
Minggu ini masa di mana hatiku was was. Sang buah hati perkiraan Minggu ini lahir.
Rumah Sakit PERMATA
Di tempat ini aku melahirkan, jauh dari keluarga dan ayah dari anakku.
Di ruang bersalin hanya ada para medis dan Mas Gaga yang ikut mondar mandir cemas dari tadi.
Aku yang mau melahirkan, dia yang berkeringat dingin.
Aku yang di infus, dia yang memejamkan matanya.
Aku yang kesakitan, dia yang teriak teriak panggil bidan dan dokter.
Aku malah jadi lucu lihat tingkahnya, rasa sakit ku tak terasa karna gemasnya.
"Dokter! Suster siapapun tolong ke sini, ada darah di selang infus." teriaknya panik.
Ruangan bersalin di rumah sakit ini belum mewah dan belum senyaman rumah sakit di kota besar. Masih harus memanggil dengan suara dokter atau suster jaga, belum ada bell.
__ADS_1
Aku terkekeh kecil melihat Mas Gaga yang panik. Padahal ini hal wajar saja, aku banyak gerak karna rasa sakit kontraksi di perutku.
"Iya Pak, ada apa?" salah seorang bidan yang menangani ku setengah berlari mendengar teriakan Mas Gaga.
"Ini Sus, ada darah." tunjuk nya ke arah selang di tanganku, wajahnya tegang pucat. Bisa bisa dia yang pingsan aku yang melahirkan.
Aku tersenyum ke arah bidan yang datang.
"Oh ini gak apa-apa, Pak. Ibunya banyak gerak ya, jadi darah naik. Sebentar saya benarkan, ya." ucapnya dengan nada menenangkan Mas Gaga. Aku melihat seutas senyum di wajah bidan tersebut.
Mungkin di dalam hatinya tertawa.
Bidan itu mengangguk, "benar Pak, kecuali ibunya mengeluarkan darah dari jalan lahir. Itu harus segera di tangani, karna takut ada kelainan. Sedangkan jika cairan yang keluar, tenang saja itu bertanda proses persalinan bisa di mulai. Dan Bapak bisa segera memanggil kami kembali, ya." membenarkan selang infus.
"Sekarang darahnya sudah hilang ya, Pak. Bapak harus tenang, rasa sakit yang ibu alami itu wajar dan sangat wajar. Itu rasa alami yang di alami saat kontraksi. Bapak bisa mengelus dan membantu memberikan pijatan lembut di pinggul ibu, ya. Itu bisa memberikan rasa nyaman untuk ibunya."
Mendengar bidan menjelaskan, aku malah fokus kepada wajah Mas Gaga yang tegang kaku. Matanya membulat, bibirnya menganga.
Yang pastinya dia panik dan bingung, dia di minta mengelus pinggulku, sedangkan dia bukan suamiku. Wajahnya serius mendengarkan penjelasan dan nasihat nasihat bidan. Tangannya mulai mengikuti nalurinya, dia memijat kakiku dengan lembut. Aku sedikit kaget dan malu, seharusnya suamiku yang di sini tapi apakah akan seperti ini juga perlakuannya jika dia di sini mungkin, mustahil. Karna sikapnya sudah tidak ku kenali semenjak dia membawa pulang kekasihnya.
__ADS_1
"Di sini, Sus." Mas Gaga memijat telapak kakiku. Merelaksasi otot otot seperti yang bidan itu katakan.
"Iya benar, Pak. Bapak bisa membantu memiringkan ibu jika keluhan kontraksinya semakin kuat dan mengusap pinggulnya. Atau membantu ibu berjalan kecil di ruangan, berjongkok tapi jangan di paksa jika kondisi ibu tidak memungkinkan ya, Pak. Yang terpenting, Bapak harus tenang dan juga menenangkan ibunya. Agar kesiapan mentalnya full dalam persalinan nanti, ya."
Mas Gaga mengangguk angguk antusias.
"Berapa lama lagi melahirkan, Sus?"
Aku terkejut dengan pertanyaannya, dia sudah tidak sabar atau sudah tidak tahan dengan tekanan.
"Tunggu pembukaan full ya, Pak. Pembukaan 10 dan cairan ketuban pecah. Saat itulah jalan lahir terbuka, maka baby siap keluar." wajah bidan tersenyum begitu manis.
"Sekarang sudah pembukaan berapa, Sus. Saya sudah tidak sabar melihatnya lahir dan menggendongnya."
Aku tersenyum dan menahan tawaku. Harusnya ini adalah pertanyaan aku layangkan, kenapa jadi Mas Gaga yang mengambil alih semua tugasku. Sudah mendalami peran sebagai Papa rupanya.
Bidan itu tertawa kecil, "sabar ya, Pak. Baru pembukaan tujuh, masih ada tiga lagi. Jika cepat gak sampai satu jam, tapi jika prosesnya lama mungkin lebih. Itu hal alami yang tidak bisa dilakukan apapun untuk mempercepatnya."
Wajahnya sedikit muram, "baiklah tidak apa, Sus. Sebentar lagi pasti lahir, saya yakin gak akan sampai satu jam." tiba tiba tangan Mas Gaga mengusap perutku. Aku kaget dan merinding merasakan sentuhannya yang lembut dan hangat.
__ADS_1