
Tidak di sangka dengan mudah mendapatkan tanda tangan dari Mas Reza. Kini kita bukan kita Mas, tapi aku dan kamu. Semoga kedepannya tidak ada lagi luka yang ku terima dari orang yang singgah di hatiku.
"Nak, kini kita resmi berdua. Jangan khawatir, Mommy akan selalu bersamamu. Nak jika kamu lelaki, jangan pernah menyakiti hati perempuan dan begitupun sebaliknya. Jika kamu perempuan, maka jangan pernah menganggu lelaki yang sudah beristri."
Aku bersandar pada kursi malas, mengelus perutku dan mencoba menahan air mata yang ingin meluncur indah.
Aku menyangka, pertemuan tanpa sengaja kita adalah jodoh hingga maut, Mas. Ternyata Itu hanya ketidaksengajaan yang membuat lubang dalam hatiku. Kini apa yang ku ambil telah ku mengembalikan ke tempat semula.
Aku telah mengembalikan hatimu, Mas. Jangan berharap untuk kembali, karna aku tidak akan mengambil apa yang sudah ku buang.
Aku telah menghapus semua jejak dalam hidupku, sekarang perlahan akan ku hapus dirimu dalam hatiku.
****
TUJUH BULAN BERLALU ...
[Pesan Masuk Mas Gaga]
"Sore Non, besok waktunya cek up. Perlukah saya kesana?."
__ADS_1
Semenjak perceraian, hanya Mas Gaga yang setiap bulan datang menemaniku cek up. Mas Gaga lelaki yang baik, ramah, hangat dan penuh perhatian.
"Andai saja, Non. Status sosial kita sama, aku tidak akan membiarkan Non terus sendirian di sana. Aku sangat menyayangi kalian berdua, semoga aku selalu ada saat kalian susah atau senang."
Aku teringat perkataannya saat mengusap kepalaku beberapa bulan lalu. Setelah pulang cek up, aku tertidur. Dalam keadaan setengah sadar, aku merasakan tangan Mas Gaga mengusap kepalaku dan berbicara dengan nada yang sendu.
Aku tidak pernah berpikir Mas Gaga punya perasaan lain selain rekan kerja. Aku selalu menganggapnya Kakak, tapi malam itu aku tau perasaannya. Dia selalu melindungi ku, walau tanpa aku sadari.
Aku jadi teringat saat dia memperingatkan aku untuk lebih fokus dengan sikap Mas Reza beberapa hari sebelum pernikahan. Tapi aku malah tidak menghiraukan perkataannya.
Padahal terlihat jelas perubahan Mas Reza saat itu. Mas Gaga, apakah aku boleh meminta lebih darimu lagi, Mas?.
[Pesan Keluar Mas Gaga]
[Pesan Masuk Mas Gaga]
"Iya, Non."
TUT ... TUT ...
__ADS_1
"Halo Mas, ganggu gak?" tanyaku.
"Tidak, Non. Ada yang bisa di bantu?" jawabnya.
"Ada Mas, Mas bisa kan jangan panggil saya, Non. Saya risi Mas kalau di panggil, Non." pintaku. Aku berniat membuka lembaran baru walaupun belum bisa berhubungan lebih, tapi apa salahnya aku memulai. Luka hati tidak akan hilang sendiri tanpa di obati.
"Hmm.. A-a pa tidak masalah, Non." jawabnya terbata bata. Mungkin dia takut karna aku adalah atasannya.
"Tidak lah, Mas. Aku kan yang minta." aku tertawa kecil mendengar pertanyaannya.
"B - baiklah, Non."
"Lah kok Non lagi si, Mas. Bella aja." rayuku.
"Iya ... Be - La.." suaranya gemetar, mungkin kalau aku melihat langsung ekspresi wajahnya akan tertawa. Terdengar dari suaranya saja sudah lucu.
"Coba ulangi." aku menggodanya. Mungkin sekarang pipinya sedang memerah.
"Bella." ucapnya tegas.
__ADS_1
"Nah gitu dong, Mas. Ya sudah kita tunggu di rumah ya, Mas." aku sengaja menggoda Mas Gaga. Lucu sekali ya kalau bisa lihat ekspresi wajahnya. Wajah yang selama ini datar bagaimana kalau sedang malu.
Aku terkekeh geli membayangkannya.