DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
CERITA PANJANG


__ADS_3

Ricardo menceritakan bagaimana Edward menyusun rencana untuk persidangan dengan penuh misteri. Dirinya dan asisten Li bahkan tidak tahu akan terjadi hal yang mengharukan ini. Aku berpikir kasus ini akan sangat pelit, di mana aku tau Reza sangat menginginkan hak asuh Edward. Dan aku pun tau sangat, Bella tidak mungkin memberikan Edward padanya. Selama seminggu aku istirahat, begitu banyak kejutan yang ku dapat. Saham meningkat drastis, krisis di beberapa kantor cabang sudah teratasi. Proyek besar yang kami harapkan berhasil di dapatkan oleh Edward.


Entah nilai baik apa yang aku atau Bella tanam di kehidupan lalu, sehingga mendapatkan anak yang begitu luar biasa.


Aku mengangguk angguk mendengar penuturan Ricardo dengan wajahnya yang berbinar dan memperagakan ekspresi wajah Edward kala itu.


"Mas, Om dan Tante Abraham meminta Edward untuk berlibur dengan mereka beberapa lama. Di saat itu Mbak Bella hanya diam saja menunggu jawaban Edward." ucapannya. Aku menatapnya.


"Mas tau, jawaban apa yang Edward berikan?." dia malah balik tanya padaku yang tidak tahu.


Aku menggelengkan kepalaku.


Dia meraih tanganku, aku kaget sehingga menepisnya. Tapi dia memaksa meraih tanganku.


"Kakek.. Nenek, Maaf. Untuk saat ini Edward tidak bisa meninggalkan Daddy dan Mommy. Mommy sedang mempersiapkan kelahiran adikku, jadi sementara waktu Daddy akan sibuk dengan Mommy. Aku harus mengantikan Daddy di perusahaan. Kakek tahukan, lelaki di nilai dari tanggung jawabnya, maka dari itu aku tidak bisa meninggalkan Daddy dan Mommy saat ini."


Aku menatap matanya dengan penuh haru, seakan yang ku tatap ini adalah Edward.


"Tapi aku janji, jika semua sudah tenang. Aku akan berkunjung ke tempat Kakek dan Nenek, ya.." sambungnya.


Ricardo memelukku. Aku menepisnya.


"Cukup, kamu kira dirimu Edward." ucapku sambil sedikit ketus.


"Alah, Mas. Aku kan sedang memperagakan ekspresi dengan penuh penghayatan. Ah bikin kesel aja ni.." ucapnya sambil merenggut.


Aku tertawa dan menepuk bahunya.


"Sudahlah, aku harus menjemput Bella dulu. Aku sudah tau, kalau Edward adalah lelaki sejati. Dia akan mengutamakan keluarganya tanpa melukai perasaan keluarga lainnya." aku bangkit dan melambaikan tanganku pada Ricardo yang masih merenggut.

__ADS_1


***


Aku merangkul mesra pinggang Bella dari belakang, membuat dia kaget. Dia yang sedang fokus dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


"Ah,,, Mas. Kirain siapa kaget, aku." ucapnya dengan wajah panik.


"Memang siapa lagi yang berani merangkul istriku yang cantik, ini." ucapku sambil mencium pipinya.


"Siapa tau orang mesum atau salah orang, Mas." jawabnya sambil merenggut.


"Orang bodoh yang salah memeluk istrinya. Lagi pula kamu ngapain berdiri di sini sambil membaca lembaran itu dengan fokus. Kalau ada yang tabrak, gimana?" ucapku melirik sekeliling.


Dia tertawa, "Ya kali, Mas. Orang aku sebesar ini di tabrak. Aku lagi baca laporan hasil pemeriksaan tadi, Mas. Alhamdulillah, adiknya Edward baik baik saja." ucapnya sambil menyodorkan lembaran hasil pemeriksaan padaku.


Aku menuntun Bella duduk di kursi taman rumah sakit. Aku membaca dokumen itu dengan seksama.


Sampai pada...


Bella mengangguk sambil mengusap perutnya.


"Perkiraannya gitu, Mas." ucapnya.


"Dua duanya perempuan?." tanyaku lagi penasaran.


Bella menggeleng, "Yang satu belum tau, Mas. Tadi pas USG Dede yang satunya ngumpet, Mas. Sampai Dokter panggil panggil gak mau juga dia menunjukan kelaminnya." tawanya dengan menggelengkan kepalanya.


Aku tertawa, "Pemalu mungkin dia, sayang." ucapku menatap foto hasil USG di mana memang si bayi satu itu bersembunyi di balik saudarinya.


"Iya mungkin, Mas. Sudah dua kali di USG dia tetap aja sembunyi. Dan parahnya sampai akhir dia gak mau juga keluar." merenggut bibir Bella.

__ADS_1


Aku meletakkan tanganku pada perutnya.


"Tak apa, yang penting mereka sehat dan normal. Biar nanti jadi surprise pas lahir." ucapku memberikan semangat untuk Bella.


"Iya, Mas. Mungkin dia mau kasih surprise buat kita." ucapnya sambil tersenyum.


Aku mengecup perutnya yang besar membulat. Tak sabar menunggu kedua bayiku lahir dengan sehat dan selamat.


"Sehat sehat di dalam sana, kesayangan. Jangan biarkan Mommy mu kesulitan ya." kecup ku.


"Aku sudah tak sabar menunggu mereka lahir, sayang. Pasti Edward akan begitu menyayangi mereka. Apalagi ada adik perempuan yang dia inginkan di dalam sini."


Bella mengangguk. Aku mengendong Bella masuk mobil. Wajahnya memerah malu. Dia membenamkan wajahnya di dalam dadaku.


"Mas ah, malu tau di gendong gini. Aku kan bisa jalan sendiri juga." ucapnya.


"Kamu kan membawa dua anak sekaligus, sayang. Kamu lelah, jadi wajar aku membantu sedikit." ucapku.


Gemas sekali melihat wajahnya yang merona seperti buat tomat. Pipinya yang gembul pas sekali seperti buat tomat matang. Bibirnya mengerucut.


"Beratkan, Mas." tanyanya.


Aku mengangguk, "Tentulah, sayang. Kalian bertiga, Mas sendiri." tawaku menggodanya.


"Tuh kan, ya sudah turun aja deh, Mas." berontak dia dalam gendonganku.


Aku menggeleng, "Tapi aku masih kuat, sayang. Kamu aja setiap hari membawa dua kembar itu di perut mu. Masa aku membawa kalian sebentar aja sudah gak mampu. Hmmm.. tapi kamu lumayan berat Loch, sayang. Seratus kiloan sepertinya." ucapku menggodanya.


"Mas.." dia mencubit ku.

__ADS_1


"Tapi aku tetap sayang banget sama kamu."


__ADS_2