
"Mbok rindu sangat sama neng Bella. Udah lama gak meluk neng Bella. Mbok kangen tidur bareng neng." mbok Susi terus menatapku.
"Aku juga rindu mbok.. maafkan aku ya mbok banyak buat susah mbok." aku mengusap air matanya.
"Mbok dengar neng udah nikah, kok mbok gak di undang. Apa neng malu kalau mbok datang." mbok Susi menunduk pilu.
"Ya Allah mbok, aku bangga memiliki mbok dalam hidupku. Mana mungkin aku malu. Pernikahan ku hanya nikah biasa, nanti kalau ada pesta mbok pasti aku undang, mbok yang akan mendampingi aku ke pelaminan ya.. mau kan mbok ?"
Wajah mbok bersinar, ada rasa haru bahagia tersirat di wajahnya. "Apa bener mbok boleh dampingi neng ?" wajahnya menatap penuh harapan.
"Boleh mbok, mbok itu pengganti ibuku." aku mencubit pipi mbok Susi yang gempil.
Mbok tersenyum senang. Mbok melirik ibu Lastri. Aku tau mbok Susi tidak enak sekaligus meminta izin kepada ibu.
Ibu tersenyum dan mengangguk.
"Boleh mbok." Ibu Lastri tau maksud dari tatapan mbok.
"Mbok itu ibu semua anak disini, siapapun yang menikah dan ingin di dampingi, saya memberi izin dengan luas." tambah ibu Lastri.
"Terimakasih Bu." mbok Susi mengenggam tanganku.
__ADS_1
Setelah mbok Susi kembali ke dapur.
Aku mengutarakan apa tujuanku sebenarnya.
Ibu terlihat mendengarkan dengan teliti setiap perkataan ku, dari setiap kejadian dan apapun yang ku dengar semua ku ceritakan kepada ibu.
Ibu mengangguk angguk.
"Jadi begitu Bu, aku bingung harus bagaimana sekarang."
"hmm... ikuti kata hati nak, menurut ibu apapun yang terjadi di masa lalu lebih baik di lupakan. Tak perlu di cari tau apapun alasan dan masalahnya. Semua itu hanya masa lalu yang di lalu orang tua kamu. Sekarang kamu hanya perlu meneruskan dan menjalani semua dengan baik."
Aku mengerti maksud ibu, tapi hatiku berontak.
Ibu mendekati ku.
Membelai rambutku.
"Luka yang kamu rasakan apakah kamu akan torehkan pada adikmu ? sakit yang kamu rasa masa kamu tega mereka merasakannya juga ? Ibu yakin kamu bukan orang seperti itu nak."
Ibu merangkul ku. Memberiku kekuatan dari dalam agar hatiku ikhlas.
__ADS_1
"ikhlas ya nak, mamamu adalah bukti keikhlasan. Jangan nodai keikhlasannya dengan rasa penasaran mu ya."
Aku mengeratkan pelukanku.
Aku paham betul ucapan ibu. Benar, memang mama adalah bukti dari keikhlasan. Aku malah mencari kebenaran yang di sembunyikan dengan penuh luka dan perih yang beliau tahan.
"Maafkan aku ma." lirihku.
"Ibu yakin, mama mu bangga padamu nak."
mengecup kepalaku.
"Terimakasih ibu, ibu membuka hatiku. Hatiku yang sudah di penuhi rasa benci dan dendam. Dendam dengan keluargaku sendiri memang menyiksa hati."
"iya sayang."
"Sudah sekarang kalau kamu ada waktu luang, bagaimana kita main sama anak anak di belakang."
Aku mengangguk dan mengikuti langkah ibu ke belakang menemui anak anak panti.
Aku meminta supirku mengeluarkan hadiah yang kubawa belum sempat ku keluarkan.
__ADS_1
"Jangan mengotori hatimu ya nak. Yang lalu biarlah berlalu. Yang sudah pergi takkan kembali. Kita yang masih hidup harus melanjutkan hidup dengan lebih baik. Memperbaiki yang rusak, menyambung yang patah dan mengobati yang luka."