
KRING ... KRING ...
"Halo, Apa ??? Ya baiklah..."
"Bi... Bibi..." aku cemas dan khawatir mendengar Clara di larikan kerumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Bibi lari tergesa-gesa, "Ya, Non.. Ada apa?"
"Bi, titip Edwina dulu, ya. Aku mau kerumah sakit, Clara dalam keadaan darurat.." ucapku sembari mengambil tas jinjing.
"Astaga, iya Non.. Hati hati.." ucap Bibi..
Aku hanya mengangguk dan mencium kening putriku yang sedang tidur pulas di kasurnya.
Aku bergegas menuju rumah sakit, di sepanjang jalan aku berdoa semua mereka baik baik saja. Aku memberi kabar kepada Mas Gaga dan Edward. Jika aku keluar rumah dan pergi kerumah sakit.
Pesan keluar Suamiku
"Sayang, aku kerumah sakit. Clara dalam keadaan darurat, aku mau menemaninya. Bolehkan?"
Pesan Masuk Suamiku
"Iya, Sayang. Hati hati ya, kabari aku kalau butuh bantuan, ya. Jangan terlalu capek dan cemas, sayang. Semua sudah di tentukan Allah."
'Benar, semua sudah di tentukan. Aku harus ikhlas dan sabar.' Aku menghela nafasku, mengatur debaran jantungku yang terus kencang.
Pesan keluar My❤️Boy
"Sayang, Mommy kerumah sakit sebentar ya. Titip Wina di rumah, Tante Clara dalam keadaan darurat. Kamu jangan lupa pulang sekolah makan, ya. Habis itu istirahat dulu sebelum ke kantor. M- muach."
Pesan Masuk My❤️Boy
"Iya, Mom.. Mommy hati hati, jangan sampai kelelahan. Nanti pulang minta jemput Daddy ya, Mom."
Aku terharu dengan sikap Edward yang selalu mengutamakan diriku dari pada dirinya. Aku yang seharian di rumah selalu di ingatkan agar tidak kelelahan, sedangkan setiap hari sekolah, kantor, les dan bahkan di rumah pun masih banyak kerjaan.
'Sehat selalu, Nak. Kamu segalanya untuk Mommy. Kalian anugrah yang terbesar dalam hidup Mommy.'
Pesan keluar My❤️Boy
__ADS_1
"Iya sayang, Mommy. Kamu jangan lupa istirahat sebelum kekantor ya, Nak."
KRING ... KRING ...
"Halo, Mas Reza. Ada apa?" aku khawatir tiba tiba Mas Reza menelpon. Baru saja dia mengabari, Clara di rumah sakit. Sekarang ada berita apa, aku cemas.
"Bel, bisa tolong kabari Freddy untuk membawa Mikola kesini, segera. Clara ingin bertemu, aku mohon." ucap Mas Reza.
"Baik baik, Mas."
'Ada apa dengan Clara, semoga semua baik baik saja.
Aku segera menelpon Freddy, meminta untuk membawa Mikola menemui Ibunya.
Freddy setuju, tetapi tidak mungkin segera sampai. Karna mereka ada di luar negri.
'Cara apa agar mereka bisa cepat datang?'
Pesan Masuk My❤️Boy
"Mommy sudah sampai? bagaimana keadaan Tante? Adik bayi sudah lahir?"
Aku menelpon Edward.
"Sayang, bisa bantu Mommy. Bolehkah Mommy pinjam pesawat pribadi kamu untuk menjemput Mikola dan Om Freddy?."
"Boleh, Mom. Bagaimana keadaan Tante, Clara?."
"Tante Clara tidak baik, Tante ingin ketemu Mikola. Kamu bisa bantu, kan?."
"Iya, Mom. Aku tutup telpon dulu, ya. Aku persiapkan penerbangannya. Mommy silahkan kabari Om Freddy dan Mikola untuk bersiap. Bye Mom."
Edward langsung mengakhiri telponnya. Aku merasa lega, pas sekali Edward bertanya kabar Clara. Aku teringat dia pernah mendapatkan hadiah pesawat pribadi dari lawan bisnisnya setahun yang lalu.
Aku mengabari Freddy dan keluarganya agar bersiap di bandara, menunggu kedatangan pesawat Edward.
Sampai di rumah sakit, Mas Reza sedang mondar mandir penuh khawatir. Wajah Tante dan Om Abrahan begitu cemas. Wajah lelah Mas Reza terpancar jelas dengan lingkaran hitam di matanya.
"Om, Tante, Mas Reza.."
__ADS_1
Mereka menatapku dengan sendu.
"Bella... Clara, Bel." Tante bersandar padaku, badannya hangat dan matanya merah.
"Sabar, Tante. Clara pasti baik baik saja, sebentar lagi juga sadar, Tante." ucapku menyemangati Tante. Tapi jauh di dasar hatiku, aku pun tidak yakin Clara akan membaik cepat atau membutuhkan waktu.
"Tante gak yakin, Bel. Dari kemarin dia drop banget. Tante takut bayinya juga dalam bahaya, Bella." tangisan Tante membuat hatiku pilu.
Mas Reza berdiri tepat di depan ruang periksa Clara. Dia lurus menatap pintu seakan ingin menembus kedalam ruangan.
Tubuh Om gemetar, menahan air matanya. Berusaha tetap tegar, padahal hatinya rapuh.
"Om, Tante.. istirahat dulu.Mas Reza istirahat juga, kita tunggu kabar dari Dokter. Biar aku yang gantian jaga di sini, Mas. Sambil menunggu Mikola dan Freddy." aku tidak tega melihat mereka begitu terpukul, khawatir, takut dan lelah.
"Mama dan Papa istirahat saja, biar aku tetap disini." Mas Reza memaksa tetap menunggu.
"Mas Reza, kamu harus tetap kuat di sisi Clara. Jadi kamu harus tetap sehat agar dia semangat." aku mencoba membujuk mereka.
"Iya benar kata Bella, Reza, Ma. Kita istirahat dulu, sambil menunggu kabar dari Dokter. Percuma juga kita disini tidak akan mempengaruhi apapun." Om Abraham membenarkan ucapan ku.
"Kita harus terlihat semangat dan kuat di depan, Clara. Agar dia tetap yakin dan semangat sembuh." Tante Abraham menyetujui.
Mereka pergi ke hotel sebrang rumah sakit yang mereka sewa.
Freddy memberi kabar bahwa mereka sudah di perjalanan kesini. Aku berharap semua baik baik saja, tanpa ada masalah apapun.
Sampai waktu menjelang magrib, Dokter keluar dari ruang pemeriksaan. Hatiku gemetar dengan hasil yang akan di sampaikan Dokter.
"Dok, bagaimana keadaan Clara?." tanyaku cemas.
"Kondisinya kurang baik, Bu. Saya harus bicara dengan suami, pasien." Dokter mencari cari Mas Reza.
"Oh iya, Dok. Sebentar saya panggil mereka, mereka sedang istirahat."
Dokter mengangguk dan pergi ke ruangannya.
Aku segera menelpon Mas Reza agar segera kesini. Mas Reza datang, tak lama Freddy dan Mikola pun sampai.
Mas Reza langsung keruangan Dokter, sedangkan kami tetap di depan ruang periksa. Belum ada yang di perbolehkan masuk kedalam. Entah apa yang di bicarakan Dokter, yang pasti kami semua yakin itu tidak baik.
__ADS_1
Mas Gaga, Edward dan bibi membawa Edwina kerumah sakit. Edwina haus, ASI-nya habis.