
Benar kata pepatah, "Habis gelap, terbitlah terang".
Masalah yang membuat kepalaku pusing, hatiku risau tak menentu. Kini tergantikan dengan kabar bahagia, aku hamil anak Mas Gaga.
Dengan riang aku mengenggam erat hasil tes kehamilanku.
Aku sudah tak sabar melihat reaksi dari Mas Gaga nanti.
KRING ...
"Hello, Mas. Mas di rumah?" tanyaku.
Terdengar suara Edward yang sedang tertawa, aku yakin mereka di rumah.
"Iya kenapa, sayang? Kamu sudah selesai meeting." tanyanya dengan suara setengah tertawa.
"Sebentar, sayang. Mommy lagi telpon ya.." suaranya bergetar. Mungkin lagi bercanda bersama Edward. Memang Edward kalau bercanda suka kelewatan, pernah sampai aku ngompol gara gara gak tahan geli.
"Ada apa,, sayang.." suaranya terengah-engah.
Aku tertawa mendengar suaranya yang berat.
"Abis apa kamu, Mas. Nafasnya berat gitu.." ledekku.
Dia tertawa, "Abis buat adik bayi sama Edward. Kepalanya biru badannya pink." tuturnya membuat aku tertawa geli.
"Wah hebat dong, gak sabar mau lihat. Aku sudah di jalan, Mas. Nanti kita bicara di rumah ya." ucapku.
"Iya sayang, hati hati ya." ucapnya memutus panggilanku.
Aku memarkirkan mobilku, suasana rumah sepi. Di mana mereka, main?.
KLIK ...
"Wah ...." tiba tiba Edward muncul di sela sela pintu. Membuat jantungku serasa loncat keluar. Anak ini benar benar selalu punya cara membuat suasana ramai.
Aku terpaku mengelus dadaku dengan menggelengkan kepalaku.
Mereka tertawa bersama, ternyata suamiku juga jadi satu komplotan dengan anaknya.
Aku menepuk bahu Mas Gaga dan meraih tubuh Edward.
Mencubit hidungnya dengan sedikit kasar, "Kamu ini ya, gak ada habisnya kejahilan kamu itu." dia meringis kesakitan.
__ADS_1
"AW, Mommy sorry. Cuma sedikit surprise aja kok untuk, Mommy." bantahnya.
Aku mengangguk angguk kepalaku, " Ya ya ya, hanya sedikit surprise. Tapi bagaimana kalau Mommy punya penyakit jantung dadakan? BRAK aja Mommy jatuh pingsan, hayo siapa yang akan menyesal!." aku menatap matanya.
Wajahnya sendu, dia menundukkan kepalanya. "Sorry, Mommy. Aku janji gak berbuat seperti itu lagi, lain kali." dia memberikan jari kelingkingnya untuk membuat janji. Duh manisnya...
"Baiklah, kali ini Mommy maafkan." aku melingkarkan jari kelingkingku pada jarinya.
Dia kegirangan, memelukku dan mencium pipiku.
"Sekarang, giliran Daddy yang Mommy hukum." aku menatap suamiku yang tepat ada di sisiku.
"Kok Daddy juga, Mommy? Daddy kan cuma bantu aja, Mom." rayunya sambil mengusap kepalanya di bahuku.
"Gak mau tau, karna Daddy membantu Edward di jalan yang salah. Maka Daddy juga harus di hukum." ucapku dengan nada di buat seolah kesal.
"Ah.. Mommy jangan hukum Daddy, sorry Mommy Daddy janji gak, lagi." rengekkannya meniru Edward. Hampir saja aku tertawa.
"Ambil terong di tas Mommy, Dad." pintaku.
Mas Gaga merogoh tasku dan mengeluarkan terong.
"Ini untuk apa, Mom?" tanyanya dengan respon sedikit geli.Ya aku tau betul, dia tidak suka dengan terong.
"Mom, please yang lain aja ya. Kok Mommy kayanya niat banget hukum, Daddy?." bujuknya sambil bergelayut di tangan ku.
Edward yang ada di pangkuanku ikut memeluk tubuhku dan mengusap kepalanya pada dadaku.
"Mommy, sorry. Daddy gak salah, Mom. Aku yang maksa Daddy, kasian Daddy Mom. Jangan makan itu ya, Mom. Yang lain aja, ya." bujuknya. Dia ikut membujukku demi Daddy-nya. Wah kalian luar biasa, aku kalian kerjain sampai gemetar tubuhku. Sekarang lihat, kalian kompak juga membujukku.
"Apa Edward juga mau makan, terong?." ucapku menatap matanya.
Dia dengan cepat menggelengkan kepalanya.
"No, Mom." ucapnya sambil melirik Daddy-nya.
"Ya sudah kalau tidak mau, maka dari itu Daddy yang harus memakannya. Silahkan Daddy, mulai." aku menatap wajah suamiku tajam.
"Apa harus sampai seperti ini, Mom." dia masih membujukku demi Daddy-nya sambil mengusap punggungku dalam pelukannya.
Daddy-nya tersenyum melihat tingkah putranya yang membela dirinya.
"Coba aja dulu, kalau memang Daddy gak sanggup ya sudah." ucapku.
__ADS_1
"Daddy..." lirihnya menatap wajah Daddy-nya penuh kasih.
Aku seperti ibu tiri yang kejam saat ini, melihat wajah sedih putraku membela Daddy-nya. Yang seakan melawan kematian, padahal hanya untuk mengigit sebuah terong.
"Sayang, kita bersalah. Maka kita harus bertanggungjawab. Apa yang kita perbuat, semua ada balasannya. Maka dari itu, bijaklah sebelum melakukan apapun ya, Nak." nasihat Daddy-nya. Dia mengangguk lemah. Aku tersenyum melihatnya, yang memang inilah pelajaran dan contoh yang aku berikan kepada Edward di setiap tingkahnya yang kadang di luar kendali.
Sangat di wajar kan, anak usia empat tahun untuk aktif, enerjik dan penuh rasa penasaran. Otaknya sedang berkembang dengan imajinasi serta rasa percaya dirinya. Tapi itu tidak menutup untuk kami memberinya contoh nyata di setiap tindakannya.
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Mas Gaga mengigit terong yang ku berikan.
Dengan mata terpejam dia berhasil memotong terong dengan gigitannya.
Saat Mas Gaga hendak mengunyah potongan terong tersebut di hentikan oleh Edward.
"Tunggu Daddy!!." teriaknya.
Mas Gaga kaget dan membuka matanya. Melihat Edward menunjuk terong yang di tangannya, dia pun melihatnya.
"Oh astaga, ini apa ?" dia melihat tespeck yang ku tanam di dalam terong. Dia melirikku, aku diam saja.
"Ini.." dia mengambilnya dan menatap dengan seksama.
"Ini sungguhan, sayang?." dia meletakkan terong di atas meja dan menatap mataku dengan berbinar-binar penuh harap.
Aku mengangguk kecil.
"Alhamdulillah..." Mas Gaga bersujud dan memanjatkan doa kepada Sang pencipta.
Dia beralih memelukku dan menciumi wajahku hingga basah. Edward yang kebingungan hanya menatap tingkah Daddy-nya dan ikut menciumiku.
"Sayang, kamu mau punya baby, Nak. Ini Mommy punya baby." Mas Gaga menunjukan tespeck pada Edward yang aku yakin tidak paham.
Aku tertawa, "Mas.. Edward masih kecil, dia gak mungkin paham dengan alat itu." tunjuk ku pada tespeck di tangannya.
"Iya bener, sayang. Daddy lupa, Nak." dia mengecup kening putranya yang masih bengong.
"Edward, sekarang di perut Mommy ada adik baby nya Edward. Edward sekarang sudah jadi kakak, Edward mau kan jadi kakak?." tanyanya penuh kasih sayang sambil mengusap perutku yang masih rata.
"Aku mau adik baby, tapi di mana adik bayinya , Dad?." Edward mencari adik baby-nya. Dia belum paham dengan Daddy-nya yang mengusap perutku.
"Di sini, sayang." ucapku. "Adik baby-nya masih di sini, dia masih kecil sekali. Jadi Mommy harus menjaganya dalam tubuh, Mommy. Kakak Edward mau kan jaga adik baby-nya juga?." tanyaku sambil menuntun tangan mungilnya mengusap perutku.
__ADS_1
Dengan semangat dia mengangguk angguk dan terus meraba perutku, mungkin di alam pikirnya masih mencari cari di mana adik baby-nya itu.