DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEKACAUAN


__ADS_3

Davina datang kerumah Bella. Dia meminta Glen pun hadir di rumah Bella.


Ada Tante Rina serta Reza.


Mereka di kumpulkan oleh Davina.


Wajah Glen nampak tidak suka dengan sikap Davina, tapi di tahannya karna melihat tatapan Bella.


Mereka berkumpul tanpa tau sebabnya.


"Terimakasih semua sudah mau kumpul. Aku sebelumnya minta maaf karna sudah mengganggu waktu kalian yang berharga." Davina menatap Glen. Karna dia tau Glen tak suka dengannya.


"Aku disini mau menghilangkan wajahku. Meminta hal yang tak mungkin dan sangat memalukan." suaranya bergetar.


Tante Rina dan Bella saling bertatap. Reza mengangkat alisnya.


"Aku meminta dengan sangat, sangat berharap kalian memaafkan Papaku yang artinya Papa kalian juga."


Deg


"Ini anak enaknya diapain si, seenaknya ngatur ngatur hidup orang." Batin Glen.


Glen membuang mukanya.


Bella masih dalam posisinya.


"Dengan alasan apa kami harus memaafkan Papamu Dav ?"


Pertanyaan yang keluar dari mulut Bella sungguh di luar pikiran Davina. Kalau yang bicara adalah Glen mungkin. Tapi ini Bella.


Ada apa ? kenapa dia berubah seperti ini ?


Davina menatapnya.


"Karna dia Papa kita semua." ujarnya.


Bella bersandar pada kursi.

__ADS_1


"Ya, dia papa Surya. Papa kita semua. Lantas kenapa ? Apa yang harus kita maafkan. Kesalahannya ? Dosanya ? atau apa ?" Bella melipat kedua tangannya.


Tante Rina dan Glen saling bertatapan. Tak menyangka dengan sikap Bella yang selama ini lembut dan patuh, berbeda dengan kini ketegasannya keluar dari raut wajah serta ucapannya.


"Ya, benar. Biar bagaimanapun dia adalah papa kita mbak." Tegas Davina tak mau mengalah.


Bella mengangkat tangannya.


Sontak semua orang kaget. Termasuk Reza disisinya.


"Tunggu, mbak ? kamu panggil saya apa, mbak ? kapan saya mengakui kamu adikku ?"


Duar..


Bagai petir menyambar.


Perih hati Davina mendengar ucapan Bella.


Kemana Bella yang dia kenal beberapa hari ini ?


Kemana Bella yang memintanya memanggil "mbak" kepadanya ?


Mata Davina berkaca kaca.


Bukan hanya Davina, Tante Rina, Glen serta Reza pun kaget.


Mereka mendengar sendiri saat Bella meminta Davina memanggilnya mbak.


Ada apa dengannya ?


Mereka saling bertatapan.


Menatap bergantian keduanya.


Davina menangis.


Berbicara dengan hatinya.

__ADS_1


Hari ini apapun yang terjadi, aku harus bicara. Demi Papa.


"Kalian boleh membenciku. Kalian boleh tidak menganggap ku. Tapi ku mohon, maafkan Papa. Demi Mama Kartika dan Sinta."


Brak


Bella memukul meja di hadapannya.


Nanar mata Bella membuat merinding seisi ruangan.


Dingin keseluruhan tubuh Davina tapi panas membara di hati Bella.


"Jangan pernah menyebut apapun demi Mamaku. Kamu bukan siapa-siapa untukku. Siapa kamu sampai berani bicara demi Mamaku ? Mamaku tak perlu kau kasiani." bentak Bella.


Reza meraih tangan Bella.


Di genggaman erat tangannya. Memberikan ketenangan untuk Bella. Tante mendekati Bella. Di elus bahu Bella.


Bella menatap wajah Tante Rina.


"Dia bilang apa tan, demi Mama aku harus memaafkan bajingan itu ?" Bella menunjuk Davina.


Davina memejamkan matanya.


"Karna mereka, Mama Sinta pendarahan dan meninggal. Karna mereka Glen hidup tanpa mengenal orang tua dan keluarganya." Bella menatap Glen.


"Karna mereka, Mamaku hidup sebagai guru dengan gaji minim. Karna mereka aku hidup tanpa seorang Papa. Tanpa mereka aku harus menjalani hidup dalam panti asuhan."


Menatap lurus ke arah Davina.


Davina hanya menunduk. Dia tahu betul kenyataan itu.


"Kamu yang tenang sayang, dengarkan dulu maksud Davina. Kenapa kamu seperti ini, ini bukan kamu sayang." Reza membawa tubuh Bella dalam pelukannya.


"Iya mbak, jangan mengotori hati mbak." pinta Glen.


"Apa maksud dari kekacauan semua ini Dav ?" tanya Tante.

__ADS_1


Davina menggeleng. "Aku gak berniat membuat kekacauan. Aku hanya ingin kalian memaafkan Papa." Davina menyodorkan rekaman yang dia siapkan.


Di raih oleh Tante. Dan di putar.


__ADS_2