
"Sayang, aku dapat kabar Papa Surya sakit. Sekarang sedang di Rumah Sakit Permata." ucap Mas Gaga.
Aku kaget mendengar kabar Papa sakit. Walau beliau berulang kali mengecewakan hatiku, tapi beliau tetap orang tuaku satu satunya.
Aku ingin ke sana, tapi apakah aku sanggup mengingat luka yang mereka buat belum sembuh.
"Sayang, kamu baik baik saja?" Mas Gaga khawatir dengan diriku, mungkin dia tau apa yang aku pikirkan.
"Hmm, iya Mas. Sakit apa?" ucapku sedikit bergetar. Aku belum bisa menghilangkan rasa kecewa ini, setiap kali mengingat maka air mataku ini terus mengalir.
"Kamu jangan menangis, sayang. Papa gak apa apa kok, katanya cuma kecapekan dan banyak pikiran. Tadi aku sudah minta tolong Pak Ari mencari informasi." ucapnya mencoba menenangkan hatiku.
"Kamu jangan khawatir, sayang. Nanti aku akan terus beri kabar, ya. Jangan diri baik baik, jaga Edward anak kita ya. Jangan pernah memaksa hatimu, karna rasa itu hanya kamu yang tau. Aku gak mau kamu terlalu memaksakan diri."
Aku tak tau harus bicara apa, karna Mas Gaga yang paling mengerti kondisiku.
Aku hanya diam mendengarkan ucapannya. Aku yakin dia akan melakukan yang terbaik untuk kami.
"Oh iya, sayang. Balai pelatihan di kantor desa sudah selesai? Kemarin aku belum sempat lihat sudah harus kembali ke Jakarta." dia berusaha mengalihkan perhatian ku pada masalah Papa.
"Hampir, Mas. Sudah 90%." ucapku sambil berusaha menahan air mata.
"Kamu menangis, sayang?"
Dia selalu tau kebohongan kecilku, membuat aku tidak bisa menahan air mata ini.
"Menangis lah, sayang. Mas tidak bisa meminta kamu mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, tapi Mas tau kamu cerdas. Lebih baik melepas dari pada kamu tersiksa sendiri, sayang. Apakah kehadiran Mas tidak bisa menutupi kekurangan masa lalu mu, sayang?"
Ada rasa kecewa di kalimat terakhir ucapan Mas Gaga, membuatku tersadar akan kesalahanku padanya. Aku kurang pandai bersyukur selama ini.
"Maaf, Mas. Kamu lebih dari segalanya yang ku miliki selama ini. Aku akan berusaha, Mas." ucapku menghapus air mata.
__ADS_1
"Sayang, jika kamu ingin mengikhlaskan. Maka kamu harus memaafkan. Memang sulit, Mas tau itu. Tapi kamu harus berani tampil, jangan terus bersembunyi. Karna akan terus menyakiti hatimu, sendiri."
Benar sekali ucapan Mas Gaga. Selama ini aku bersembunyi, padahal aku tidak salah dalam hal ini. Kenapa aku yang harus bersembunyi dan lari dari mereka, bukan kah mereka yang menyakitiku?.
"Aku akan coba, Mas." ucapku pelan.
"Ya, sayang. Mas yakin kamu bisa. Nanti bantu Mas carikan guru pelatih untuk di balai pelatihan ya, sayang. Sesuai proposal yang Mas ajukan ke kepala desa. Semoga cepat terealisasikan gedung kecil itu dan semoga bermanfaat untuk warga sekitar."
Aku memang tidak pandai bersyukur, mendapatkan suami berserta ayah untuk anakku yang super baik dan perhatian.
Bukan kepadaku tapi kepada warga sekitar di sini. Bahkan memikirkan masa depan anak anak di sini dengan menjadikan balai pelatihan untuk para anak muda.
"Iya, Mas. Mas gak usah khawatir, nanti aku urus masalah di sini. Mas, sedang apa?." tanyaku.
"Mas sedang menyiapkan berkas untuk rapat tender sore nanti, doakan ya." ucapnya.
"Selalu, Mas. Kalau gitu lanjutkan, Mas. Aku akan ke balai desa lihat perkembangan di sana."
"Mbak, ya jangan melamun gitu toh. Nanti cantiknya pindah loh ke saya." goda Mbak Eri saat melihatku melamun.
"Bisa aja, Mbak. Mau kemana?" tanyaku.
"Mau ke rumah, Mbak. Mau tanya soal pelatihan." ucapnya sambil tersenyum malu.
"Oalah, sini sini." aku melambaikan tanganku.
Dia tertawa.
"Kenapa toh Mbak, melamun?." tanyanya dengan nada serius.
Aku tersenyum, tumben sekali Mbak Eri bicara serius.
__ADS_1
"Tadi sampai saya panggil tiga kali gak nengok, kalau ada masalah berbagilah, Mbak. Kami di sini bukan orang lain kan, Mbak." dia menaruh tangannya di pahaku. Aku menepuk tangannya.
"Iya Mbak, terimakasih."
Memang benar, warga di sini sangat ramah. Teringat saat setelah melahirkan, Mas Gaga mau mencari orang yang bisa membantuku merawat bayi Edward tapi warga di sini tidak ada yang menerima tawaran kami dan malah berbondong bodong datang bergantian membantu kami.
Membawakan hasil panen berupa sayur, buah, ikan dan umbi umbian. Tak jarang yang membawa makanan yang sudah matang dengan menu khusus ibu menyusui. Pagi pagi sudah ada yang datang membawakan sarapan untuk kami, bahkan membantu Mas Gaga membersihkan pakaian kotor bayiku.
"Jangan pakai mesin, Mas. Nanti rusak baju bayinya, biar si Mbok aja sini yang bersihkan." pinta Mbok Darmi tetanggaku.
Kami enggan menerima bantuan mereka, tapi mereka selalu memaksa dengan kata kata yang sama.
"Apa kami bukan keluarga untuk kalian?."
Kata kata ampuh mereka yang membuat kami tidak pernah bisa menolaknya.
"Saya kurang bersyukur, Mbak. Saya masih terus berkeras hati menyakiti diri sendiri dengan masa lalu saya. Sampai lupa saya memiliki suami yang luar biasa baiknya." aku mencoba berbagi dengan Mbak Eri. Walau dia orangnya di bisa serius, tapi aku yakin dia pintar menasehati orang dengan caranya.
"Gini loh Mbak, sebenarnya gampang. Mbak
masih sakit dengan perlakuan terhadap Mbak dari mantan suami. Betulkan?"
Aku mengangguk.
"Buah apel ini busuk sedikit, maka kita buang segera. Kalau gak pasti busuknya menyebar. Begitu pula dengan hatimu, Mbak. Jika rasa sakit menggerogoti hati, maka buang lah. Biarkan hati bagian yang lain sehat dan bersih. Maka hidup kita akan tenang dan damai."
"Aku akan berusaha, Mbak. Aku sudah punya Edward dan Mas Gaga. Aku seharusnya sudah bahagia sepenuhnya. Benar untuk apa aku menggerogoti hatiku sendiri dengan rasa sakit."
Dia mengangguk.
"Terimakasih, Mbak." aku menatapnya penuh haru. Aku memiliki banyak saudara, ibu, bapak dan anak anak yang berdatangan kerumah ku untuk sekedar main dengan Edward.
__ADS_1