DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
EDWINA


__ADS_3

Setelah dua hari aku menginap di rumah sakit, kini sudah bisa tidur nyaman di kamarku.


Rumah yang tadinya sepi, karna kami hanya bertiga dan dua pegawai rumahku.


Yang pastinya tidak akan pernah ada suara ramai walaupun ada anak anak disini.


Edward, bukan anak yang umum seperti biasanya. Entah kenapa dia menjadi tambah dingin semenjak menangani bisnis di perusahaan. Aku sudah melarangnya, tapi dia tidak pernah mendengar.


"Mommy, aku bisa. Mommy tidak percaya padaku ? Yang Mommy perlukan hanya istirahat, jaga kesehatan untuk kami. Aku gak mau Daddy kecapekan mengurus perusahaan sekaligus firma hukum. Jadi biarkan aku, anak lelaki terbesar di rumah yang membantu di perusahaan."


ucapannya saat aku memaksanya untuk tidak melakukan pekerjaannya sekarang. Aku terharu saat dia memikirkan keadaanku dan Daddy-nya.


Tapi seiring waktu berjalan, Edward yang makin tekun ikut kelas bisnis dan beberapa kali pergi ikut rapat rapat besar. Perubahan sikapnya sangat menonjol, dia benar benar berubah menjadi seorang CEO seperti di novel novel yang sering ku baca.


TOK ... TOK ...


Suara ketukan pintu mengakhiri lamunanku.


"Silahkan masuk.."


"Siang, Bella..." ucap Clara. Dia tampak gemuk, perutnya membuncit. Atau dia hamil.


"Ah, siang.. Silahkan masuk, Clara.." sapa ku.


"Selamat ya, Bella.. Kamu sudah punya bayi yang cantik banget,," dia duduk di kursi yang tersedia untuk tamu selama masa menjenguk bayiku.


"Iya terima kasih, kamu juga segeralah menikah.. Biar cepet punya bayi cantik juga.." ucapku.


"Iya, doain ya.. Semoga cepat terjadi." wajahnya lesu menatap putriku dan melirik perutnya.


"Kamu kenapa, cerita dong sama aku. Sudah di luar negri begitu lama masa mukanya malah masam." godaku sambil menepuk punggung tangannya.


"Ah, aku di sana juga bukan liburan, Bel.." dia mengusap tanganku.


"Ya cerita dong, kamu ngapain disana.. Bukannya cepat pulang kesini temani aku melahirkan."


"Iya ya, maaf ya, Bel.. Padahal waktu aku melahirkan cuma kamu yang temani." wajahnya sendu menatapku.


"Gak apa, Clara. Aku bercanda kok. Jangan serius gitu.. Lagi pula sekarang anakmu sudah sehat dan bahagia bersama ayah dan keluarganya disana. Kamu juga disini harus bahagia, jangan terus terpaku pada masa lalu." aku menepuk tepuk tangannya.


"Hem... Aku bingung, Bel."


"Kamu bingung kenapa? Cerita dong.."

__ADS_1


"Nanti deh.. Oh ya, aku dengar Edward ya yang kasih nama adiknya?." wajah sendunya berubah sedikit semangat.


"Iya, namanya Edwina.." ucapku.


"Edward dan Edwina.. Bagus bagus.. serasi namanya.." dia bangkit mengusap pipi putriku yang sedang tidur pulas.


"Iya semoga saja, sifat mereka saling melengkapi.. Kamu tahukan Edward seperti apa." aku menghela nafas.


"Iya semoga ya, biar suasana rumah ini hangat."


"Aamiin.." ucapku penuh harap.


Tak lama masuk Mas Gaga dan Mas Reza.


Mas Reza memberiku selamat dan mengusap bayiku.


Terlihat jelas dari wajah mereka berdua tampak ada sesuatu yang mengganjal.


Jiwaku yang penasaran, tak pernah membiarkan sesuatu luput begitu saja.


"Mas Reza, kapan kalian meresmikan pernikahan.. Jangan lah terus menggantung, Clara. Apalagi coba yang di tunggu, wanita itu butuh kepastian, Mas. Capek lama lama menunggu nanti di tinggal menyesal, Mas." ucapku dengan godaan dan senyuman.


"Ini juga lagi persiapan kok, Bel.. Tapi.." Mas Reza menghentikan ucapannya dan menatap Clara yang menundukkan kepalanya.


"Rahimku bermasalah, Bel. Aku harus menjalani pengobatan dulu." ucap Clara.


"Apa!!! Semoga bukan masalah besar." aku menutup mulutku dengan kedua tanganku.


Mas Gaga mendekatiku, dia memberiku susu kurma yang selalu harus ku minum setiap tiga jam. Karna sebentar lagi pasti bayiku yang gembul bangun.


Glek ... glek ... glek ...


"Clara harus melakukan pengangkatan rahim secepatnya, tapi dia sedang mengandung. Kanker di rahimnya sudah menyebar." bisik Mas Gaga padaku sambil membelai rambutku.


"Ya Allah..." aku menatap wajah Clara yang sendu menatap putriku begitu pula Mas Reza.


"Jika mereka memaksa melahirkan, kemungkinan tidak akan sampai usia persalinan. Dan kemungkinan besar nyawa mereka berdua juga terancam. Tapi Clara atau pun Reza sangat ingin memiliki anak, begitupun kedua orang tua Reza. Kamu tau itukan.." sambung Mas Gaga dengan suara pelan dan lembutnya.


Aku mengangguk.


Ya aku tahu betul, Om dan Tante Abraham sangat menginginkan Cucu yang bisa mereka rawat. Mereka sudah memiliki seorang cucu dari Mas Reza, tapi mereka tidak bisa merawat dan menyanyanginya dengan terbuka. Padahal Edward sudah tau identitasnya, tapi Edward selalu berkata bahwa dia lebih nyaman tinggal bersama aku dan Mas Gaga. Dia sama sekali tidak mau menginap di rumah Oma dan Opa nya.


Apalagi sikap Edward yang memang dingin, Om dan Tante sulit mengekspresikan perasaan mereka terhadap Edward. Dia tidak suka mainan, bahkan saat di ajak bermain pun dia hanya diam.

__ADS_1


Aku merasa kasihan kepada mereka, Clara di tinggal anaknya bersama ayahnya. Sedangkan Mas Reza dapat pengakuan ayah tapi tidak pernah di perlakukan seperti ayah oleh Edward.


Entah ini cobaan hidup apalagi yang mereka jalani.


"Hem... Clara mau gendong, Edwina?." kebetulan putriku sudah bangun, sesuai alarm Daddy-nya yang memberi Mommynya susu, dia pun langsung bangun.


"Hah, bolehkah, Bel?." tanyanya menatapku penuh harap.


"Bolehlah.." ucapku.


"Huft..." dia menghirup nafas panjang, keraguan terlihat di wajahnya. Rasa ingin dan rasa takutnya terlihat jelas di wajahnya.


Clara seorang ibu, tapi dia belum pernah merawat sendiri anaknya. Bahkan di masa lalu, dia sangat kejam terhadap putranya sendiri. Aku yang teringat itu tiba tiba bergidik dan menggelengkan kepalaku.


"Kenapa, sayang." tanya Mas Gaga khawatir melihatku.


"Ah, gak apa, Mas. Hanya sedikit pegal." aku menepis rasa yang tiba tiba hadir menyeruak dalam benakku. Begitu mengerikan rencana Allah, ketika dia di beri tapi tidak menginginkan dan bahkan menelantarkannya. Tapi sekarang dia sangat menginginkan, tapi Tuhan tidak memberikannya dan bahkan tidak mengijinkannya lagi.


Mas Gaga memijat pundakku yang sedikit pegal karna terlalu lama bersandar. Ini bukan bualan ya, ini memang kenyataan. Hehe


Mas Reza pun begitu antusias mengendong putriku. Mereka tersenyum bahagia menatap putri kecilku yang lucu. Memang benar Edward bilang, Edwina akan membawa keberuntungan dan kebahagiaan.


"Mau aku foto, kalian?. Pose ini bagus deh.." aku memberi kesempatan kepadanya agar memiliki suatu keinginan dan harapan kembali dalam hidup saat melihat foto mereka bertiga.


"Ah, benar gak apa, Bel?. Ini kan putrimu, kami..." Clara saling lirik dengan Mas Reza dan menatap kembali putriku.


Aku menatap Mas Gaga, tanpa aku bersuara Mas Gaga seakan paham maksudku.


Dia mengangguk dan mengambilkan ponselku di atas laci.


"Gak apa, kan cuma foto. Memang anakku mau kalian bawa.. Kalau begitu, siap melawan Daddy dan kakaknya dulu dong.." godaku sambil tertawa. Mereka tertawa kecil dan mengangguk.


"Siap, ya... 1... 2 ... 3 ..."


Fotonya bagus sekali, pose mereka seperti keluarga baru. Semoga Allah memberikan kabar baik setelah ini.


"Aku kirim ke kalian, ya. Nanti di cetak aja.. Kalau kangen bisa lihat kesini dan juga nanti kalau anak kalian lahir, bisa kenal sama kakaknya yang cantik ini." godaku.


Tapi wajah mereka kembali sendu, "Hem.. Apapun harapan kita, cuma Allah yang bisa mengabulkannya. Apapun kenyataan di dunia, hanya Allah yang mampu merubahnya. Kalian harus percaya dan yakin pada Allah." sambung ku.


"Makanya, segeralah menikah. Hidup dengan halal lebih baik dari segalanya." ucap Mas Gaga.


Mereka mengangguk.

__ADS_1


__ADS_2