
Niat hati Davina seketika redup dengan respon dari Bella.
Tapi berkat Riko yang memberinya nasihat secara logika, Davina kembali membulatkan tekad.
Entah kenapa bisa Bella berubah drastis secepat itu.
Apa ada alasannya ?
Kini Davina mendekati Papanya, memberikan sedikit sentuhan sentuhan hati agar Papanya tergerak.
Mereka duduk di pinggir kolam ikan taman rumahnya.
"Pah, minum teh yuk.. ini aku buatkan." Davina menyodorkan baki berisi teh dan cemilan.
Papa Surya mengangguk.
"Pah, bisa ceritakan masa muda Papa padaku tidak ? Aku ingin tau seindah apa masa muda Papaku ini." Davina bersandar di bahu Papa Surya.
Papa terlihat kaget dengan ucapan Bella.
Tidak biasanya dia ingin tahu kehidupan Papanya dulu.
Davina menyadari bahwa papanya sedikit kaget dan ragu.
"Aku kan sudah masuk usia segini Pah, aku harus tau lelaki seperti apa yang baik untukku. Apa lagi aku pernah gagal. Dan aku juga ingin tau kriteria Papa tentang suamiku." bujuknya.
Papa masih dalam mode diam. Di belai tangan Davina.
__ADS_1
Ada apa dengan anak ini ?
Aku belakangan ini terlalu kasar dengannya. Melihatnya mengingatkan kembali tetang kisah itu.
"Papa hanya ingin lelaki yang bisa melindungi kamu dalam situasi apapun Dav."
"Seperti Papa yang melindungi Mama ?"
Pertanyaan Davina membuat Papanya mengangkat kepala Davina yang bersandar di bahunya.
Davina tahu Papanya tak ingin mendengar atau membicarakan masa lalunya.
Bukan Davina jika tidak bisa bermanja pada Papanya. Dia tumbuh dengan penuh kasih sayang Papanya.
"Papa..." rengekan Davina menahan tangan Papanya yang hendak pergi.
"Papa adalah lelaki yang terbaik untukku, coba bantu aku Pah menemukan laki laki seperti Papa."
"Papa gak mau kan aku jatuh ke tangan lelaki yang gak bertanggung jawab. Menelantarkan aku dan anakku nantinya."
*Deg.
Tidak akan ku biarkan lelaki manapun membuat kesalahan yang sama denganku. Anak anakku takkan pernah menderita lagi*.
Papa menatap wajah Davina.
Davina memasang wajah penuh kasian.
__ADS_1
Hati Papa luluh. Duduk di sisi Davina kembali.
"Kenapa kamu ingin tahu masa lalu Papa ?"
Papa Surya menatap Davina dengan wajah menyelidik.
"Pah, aku ini anak Papa. Aku sudah dewasa. Aku ingin tahu semua kehidupan Papa dengan Mama, agar aku bisa bersikap demikian nanti saat aku berumah tangga juga."
Memegang tangan Papa.
"Papa gak mau kan aku hidup dengan keegoisanku, sehingga membuat hancur rumah tanggaku nanti." tanyanya.
Papa menggelengkan kepalanya.
"Tapi nak, Papa bukan laki laki bertanggung jawab, bukan laki laki baik dan Papa yang baik untuk anak anak Papa."
Wajah Papa Surya terlihat sendu.
"Tapi menurutku tidak Pah, Papa yang terbaik." Wajah sumringah Davina membuat Papanya tersenyum.
Andai kamu tau, berapa hati yang telah ku hancurkan nak. Tak mungkin ucapan itu keluar dari mulutmu yang manis.
Papa terdiam, entah dari bagian mana dia menceritakan tentang kisah mereka kepada Davina. Davina menatap penuh harap dengan wajah manisnya, membuat Papa Surya nervous.
"Pah,, ceritakan semuanya." rengek Davina dengan penuh manja.
Papa masih diam. Dilema.
__ADS_1
Davina memancing Papa dengan sedikit membuat keributan.
"Aku sedih, kenapa Papa gak mau cerita. Padahal semua temanku tau masa masa indah orang tuanya. Masa sulit yang harus di hadapi mereka, pemecahan masalah yang mereka hadapi.Sedangkan aku ? Papa gak mau cerita, mama sudah gak ada." Davina cemberut memang masang terpilu yang dia bisa.