DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
ASAL MUASAL


__ADS_3

Papa menceritakan tentang kisah cinta mereka.


Pertemuan awal dengan Kartika di sebuah kampus. Kartika adalah gadis yang cerdas dan cantik. Walau hidup berkecukupan dia tidak seperti orang pada umumnya.


Setiap pergi selalu naik bus ke kampusnya.


Awalnya aku tidak tau jika dia anak konglomerat. Karna kesederhanaan dan kemandiriannya. Aku mendekati dia selayaknya pria dewasa pada umumnya. Mengajak berkenalan, komunikasi lewat telpon, kencan dan saling berbagi dalam pelajaran.


Kartika Putri adalah gadis lembut tapi sulit di dapatkan. Butuh satu tahun aku mengejarnya, akhirnya di terimanya.


Kami menjalani kisah cinta kami yang sederhana. Walau kadang aku di buat kaget dengan pakaian dan aksesoris yang serba branded tapi anehnya aku tidak pernah curiga kepadanya.


Awalnya aku pikir hubungan ini akan baik dan berlanjut. Karna kami saling melengkapi satu sama lainnya.


Pernah aku bertanya. "Apa benar tas kamu branded sayang ?"


Dengan wajahnya yang lucu dia tertawa. "kenapa dengan branded ? Tas hanyalah tas, alat membawa barang. Branded atau bukan apa masalahnya."


Sebenarnya aku kadang risih dengan orang di sekitar yang menatap dia tajam. Gadis menaiki bus dengan barang branded. Rasa penasaran aku pun ada.


Dengan enteng dia selalu menjawab seperti itu.


Sampai kami lulus dan wisuda.


Betapa kagetnya aku melihat Kartika turun dari mobil mewah nomor keluaran baru.


Dengan di apit Mama dan Papanya.

__ADS_1


Bagaikan ratu turun dari tahtanya.


Hati ku gemetar melihatnya melangkahkan kaki. Begitu anggun mengenakan kebaya serta tatanan rambut yang indah.


Di sisinya ada seorang ibu yang cantik, dengan pakaian mewah dan serba gemerlap.


Sedangkan Papa memakai jas sewaan waktu itu.


Papa tertawa saat bercerita.


Seketika aku sadar, kalau kami bagaikan langit dan bumi.


Aku anak yatim piatu tanpa sanak famili. Biaya pendidikan aku gratis, karna beasiswa.


Aku yang sedang melamun menatap Kartika di kejauhan di dikagetkan oleh seorang dosen.


Waktu itu sang dosen bilang "Wah calon mertua datang. Bos besar perusahaan Effort Factory. Tuan dan nyonya Candra." Aku menatap sang dosen dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Saat itu entah apa yang aku rasakan. Ingin lari menjauh, sejauh jauhnya dari Kartika. Tapi rasa sayang dan cinta aku padanya melebihi rasa takut dan malu yang ku miliki.


Bukan sekali dua kali kisah kami terganggu dengan pertengkaran yang gak jelas. Ya karna setiap kali Kartika tidak pernah mau bicara mengenai dirinya.


Ada banyak orang yang sering memberitahuku tentang Tika, tapi aku selalu diam saat dia bilang bukan masalah besar.


Rasa percayaku padanya seratus persen begitupun dia. Dia tak pernah mengeluh jika harus kencan hanya di sebuah taman atau makan di pinggir jalan. Bahkan dia tidak mengeluh aku memberikan hadiah yang hanya barang biasa. Itu yang membuatku semakin mencintainya.


Pada saat wisuda selesai. Aku mendapat kesempatan bekerja di perusahaan milik keluarganya yang aku tau tadi saat pengumuman.

__ADS_1


Tapi tanpa rasa canggung Tika bersikap biasa, seolah aku sudah tau dan tidak mempermasalahkannya.


Tika memanggilku. Dengan berat hati aku mendekat, jika ku menolak aku tak enak hati dengan donatur yang di sampingnya.


Dengan bangga Tika memperkenalkan ku pada keluarganya.


"Mah, Pah ini Mas Surya kekasihku."


Bukan senang hatiku mendengar ucapan itu, tapi malu. Terasa terbakar wajah ini. Aku yang tadi berjabat tangan dengan Papanya sebagai mahasiswa penerima beasiswa kini di kenalkan sebagai kekasih anaknya.


Aku ingin lari sprint terjauh saat itu juga. Ingin ku bungkam mulut manis Tika di hadapan semuanya. Semua mata tertuju padaku. Betapa jauhnya perbedaan kami.


Berbagai ucapan kotor, kejam, sudah ku persiapkan dalam pikiranku. Selayaknya sinetron yang sering ku tonton saat itu.


Pasti tidak di restui, di usir, di hina, di caci ya itu pasti, atau di tampar karna tak tau diri.


Tapi di luar dugaan, Papa dan Mamanya menerimaku. Mereka mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan denganku.


Hatiku remuk karna pikiran jahatku tentang mereka.


Mereka menerimaku, memelukku di hadapan semua orang. Tapi pikiran jahatku selalu ada. Efek film yang sering ku tonton.


Ah mungkin jaga wibawa, nanti pasti aku di usir. Tidak boleh berhubungan lagi dengan anaknya. Mungkin pekerjaan ku pun akan di hapus. Mereka memeluk hanya sebagai tanda aja.


Gak mungkin kan mereka menerima gelandangan sepertiku.


Lagi lagi aku di kagetkan dengan sikap sederhana keluarga mereka. Walau pakaian mereka bermerk dan glamor. Ternyata mereka hangat dan penuh kasih.

__ADS_1


Mereka merangkulku dengan tulus, aku di restui berhubungan dengan Tika. Ingin ku bersujud syukur kepada-nya. Karna memberiku kehangatan keluarga dari mereka.


Seiring waktu, aku terbiasa dengan keluarga Tika. Papa Mama mengganggap aku anaknya. Mereka selalu mensupport karirku, membantu setiap masalah yang baru ku hadapi. Hubungan ku dengan mereka harmonis begitupun dengan Tika.


__ADS_2