DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KANEBO KERING


__ADS_3

Segala bujukan telah di keluarkan. Dengan drama penuh kepiluan telah di sajikan.


Papa Surya masih dengan kekuatan hatinya.


Diam seperti kanebo kering.


"Ah Papa bener bener deh.. Aku kan cuma pengen denger langsung dari Papa. Aku sekarang tau, kalau aku gak sendiri Pah. Ada Glen dan mbak Bella.Betulkan ?"


Pernyataan Davina sontak membuat Papanya kaget.


Dia sudah mengetahuinya.


Ya itu sudah pasti, karna tak akan lama sampai ke telinga dia masalah ini.


Tapi dari wajahnya, dia tidak mempersoalkan masalah ini.


Papa menatap wajah Davina dengan sedikit penasaran.


Davina dengan sengaja membuat Papanya makin penasaran.

__ADS_1


"Aku sudah ketemu sama mereka. Mereka tak mau menerimaku jika Papa tidak datang pada mereka." Davina memasang wajah sendu, ya kali ini bukan kebohongan karna memang Bella menginginkan Papanya yang datang padanya.


Sakit hati mendengar Davina tidak diterima oleh anak anaknya yang lain. Lantas kalau Davina tidak diterima apakah aku di terima ?


Papa termenung. Davina tetap melancarkan aksinya.


"Aku sangat senang sekali ketika tau memiliki saudara. Aku gak sendirian Pah. Awalnya mbak Bella menerimaku sebagai adiknya. Dia menyayangiku. Tapi entah apa yang di alaminya saat ini, dia menghindari diriku Pah.. Aku ingin memiliki saudara Pah, apa aku salah. Apa aku egois Pah?" Mata Davina berkaca kaca. Ingin menumpahkan air matanya.


Papa melirik dan kembali menunduk.


Maafkan aku nak, mungkin mereka tak akan menerimamu dan diriku. Luka yang ku berikan pada mereka sangat menyakitinya. Jangankan mengakui, memaafkan pun mungkin sulit.


Sekarang apa yang aku perbuat, malah kamu yang terima nak. Papa Surya menatap Davina yang sedang menunduk menyeka air matanya.


"Ceritakan padaku apapun yang terjadi di masa lalu Pah, yang membuat Papaku meninggalkan anak anaknya yang lain." dengan suara parau menahan tangis Davina.


"Tapi itu saat menyakitkan nak, untukmu dan untuk semua." Papa mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Apapun itu aku siap Pah, lebih sakit ketika aku di akui tapi kini di tinggalkan Pah.." Rengekan Davina.

__ADS_1


Suasana sunyi menyelimuti sore ini.


Papa dan Davina sama sama menyiapkan hatinya. Entah apa yang akan di dengarnya nanti. Davina tak ingin menangis atau membuat Papanya berhenti bercerita. Biarkan Papa mengeluarkan isi hatinya. Yang membuatnya menjadi seperti ini. Yang membuatkan di acuhkan sahabatnya serta meninggalkan orang yang paling dia sayangi.


Papa Surya dilema. Jika aku bercerita tentang semua. Aku yakin hatimu akan terluka nak, sudah cukup hati yang lain ku sakiti. Aku tak ingin menyakiti mu nak. Jika kau tau siapa Mamamu, seperti apa dia. Ah sungguh tak layak di dengar nak. Apa yang harus ku ceritakan, tidak ada yang bahagia dan patut di contoh dari hidupku.


Kehancuran yang ku ciptakan sungguh hebat. Tak mungkin akan menjadi baik dalam sekejap nak. Sungguh naif keinginanmu. Bersama dengan saudara yang baru saja kau miliki.


Semoga tidak ada sedikitpun sifat Mamamu nak, jadilah wanita yang berhati tulus nak. Papa Surya mengelus kepala Davina.


"Pah.." rengekan Davina membuat Papa sadar dari lamunannya.


"Harus dari mana Papa bercerita nak.."


Davina bangkit dengan antusias.


"Semua, dari awal bertemu dengan Mama. Atau... hmm sebelum bertemu Mama. Kan papa sudah bersama dengan Mamanya Glen atau mbak Bella kan ?" tanyanya.


"Apa harus dari situ ?" Papa dengan engan.

__ADS_1


Di anggukan Davina dengan semangat. "Iya Pah, biar aku tau alasan yang membuat mbak Bella sedih."


"ya Pah ya.." rengekannya.


__ADS_2