DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KECUT


__ADS_3

Malam ini menginap dirumah Papa untuk yang pertama kalinya.


Aku tidur di kamar bayi yang di sediakan Mama. Ada kasur tidur untuk satu orang.


Aku berbincang dengan Mas Reza melalui telpon.


"Mas nanti kalau punya anak, boleh gak aku tinggal disini." ucapku asal.


"Hah, coba kamu ulang."


"Mas kalau sudah dengar, gak usah di ulang."


"Seenak itu kamu putuskan untuk tinggal disana. Aku gak mau. Cukup malam ini aja gak ada malam, malam berikutnya."


Aku tertawa kecil mendengar suamiku kesal.


"Emang kenapa si Mas, kan aku baru ketemu Papaku. Wajar kan kalau aku ingin menghabiskan waktu bersama." godaku.


"Aku gak mau ngulang untuk yang kedua kali, sayang. Aku gak bisa tidur ni." rengekan.


"Ya sudah aku matikan telponnya biar kamu, tidur." kami terbiasa tidur berpelukan, bahkan bukan dia aja yang gak bisa tidur aku pun sama.


Aku sudah bergelimpangan kesana kesini, tapi mata sulit sekali terpejam.


Selama 2 tahun belakang ini kami terbiasa satu sama lain. Bahkan bau ketiaknya adalah obat penenang bagiku. Setiap malam tidur nyenyak karna bau ketiaknya yang, kecut.


Aku mencoba mengirim pesan pada Mas Reza.


Alih alih menggodanya, padahal aku sendiri susah tidur.


"Mas.."


TRIING ...


Wah langsung di balas. Aku tersenyum sumringah.


"Kenapa, sayang. Kamu belum tidur ?"


"Aku baru mau tidur, Mas. Mas sendiri belum tidur ?"


"Mas lagi ngecek persiapan pernikahan kita, sayang. Takut ada yang kurang."


"Hmm.. jangan bergadang, Mas."


"Gak, sayang. Kamu tidur sana, besok Mas jemput ya sekalian mau coba daftar makanan untuk tamu."


"Iya, Mas."

__ADS_1


Tok .. tok ... tok ...


Siapa malam malam getok pintu.


Kreat ....


"Oh Davina, ada apa ?"


Kaget aku, tengah malam kaya gini mau apa dia keluyuran.


"Boleh aku masuk, Mbak ?" Davina melirik tempat tidurku.


"Hmm, ya masuklah."


"Ada apa ?" kami duduk di sudut tempat tidur.


"Gak apa, Mbak. Aku yakin Mbak gak bisa tidur, kan ? Makanya aku kesini, boleh."


Dia tau aku gak bisa tidur. Pengertian sekali.


"Ya, aku lagi chatting sama Mas Reza soal pernikahan. Jadi belum tidur." dalih ku.


"Memang pernikahan Mbak belum siap semua ?"


"Belum, tinggal masalah catering aja yang belum."


Davina mengangguk angguk.


Ada apa dengannya.


"Kenapa, ngomng aja Dav ?" tanya ku penasaran.


"Aku dan Papa pake seragam gak di acara pernikahan, Mbak?" wajahnya merah dan menunduk malu.


Aku gemas melihatnya, pingin ku cubit pipi chubby nya.


"Hmm, sepertinya gak Dav. Soalnya seragam sudah di pesan untuk semua, keluarga."


Wajahnya sendu, ada raut kekecewaan di baliknya.


"Kenapa Dav ?"


"Hmmm, gak apa Mbak. Semoga acaranya lancar ya mbak." walau berkata seperti itu, jelas sekali wajahnya muram.


"Iya terimakasih, ya."


Keheningan lumayan lama, ada rasa canggung diantara kami berdua. Entah apa yang dia pikirkan. Raut wajahnya berubah rubah.

__ADS_1


"Kalau gitu, Mbak istirahat aja. Aku kembali ke kamar. Malam, mbak." dia bergegas pergi seperti ingin sekali berlari.


Ada ada saja anak ini. Aku naik ke kasur ku dan terlelap.


***


Gara gara ucapan temanku di cafe, membuat seharian aku memikirkannya.


"Aku senang sekali ketika kakak ku menikah. Aku akan memakai gaun yang senada dengan pengantin wanitanya. Lantas menjadi pendampingnya. Akh aku bisa memilih model gaun yang akan ku kenakan nanti, menerima hadiah yang ku inginkan dari calon kakak ipar ku."


"Aku pun, sama. Aku sibuk memilih gaun yang ku mau dengan warna senada dengan kakakku. Apalagi kakak ku perempuan, ah aku ingin lebih cantik dari pengantin."


Mereka asik menceritakan pengalaman mereka menjadi pendamping pengantin saat mereka tau aku memiliki kakak yang akan segera menikah.


Aku jadi antusias mendengar cerita mereka. Apa lagi beberapa kali mereka bertanya padaku warna apa dan model apa yang akan aku kenakan. Dengan canggung dan malu aku beranikan diri bertanya pada Mbak Bella. Padahal aku dengannya baru berada dalam satu keluarga beberapa hari ini.


Ah biarlah, yang penting rasa penasaranku hilang.


"Aku dan Papa pake seragam gak di acara pernikahan, Mbak?" wajahku sudah seperti kepiting rebus, rasanya terbakar karna panasnya malu.


Warna apa ya kira kira, ah aku sudah menantikannya. Saat berdiri nanti berdiri di belakang pengantin. Aku sudah lama menantikan ini, di saat melihat teman temanku menjadi pendamping pengantin kakaknya. Aku hanya bisa menelan ludah karna tidak punya kakak. Siapa sangka saat yang ku inginkan terjadi, aku punya kakak bahkan dua, lelaki dan perempuan.


"Hmm, sepertinya gak Dav. Soalnya seragam sudah di pesan untuk semua, keluarga."


DEG ... DEG ...


Bukan ini jawaban yang ku mau, apa aku terlalu serakah menginginkan lebih.


"Keluarga" apakah aku dan Papa bukan keluarganya.


Mungkin karna kami baru di akui. Akh malu rasanya, aku ingin berlari sejauh mungkin.


Untuk apa aku berharap, padahal akan kecewa.


Aku berlebihan seperti ini. Gak mungkin aku jadi pendamping nya aku bukan, siapa siapanya.


Sekuat tenaga aku mengumpulkan keberanian ku. Jangan terlihat bahwa aku menantikan itu. Aku tidak di harapkan hadir sebagai, adiknya.


"Hmmm, gak apa Mbak. Semoga acaranya lancar ya mbak." walau berkata seperti itu, hatiku pedih. Aku memang berharap pernikahan nya lancar, walau aku merasa sakit.


Kulihat raut wajahnya, tidak menampakan rasa untukku. Biasa saja.


Ya sudah, aku pun harus biasa saja.


"Kalau gitu, Mbak istirahat aja. Aku kembali ke kamar. Malam, mbak."


Aku bergegas meninggalkan kamar Mbak Bella. Hatiku pedih, tapi rasa ini pun salah. Untuk apa aku berharap padanya, padahal ikatan persaudaraan kami baru di mulai hari ini. Mana mungkin dia memikirkan aku sebelumnya. Pernikahannya tinggal 3 hari dan mengakui kami baru semalam.

__ADS_1


Ah perihal gaun pendamping saja membuatku sakit hati. Sejak kapan aku tidak mampu membeli gaun mahal dan indah.


Tapi beda dengan status "pendamping" kakakku. Aku termenung meratapi keadaanku. Mimpiku menjadi pendamping akhirnya terwujud karna memiliki kakak perempuan, tapi harus pupus dengan keadaan. Semoga ada keajaiban, pintaku.


__ADS_2