
Menetes air mataku, haru dalam hatiku mendengar beliau mengatakan "putriku".
Aku gak tau sudah di terima atau belum di hatinya. Tapi cukup dengan ucapan itu pun hatiku sudah berbunga bunga.
Mas Reza berusaha sekali untuk keinginanku, merasakan menikah dengan di saksikan seorang ayah. Memiliki pendamping adik adikku di sisiku.
"Terimakasih, sayang. Kamu telah memberiku kebahagiaan yang berlipat." aku membisikan ucapan terimakasih dan mengecup tangan suamiku, Mas Reza.
Papa melirikku, aku tersenyum manis menatapnya.
Cepat pa, panggil aku.. ku mohon..
"hmm.. memangnya, Bella berkenan menerima aku papanya ?" ucap Papa Surya lirih.
Mas Reza dan Tante menatapku penuh tanya, begitupun dengan Davina yang mengganggap ku ingin merebut rumahnya.
Aku tersenyum haru mendengar papa mengucapkan kalimat itu dan melihat raut wajahnya yang berharap.
"Apakah Anda mau menerima saya sebagai seorang anak ?" ucapku sedikit meninggi pada papa.
Wajah papa Surya merona merah. Davina nampak kesal, entah apa yang membuat dia kesal.
"Aku tak bisa berharap kalau Bella mau menganggap ku sebagai, papanya. Terlalu banyak kesalahan dan kelalaian yang aku lakukan. Dan terlalu terlambat untukku memohon maaf kepadamu dan Mamamu." wajahnya pucat dengan butiran air di matanya.
"Ya memang terlalu jauh terlambat untuk meminta, maaf. Dan juga terlalu naif jika ingin, aku akui." memasang wajahku yang sinis serta mengalihkan pandanganku.
"Sayang," Mas Reza menyentuh bahuku.
"Kenapa Mas, apa ucapku salah ?". aku menatap wajahnya yang penuh dengan ketegangan.
"Bagaimana dengan, anda. Apa menurut anda saya salah." tanyaku pada Papa.
"Bella, cukup. Kamu jangan kurang ajar." Davina tersulut emosi tapi tidak dengan Papa.
__ADS_1
"Dav, tak apa nak." Papa mengenggam tangan Davina di atas meja. Menahan tangannya yang hendak melayang ke arah pipiku.
"Bella, jangan lupa kamu yang menginginkan Papaku menjadi saksi di pernikahanmu nanti. Jika kamu masih bersikap kurang ajar, maka aku tidak akan mengizinkan Papaku menghadiri pernikahan kalian, mengerti."
Tante Rina menghentakkan gelas ke meja membuat kami semua menoleh kepadanya.
"Davina kamu jangan lupa, kalau Bella juga darah daging dari Papamu. Yang merupakan Kakak untukmu. Sangat wajar seorang ayah yang masih hidup untuk menikahkan anaknya, malah itu adalah kewajibannya." Tante angkat bicara.
"Apalagi yang bisa Papamu lakukan untuk Bella selain memberinya rasa sakit ? Bersyukur lah Bella masih memberikan satu kesempatan untuk papamu menikahkannya, sebagai arti kalau dia masih menganggap memiliki seorang papa."
Aku melirik papa yang menangis tanpa suara.
Rasa tak tega di hatiku melihatnya pilu.
Yang ku inginkan, papa memelukku erat dan memanggilku putrinya.
Entah apa yang di rasakan olehnya, sehingga dia hanya diam dan menangis.
"Cukup, jika memang anda tidak memang tak menginginkan aku memanggil Papa terhadap anda, maka itu tidak akan aku lakukan." bentak ku.
Matanya memerah, hidungnya merah, pipinya basah dengan air mata.
Aku bangkit dari tempat dudukku.
Tanganku di tahan Mas Reza.
Mata nanar Davina menyengat ku.
"Tunggu, Bella. Apakah aku boleh mengakui anakku ?" wajahnya melas dengan penuh harapan.
"Lantas, jika aku tidak di akui. Apa aku ini harus, mengakui ?"
Matanya berbinar mendengar ucapan ku.
__ADS_1
"Apakah benar, Bell. Kamu mengakui aku papamu ?"
"Sekali lagi, aku disini meminta anda sebagai saksi di pernikahan ku. Apakah itu bukan bukti aku mengakui anda." tuding ku.
Papa menangis, mendekap kedua tangannya dan memejamkan mata.
Dia mengucap doa tanpa kita semua dengar.
"Terimakasih, putriku."
DEG ... DEG ...
Coba ulangi aku ingin dengar, lagi.
Aku mencoba menahan air mataku.
Tubuhku tremor, Mas Reza mengeratkan genggamannya.
Aku menepis tangan Mas Reza, aku berlari mendekati Papa.
Ku peluk erat tubuh Papaku, Papa yang selama ini ku cari, yang setiap hari ku dengar cerita tentangnya dari Mama.
Yang selama ini di banggakan oleh Mama.
Dia Papaku, dia orang tuaku.
Aku punya Papa bukan, yatim piatu.
Terimakasih ya Allah, atas rasa ikhlas yang kau tanamkan di hatiku. Kini aku merasakan bahagia memiliki seorang Papa.
Papa membalas pelukanku dengan erat. Aku menangis dalam pelukan Papa, begitupun dengan beliau.
"Maafkan papa, nak. Maafkan papa. Papa malu untuk mengakui diri ini sebagai papamu. Papa yang telah banyak melukaimu. Maafkan, nak."
__ADS_1
Aku mengangguk anggukan kepala ku.
"Yang lalu, biarlah berlalu Pa. Aku cukup bahagia memiliki keluarga. Aku hanya menginginkan memiliki keluarga."