DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
TAK SENGAJA


__ADS_3

Papa Surya duduk di sudut cafe.


Tanpa di sadari Bella ada di belakangnya.


Papa Surya meminum kopi di tangannya.


Menatap layar ponsel di genggaman nya.


"Kartika, putrimu cantik sekali. Dari awal aku bertemu dia, aku yakin dia gadis yang baik. Tapi karna keserakahan dan keegoisanku, aku melukai perasaannya."


Di letakkan cangkir kopi keatas meja.


"Kartika, kini aku sudah tidak memiliki apapun lagi. Benar yang kau ucapkan, bahwa semua yang di berikan akan kembali kepada yang memberikan."


Suara parau Papa Surya membuat Bella ingin menoleh. Melihat apa yang sedang di lakukan oleh nya.


"Sayang, sudah ku kembalikan hak yang menjadi milik putri dan putramu. Kamu sungguh di luar jangkauan ku Kartika. Kamu rela merawat Sinta dengan sepenuh hati."


Bella melirik kebelakang. Di lihat papa Surya sedang menatap foto Mama Kartika saat masih muda. Wajah putih cantik, dengan senyum berseri di sisi seorang lelaki yang tak lain Papa Surya sendiri.


Bella meneteskan air mata, kerinduan akan Mamanya semakin penuh di hati. Melihat senyuman manis yang mengembang di bibirnya, Bella yakin saat itu Mama pasti bahagia bersama Papa.


"Sayang, aku tak bisa berharap anak anak memaafkan ku, apalagi menerima diriku ini. Aku hanya berharap mereka bisa menerima Davina. Walau mereka berbeda ibu, aku harap mereka bisa bersama."


Papa Surya mengusap matanya.


"Davina bukan Mamanya. Aku harap dia berbeda dengan Mamanya."

__ADS_1


Di elus layar ponselnya. Jari jemarinya berhenti di sudut gambar senyuman Mama Kartika.


Bella tak tahan melihat rasa pilu di hadapannya.


Apa yang terjadi ? Kenapa mereka bisa berpisah ? Kenapa harus ada Mama Sinta dan Mamanya Davina, kalau Papa begitu mencintai Mama.


"Sayang, aku tau hanya kamu yang tau perasaanku. Kamu yang tau betapa aku mencintaimu. Kejadian itu membuat ku harus memilih meninggalkan kamu dalam keadaan hamil. Aku yakin kamu mengerti, aku memang tidak pantas untuk di maafkan. Aku hanya berharap kamu mengerti keputusan yang ku ambil saat itu, agar lukamu tidak terlalu dalam sayang."


Papa Surya tersedu-sedu.


"Andai kejadian itu tak pernah terjadi." Di dekap erat ponsel di pelukannya. Papa Surya menyenderkan kepalanya di ujung kursi penyangga.


Menutup matanya dengan linangan air mata.


Tak sengaja Bella mendengar kesedihan Papanya. Membuat Bella ingin memeluknya.


Tapi rasa sakit selalu menghalanginya.


Bella menangis meninggalkan cafe. Berlari ke dalam mobil di parkiran.


Glen tak sengaja melihat kondisi Bella langsung lari menghampiri.


"Mbak Bella, tunggu.." kejar Glen.


Glen menahan Bella masuk kedalam mobil.


"Ada apa mbak ?" Glen khawatir melihat Bella yang menangis keluar dari dalam cafe.

__ADS_1


Bella menggelengkan kepalanya. Mengusap air matanya. Dan tersenyum kepada Glen.


"Aku gak apa-apa Glen, aku cuma senang semuanya berakhir baik. Aku cuma rindu Mamaku." Lirihnya.


Glen memeluk Bella.


"Mbak.." di usap punggung Bella dengan lembut.


Bella menangis dalam pelukan Glen.


Tangisannya semakin menjadi.


Membuat Glen sedikit kebingungan dan malu di lihat orang.


"Sudah mbak, semua akan baik baik saja. Mama disana juga pasti bahagia liat mbak bahagia. Sekarang sudah waktunya mbak istirahat ya, mbak pulang pergilah jalan sama mas Reza." bujuk Glen.


Glen mencolek pinggang Bella yang masih di dalam pelukannya.


"Honeymoon mbak biar punya keponakan aku ini.." godanya membuat Bella mencubit perut Glen dengan gemas.


Bibir mengerucut, Bella mengusap air matanya.


"Apa si kamu.." Bella memukul bahu Glen.


Glen tertawa.


"Kasian Mas Reza mbak, selama ini selalu diam menunggu masalah kita selesai. Cobalah sekarang mbak ajak dia honeymoon, sebagai wujud terimakasih kita atas bantuan dan kesabarannya." ucapan Glen membuat Bella tersadar.

__ADS_1


Benar, Reza selama ini hanya diam. Padahal dia pernah membicarakan masalh pesta pernikahan dan honeymoon. Tapi karna masalah Bella dan Glen belum selesai, Bella selalu menunda.


Bella mengangguk.


__ADS_2