DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PENASARAN


__ADS_3

Bella memegang erat kotak yang di berikan Mama nya.


Di dalam hatinya enggan mengetahui fakta tentang ayah yang meninggalkannya.


Tapi di sisi lain, dia harus menyelesaikan amanat mamanya.


Temuin aja dulu, kalau gak di anggap ya tinggal pergi aja. Toh selama ini juga dia gak cari gw..


gerutu Bella.


kreeeat..


Tok...tok..tok..


Siapa malam gini ? apa Reza pulang.. Bella senang menantikan kehadiran Reza.


Semenjak ke villa liburan waktu itu hampir 1 Minggu ini mereka tidak bertemu.


Bella berlari menuju pintu.


Kreeeat..


Bella terbelalak melihat seseorang yang di hadapannya itu ternyata Glen.


Orang yang selama ini dia hindari.


Mau apa si ini orang.. Umpat Bella.


"Hai Bell... lagi apa ? Aku ganggu gak ? " Glen menyapa dengan wajah sok polos.


"Hai, ada perlu apa Glen ? " Bella berusaha tenang.


"aku mau ngajak kamu nonton, kebetulan aku dapat tiket promo ini beli satu gratis satu.." tawa Glen mengacungkan tiket bioskop.


Bella benar benar enggan menanggapi Glen.


" oh maaf ya Glen, aku cape mau istirahat." Bella yang masih berjaga di depan pintu.


" kami coba tanya Sisi aja, dia itu suka nonton.. mau aku tanyakan Glen.." Bella mencoba mencari cara agar bisa cepat mengusir Glen.

__ADS_1


Glen menunjukan kekecewaan di wajahnya.


Glen berusaha keras membujuk Bella.


Tapi Bella tetap menolak.


Penolakan Bella terhadap nya semakin membuat Glen terobsesi.


Kali ini Glen terpaksa pergi dengan Sisi lagi.


Tapi tekad Glen semakin kuat.


Keyakinan dirinya bahwa wanita tidak akan pernah bisa bertahan dengan lelaki yang bersikap lembut.


Bruuukkk..


Rasanya lebih cape di banding kerja lembur.


Apa si maunya si Glen itu, kalau dia tau gw Istri bosnya apa coba responnya.. Bella tertawa membayangkan bagaimana respon Glen.


Gimana ya ekspresi nya nanti.. tawa Bella meledak ketika mengkhayal raut wajah Glen nanti.


Surya Hartanto..


Nama ini membayangi pikiran Reza.


Siapa dia ?


Bagaimana orangnya ?


Dimana dia ?


Bukan Bella yang risau, melainkan Reza.


Reza mengingat satu nama tersebut.


Semakin menebak, hati Reza semakin gelisah.


Semoga aja bukan dan sekiranya ya benar gw harus gimana lagi.. Tepuk kening Reza.

__ADS_1


Kriingg..


Glen mengangkat ponselnya.


"Lo dimana sekarang Glen ? " suara di ujung telepon.


"kenapa ?" ketus Glen.


"lah Lo kenapa, ketus banget sama gw.." Reza gak terima tiba tiba suara Glen begitu ketus terdengar di telinga Reza.


Glen tersadar mendengar Reza berkata.


Apa si gw kenapa malah kesel ma dia..


"gak apa-apa Za, gw lagi mumet aja.. Lo kenapa telpon gw.. ada yang Lo butuhkan ?" Glen mengalihkan pembicaraan.


" gw butuh Lo kesini, sekalian bawa file kontruksi dari kantor pusat. Lo minta sama Renata filenya, besok pagi."


*Tuuuttt...


Ssiiit..


Enak banget nyuruh gw kesana dadakan kaya gini*.. Makiannya terdengar oleh Sisi yang sedang bersamanya.


Sisi mengangkat kepalanya mengisyaratkan Glen agar menjelaskan maksud ucapannya tadi.


" gw di suruh ke Kalimantan sama bos besok." raut wajah Glen kurang enak di pandang. Jutek, ketus dan terlihat sedang marah.


" ya pergilah.. kan bos yang minta. Ngapain Lo marah, lagipula besok bukan sekarang." timpal Sisi yang merasa muak melihat tingkah Glen.


hmmm...


Glen memalingkan wajahnya.


" bos Lo itu CEO perusahaan kita kan ? Bos Reza ?" tanya Sisi.


" iya, Lo kenal ? Dia kan gak mau ke kantor cabang tempat Lo kerja." Glen mencoba menyelidiki.


"gw kenal si, pernah liat sesekali. Kan gw belum lama di cabang, tadinya gw di pusat." Sisi tau kalau Glen ingin tau. Dan Sisi yakin Glen tau tentang Reza dan Bella.

__ADS_1


__ADS_2