
Hari ini jadwal konsultasi ku dengan dokter. Kebetulan sekali aku bertemu Dokter Syifa temanku saat masih tinggal di panti. Kami satu SMA waktu itu.
"Selamat siang, Dok." ucapku masuk ke ruangannya. Nyaman, hangat dan rapi. Menggambarkan sekali kepribadian dari dirinya. Gadis yang hangat dan penuh kasih, dari awal kenal dirinya adalah orang yang sangat perhatian. Sesuai dengan profesinya sebagai dokter.
"Hai, siang Bell.. Masuklah." melambaikan tangannya. Dia yang sedang membaca dokumen medis memang keren menurutnya apalagi dengan seragamnya. Pernah ada niat ingin menjadi dokter, tapi biayanya cukup mahal untukku kala itu. Semoga anakku nanti bisa mewujudkan apapun cita citanya tanpa memikirkan biayanya.
"Wah.. Lagi sibuk ya, Dok." tanyaku berjabat tangan dengannya.
"Biasalah, kebetulan mau ada operasi nanti sore. Jadi harus di pelajari dulu. Kamu jadwal konsul ya hari ini." membuka buku khusus ibu hamil yang ku bawa.
"Iya, kebetulan aku juga mau berpergian jadi sekalian cek apakah bisa, jika di paksa pergi dengan kondisi kehamilan trisemester pertamaku." awalnya aku akan pergi begitu saja. Tapi aku takut terjadi masalah dengan janinku. Aku berharap jawabannya bisa, tapi aku juga gak mau mengambil resiko dengan keegoisanku sendiri.
"Kamu mau perjalanan bisnis?," dia menoleh kepadaku dan aku mengangguk.
"Baiklah, memang tidak ada yang bisa menggantikan posisi mu saat ini?,"
Aku menggelengkan kepalaku.
"Sebenarnya, Bell. Usia kehamilan trisemester pertama adalah usia yang paling rentan akan keguguran. Karna kondisi rahim yang sedang beradaptasi menerima pertumbuhan embrio di dalamnya. Dengan perubahan kondisi tersebut, sangat penting untuk menjaganya agar tetap stabil. Bepergian jauh saat sedang hamil memang tidak disarankan. Hal ini mengingat risiko kelahiran prematur, trombosis vena dalam pada kaki, dan sebagainya. Trimester pertama adalah saat rawan dimana perkembangan organ janin sedang berlangsung. Selain itu, janin belum sepenuhnya menempel kuat pada dinding rahim, sehingga adanya guncangan saat melakukan perjalanan dapat menyebabkan keguguran. Oleh karena itu kondisi Ibu harus betul-betul baik dan sebaiknya menghindari perjalanan jauh agar tidak terjadi trauma sekecil apapun karena ditakutkan akan membahayakan janin."
Aku mengangguk angguk mendengar penjelasannya.
"Apalagi usia kandungan mu baru masuk 7 Minggu, Bell. Apa kamu yakin siap menerima konsekuensinya." pertanyaannya membuat hatiku menciut, aku ingin segera pergi dari rumah itu dan dari Mas Reza. Hatiku sudah tak tahan melihat mereka bersandiwara.
Aku menunduk memikirkan kembali resiko yang harus ku awali begitu besar. Jika aku bertahan, bukankah sama saja membuat pertumbuhan anakku tidak baik dengan psikis ku yang sedang kacau.
__ADS_1
"Sebenarnya ada yang kamu sembunyikan dariku ya, Bell. Aku sudah mengenalmu lama, aku tau kamu tidak akan mengambil resiko yang mengakibatkan penyesalan. Adakah masalah mendesak, Bell. Bisakah kamu terbuka padaku. Aku juga seorang ibu dan aku tau dilema yang kamu rasa. Aku yakin ini bukan masalah pekerjaan kan?."
Benar, tebakannya tepat sekali. Dia memang Syifa yang ku kenal, masih terlalu peka dengan setiap masalah sahabat yang di dekatnya.
"Iya, Dok." ucapku lirih.
"Begini aja, kamu tiduran dulu di brankar. Aku periksa keadaannya dulu ya." pintanya dan aku menuruti.
Aku tiduran di hadapannya. Dengan stetoskop dan Doppler di tangannya.
Asistennya memberikan gel di perutku.
"Biar saya saja, Mbak." pintanya ke pada asistennya.
DUG ... DUG ... DUG..
Hatiku di penuhi rasa haru bahagia, anakku sudah tumbuh di dalam sana. Mama janji nak, akan menjagamu sepenuh hati Mama walau tanpa ayah di sisimu. Aku terharu sampai meneteskan air mata.
"Kamu sudah dengar Nyonya Abraham." senyumnya mengembang saat melihat kearah ku.
Aku mengangguk, "Iya, dok. Tolonglah gak usah panggilan aku Nyonya Abraham." pintaku. Jengah sekali aku mendengarnya, apalagi setelah tau kehadiranku tidak berarti untuk mereka.
"Ya, ya baiklah. Sekarang aku tau masalahnya." dia tertawa dan senang seakan sudah mendapat undian.
Aku mengerucutkan bibirku saat aku tau dia menjebak dengan menggunakan panggilan Nyonya.
__ADS_1
"Anakmu tumbuh baik, coba kita lihat keadaannya sekarang." dia meminta asistennya alat USG.
Aku tak sabar menatap layar monitor di hadapanku, tubuh mungil dengan bentuk yang belum sempurna sudah terlihat jelas bentuk kepalanya.
Gerakannya meliuk liuk di dalam sana, kaki tangannya belum berbentuk. Aku sudah tidak sabar melihat tubuhnya yang sempurna nanti.
"Pertumbuhan awal ini sangat penting, Bell. Kamu lihat, ini letak jantungnya. Tapi organ lain belum tumbuh. Kaki tangannya baru bertunas, kepalanya pun belum bulat sempurna. Inilah kenapa medis melarang ibu hamil trimester pertama ini berpergian, dia masih mengapung dan belum menempel pada dinding rahim."
Dia menunjukan gelembung yang menjaga anakku di dalam sana. Apa yang harus ku lakukan setelah ini, apakah harus bertahan beberapa bulan Minggu lagi. Rasanya aku sudah tidak kuat, tapi melihat resiko yang harus aku terima aku pun tak kuat.
"Hmmm.. aku mungkin tidak tau sepenuhnya alasan kamu mau pergi, Bell. Tapi bisakah aku tau kemana tujuanmu?" dia mengelap perutku dan menutupnya kembali. Aku bangun pindah ke kursi di hadapan meja kerjanya.
Dia tengah asik membuat laporan medis untuk anakku, aku bingung harus bilang apa saat ini.
"Bell, aku harap kamu jujur kali ini. Kemana kamu pergi, agar aku bisa tau apakah bisa di lakukan atau tidak." ucapnya menatapku.
"Ke luar Negri." ucapku pelan. Aku melirik asistennya yang sedang merapikan brankar.
Dia mengangguk, "Mbak, pasien sudah selesai?."
"Sudah, Dok. Nyonya Bella Abraham yang terakhir konsultasi." ucapnya.
Dia mengangguk, "Baiklah, mbak bisa istirahat sebentar."
"Baik, Dok. Permisi."
__ADS_1