DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
TERKEJUT


__ADS_3

Aku tengah asik menikmati cemilan dan teh yang di sediakan Bibi, sembari bersandar pada sofa. Menikmati wajah masam dan kesal Clara yang terus menatapku.


"Hmm.. Clara. Bukankah kamu sakit.. maka minumlah obat, aku mau lihat kau meminum obatmu itu. Siapa tau ada rasa iba di hatiku, sehingga aku melepaskan suamiku untukmu." sindiran ku tepat untuknya. Kalau dia wanita baik baik tentunya dia akan pergi, aku sendiri malu mengucapkan kalimat itu.


"Untuk apa, tanpa kau lepaskan Reza akan menjadi milikku seutuhnya. Dia tidak mencintaimu sama sekali, Bella. Kau hanya tameng untuk melindungi ku." membusungkan dadanya serta melipat kakinya dengan bangga.


Wah.. wajahnya penuh kebanggaan mengucapkan kalian itu, aku tameng. Baiklah, sepertinya dia senang menjadi wanita simpanan.


"Hmmm.. kau bangga sekali jadi simpanan ya, Clara. Tidak niat kah kamu jadi istri, sah?." dia menatapku tajam. Mungkin menjadi sesuatu di dalam ucapan ku.


"Banyak keuntungan menjadi istri sah, antara lain. Status, harta dan bahkan anak yang nanti lahir akan menjadi ahli waris. Sedang kamu? Heh." aku mengangkat daguku, merendahkan dia di hadapanku. Jijik sekali aku pada wanita yang gila suami orang macam ini.


"Aku kaya, aku tak butuh harta." jawabnya.


"Oh iya, aku lupa. Kamu wanita dari keluarga kaya dan terpandang. Tapi sayang, tidak bermartabat. Kamu senang bersembunyi dan bahkan tidak perduli dengan nasib anakmu nanti."

__ADS_1


Aku lupa, wanita jal*ng ini dari golongan elit. Dia bukan wanita yang ingin memanjat sosial, tapi wanita haus belaian. Menjijikan.


"Diam kamu!!! Jangan pernah berkomentar apapun tentang anak, anakku akan ku urus sendiri. Bahkan aku tidak menginginkan anak, berulang kali sudah ku gugurkan dia. Untuk apa aku punya anak, merepotkan."


Aku kaget di buatnya, bentakan serta ucapannya mengerikan. Berulang kali ucapnya, berulang kali dia menggugurkan kandungannya. Gila... benar benar wanita gila.


Aku sampai berpikir, riwayat sakitnya bukan karena penyakit yang di sebarluaskan olehnya. Tapi karna proses pasca menggugurkan kandungannya.


Aku berhasil mendapatkan bukti beberapa kali dia di rawat di rumah sakit tertentu. Tapi tidak ada informasi mengenai diagnosa apa yang di deritanya.


"Kenapa kamu tidak ingin memiliki anak, Clara?" kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Entah apa yang ingin ku dengar dari wanita gila ini.


"Karna merepotkan, aku tidak suka bentuk tubuhku rusak. Lagipula sementara ini kami istrinya Reza kan, jadi kamu yang bertugas memiliki anak untuk penerus kami nanti."


HAH ... AKU ... ANAKKU ... PENERUS KALIAN ..

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku dan mengusap tipis perutku. Aku jadi tambah takut dengan mereka semua, apa ini rencana kalian sehingga aku di khianati sebesar ini. Kalian semua mengkhianati aku dengan sengaja.


Sampai matipun aku tidak akan menyerahkan anakku, tidak kepada siapapun termasuk kepada, ayahnya.


"Oh.. jadi ini alasan kalian main petak umpet di belakangku. Kalian menganggap aku mesin pembuat keturunan!!!." aku berusaha merendahkan nadaku, aku tak ingin emosi ini membawa dampak buruk untuk anakku.


"Iya, sekarang kamu sudah tau kan. Jadi jangan sombong dengan status sementara mu." dia mengacungkan telunjuknya ke arah wajahku.


Aku mengangguk, "Baiklah, tapi maaf itu tidak akan terjadi. Jadi bersiaplah memberikan keturunan untuk kekasihmu. Atau kamu mau kekasihmu menikahi wanita lain lagi dan kamu terus bersembunyi. Malang sekali nasibmu, ckckck." aku bangkit menuju pintu keluar, aku berbalik menyapanya.


"Simpanan ya tetap simpanan, selamanya akan di sembunyikan." ucapku melangkah pergi.


BRAK ...


Bunyi benda berjatuhan terdengar sampai ke teras tempatku memarkir mobil. Mungkin dia ngamuk, pikirku.

__ADS_1


__ADS_2