DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
PENYELIDIKAN


__ADS_3

Papa Surya tidak gentar. Walau dia sedang risau tapi ambisinya tidak menutup ketakutannya.


Informasi dari berbagai sumber daya dia dapatkan.


Sedikit apa pun di tampungnya.


Tok..tok


"Selamat siang pak.." Seorang lelaki yang di perintahkan mencari siapa sang waris itu.


"Apa yang di temukan ?" tanya Papa Surya.


Lelaki itu menyerahkan file berisi foto foto.


Papa Surya melihat dengan seksama.


"Dia bukan Kartika." Bentak Papa Surya.


Lelaki itu mengangguk.


"Lalu untuk apa kau bawa ini kesini.. Bodoh." Maki Papa Surya.


"Saya mendapatkan informasi, bahwa anak dari ibu Kartika meninggal dan anak ibu Sinta lah yang di angkat jadi anak beliau." ucapnya.


"Gak mungkin lah.. Sinta ! Tidak mungkin Kartika akan memberikan semuanya kepada anak Sinta." bantahnya.


Karna Papa Surya tau beberapa aset milik Sinta di pindahkan atas nama dirinya.


Papa Surya merenung setelah lelaki suruhannya pergi.


"Tidak mungkin Sinta balas dendam dengan mengadukan nasibnya ke Kartika. Dan Kartika membantunya." Menopang dagunya dengan tangan.


"Tidak akan mudah membujuk Kartika, apa karna anak Kartika benar benar meninggal sehingga menyetujuinya."


"Ini di luar penalaranku, hal ini mustahil. Aset Sinta lumayan banyak. Walau tak sebanding dengan Kartika, kenapa harus pakai identitas anak orang lain."


"Apapun itu harus ku awasi pergerakannya. Aset Sinta sudah ku alihkan atas namaku sendiri."

__ADS_1


Gumannya.


"Penyelidikan ini tidak cukup satu orang , aku harus cari yang lebih bagus lagi."


Papa Surya bangkit dari tempat duduknya mengambil ponselnya.


Menghubungi seseorang di lain tempat.


"Oke, Kerjakan dengan bagus. Jika benar hasilnya. Bersihkan semua dengan cara apapun. Mengerti." perintahnya.


***


Glen mulai masuk dalam rencana Bella.


Glen yang sudah lebih banyak mengerti dengan bisnis. Mulai melakukan beberapa proyek dalam perusahaan alm. Mamanya Bella secara tertutup.


Beberapa orang yang mensupport kembalinya sang waris di dalam perusahaan membantu Glen mendapatkan beberapa proyek.


Papa Surya yang sibuk menyelidiki siapa sang waris, sampai tidak fokus dengan perusahaan.


Tanggal yang di tentukan oleh sang waris akan hadir di perusahaan membuat sang Papa terus berusaha mencari informasi dan mencoba berbuat apapun agar sang waris tidak bisa hadir.


Davina di buat sibuk mendekati Reza.


Dan beberapa kali dengan sengaja Bella mendekatinya.


Bella duduk di kursi sudut sebuah cafe.


Brak..


"Ada apa kamu mau ketemu sama aku." Davina menjatuhkan tasnya di meja.


Bella menoleh dan tersenyum.


"Duduklah dulu Dav.." pinta Bella dengan ramah.


Davina menuruti Bella.

__ADS_1


"Mau minum apa ?" tanya Bella memberikan menu pada Davina.


"Anericano aja." pintanya. Di anggukan Bella.


Bella memanggil pelayan dan memesankan minum untuk Davina.


"Akhir akhir ini kamu sibuk ya Dav ?" tanya Bella memecahkan kecanggungan.


"Ya begitulah." jawab seadanya.


"Sebenarnya kamu ada keperluan apa cari aku ?" Davina tidak sabar dengan tujuan Bella.


"Minum kopi." Bella mengacungkan gelasnya.


Ssiiit..


Davina mendesit kesal.


Bella tertawa melihat Davina. Ada rasa kasian dan kesal di hatinya.


Kasihan dengan hidupnya yang seperti boneka Papanya. Kesal karna dia tak mau berontak dan terus mengikuti keinginan Papanya yang diluar kendali.


Bella melihat pipi Davina sedikit bengkak sebelah dan ada memar disana.


Hati Bella terenyuh melihatnya.


Pasti perbuatan Papanya. guman Bella.


"Gimana dengan pertunanganmu Dav ?" Pertanyaan Bella membuat wajah Davina berubah sendu.


"Kenapa kamu bertanya itu, apa urusannya sama kamu." bantahan Davina.


"Aku berharap apapun itu, masalah apapun yang sedang di hadapi. Kalian saling mencintai semoga bisa bersama." Bella mengenggam erat tangan Davina.


Davina tersentuh dengan sedikit ucapan Bella. Air mata yang tak bisa di paksa berbohong keluar begitu saja.


Membuat Davina berusaha mengusap matanya dan menghilangkan polesan make up yang menutupi lebam di pipinya.

__ADS_1


"Boleh aku tanya kenapa pipimu Dav ?" lirih Bella. Hendak menyentuh pipi Davina. Tapi di tepis Davina.


"Bukan urusan mu." tukasnya.


__ADS_2