu sakit."


Dia masih bekerja, jelas sekali suara lembaran kertas yang di bukanya.


"Sebentar lagi, sayang. Syukurlah kamu sudah makan.. Makan apa tadi?."


Ck.. Aku berdecak.


"Ada apa, sayang?." suaranya sedikit panik.


"Aku kesal denganmu, Mas. Setiap waktu mengingatkanku makan, tapi kamu sendiri makan telat terus." gerutuku.


Aku mendengar helaan nafas panjangnya.


"Kamukan sedang menyusui, sayang. Lagi pula kesehatanmu penting."


Seperti biasa itulah alasannya.


"Ya memang kamu gak penting? Kesehatan kamu juga sangat penting, Mas. Kamu memikul tanggung jawab yang besar, aku hanya tentang keluarga kita. Tapi kamu? Berapa ratus karyawan di perusahan yang bergantung padamu. Jangan menyepelekan selalu, aku gak suka, ah.." aku kesal setiap kali dia bicara seperti itu. Tapi selama ini aku tahan, tapi terus berulang ulang. Dia mengutamakan kami, tapi tidak dengannya.


"Kan ada kamu yang perhatian sama Mas, senang deh kamu marah marah begini.. Ya sudah, Mas makan dulu ya. Nanti kabarin kalau mau pulang, ya. Love you, honey."

__ADS_1


"Iya, Mas. Makan dulu sana, ya. Love you to, My husband.. See You.."


Tut ...


__ADS_2