
Panik bercampur cemas dan segala rasa yang aku rasakan. Melihat Clara yang terbujur kaku di atas ranjang. Bahkan segala alat telah di pasang, apakah ini akhir dari hidupnya? Atau sebaliknya?.
Dokter menghampiriku, "Maaf, Mbak.. Operasi ini harus segera di lakukan, kami tidak bisa menunda lagi. Bisakah hubungi keluarganya untuk menanda tangani dokumen operasi."
Aku mengangguk, "Gini saja Dok, lakukan sesuai prosedur biar saya yang tanda tangani."
"Baiklah, Mbak. Proses ini harus segera dilakukan waktu yang kami perlukan menyangkut keberhasilan operasi, kondisi pasien sangat lemah. Kami tidak bisa menjamin akan diantara keduanya jika operasi ini tidak segera dilakukan."
Aku mengangguk dan aku bergegas menuju ruang Kepala dokter, aku telah berulang kali menelpon Mas Reza tapi tidak ada kabar.
Aku menghubungi Om dan tante Abraham sebelum memasuki ruang Kepala dokter. Aku minta izinnya untuk menanda tangani dokumen operasi untuk Clara karena. Mereka setuju aku yang menandatangani dokumen tersebut dengan disaksikan kepada rumah sakit Aku menanda tangani surat operasi untuk Clara.
Aku sempat menyentuh tangannya sebelum memasuki ruang operasi
Tangannya yang dingin seakan telah membeku. Aku membisik di telinganya "Clara anakmu akan segera lahir sadarlah!! karena dia membutuhkanmu Clara, bukankah kau ingin sekali memiliki anak? Kamu akan melahirkan dan membesarkannya, kan Clara!!! bangunlah!! bangunlah!! Clara bersama anakmu, kami akan menunggu kamu di luar bertahanlah dan terus berjuang Clara kamu dan anakmu harus keluar dengan senyuman.
Clara sudah berada di dalam ruang operasi sekitar setengah jam. Mas Gaga, tante dan om Abraham hadir di ruang tunggu bersamaku. Tante terlihat sangat cemas, dia meneteskan air mata bangkit berjalan mondar-mandir dengan penuh ucap doa dari bibirnya. Sedangkan Om hanya diam terlihat tenang tapi aku tahu tubuhnya yang menggigil gemetar entah apa yang ia rasakan dan ia tahan.
Di mana kah Reza!!! yang hilang entah ke mana di saat istrinya sedang berjuang bersama anaknya di antara hidup dan mati, dia malah hilang bagai di telan bumi.
Mas Gaga merangkul ku dan membisikkan, "Reza sedang tidur, dia mabuk semalam sekarang dia tidur di apartemen. Tadi Mas dan Glen sudah coba membangunkannya tapi dia belum bangun-bangun juga makanya kami segera ke sini dan Glen tetap di sana. Entah dia mabuk atau minum obat apa aku pun nggak mengerti. Soalnya kami sudah mencoba membangunkannya dengan cara apapun dia tidak bangun."
Aku menoleh dan menatap Mas Gaga dengan tak percaya.
"Ya, Mas pun gak percaya dia tidur sampai seperti itu. Tapi kita harus bersyukur dia masih bernafas. Mas sudah meminta Glen memanggil Dokter untuk memeriksanya. Kamu tenang saja, gak usah bicara apapun pada Om dan Tante, takutnya mereka tambah panik." Mas Gaga memberiku kode dengan anggukan.
Aku membalas anggukannya.
Mungkin dia terlalu lelah pikiran, memikirkan kondisi anak dan istrinya yang sekarat. Perusahaannya yang sedang berkembang, belum lagi masalah masalah lainnya. Ya aku paham itu, dia stress.
"Tante, duduklah dulu.. Operasinya memakan waktu lebih dari satu jam. Dokter bilang, sekalian membuang penyakit yang menempel di rahim dan beberapa organ Clara. Kita berdoa semua setelah operasi besar ini, Clara bisa siuman dan kembali sehat." bujuk ku menghampiri Tante yang berdiri di depan pintu operasi.
"Apa bayinya juga belum bisa di keluarkan, Bel? Kok belum ada suara tangisan.. Tante khawatir, Bel..." matanya terus tertuju pada sebuah ruangan di balik pintu.
Aku tersenyum mencoba menenangkannya.
"Sebentar lagi, Tan. Biasanya operasi sesar membutuhkan waktu kurang lebih satu jam. Mungkin adik bayinya sudah lahir sedang di observasi. Kita tunggu saja, nanti susternya memanggil ya, Tan." aku memapah tubuhnya ke kursi tunggu.
"Dimana Reza?!! Anak bodoh itu keterlaluan, anaknya lahir dan berjuang hidup mati. Dia malah menghilang di telan bumi. Dasar lelaki tak punya harga diri, dimana jiwa tanggung jawabnya." Om berdecak.
Aku melirik Mas Gaga, memberikan kode agar dia menenangkan Om. Tapi Mas Gaga hanya menggelengkan. Aku mendengus kesal, ya aku tahu. Dia gak mau berbicara apapun yang gak perlu, apalagi dia tahu dimana Reza saat ini.
"Mungkin sedang meeting, Om." ucapku spontan.
"Sepenting itukah pekerjaannya? Huh... perusahaan saja sedang masa sulit, mungkin dia sedang stress atau menangis di sudut ruangan." mendengus kesal.
Aku hanya menghela nafas.
__ADS_1
Oh.. suamiku. Tolonglah tenangkan orang tua yang sedang cemas bercampur kesal itu.. Dia malah diam menatap ponselnya.
"Aku permisi sebentar.." Mas Gaga pamit menerima telpon.
"WHAT!!!" Dia meninggalkanku untuk membujuk dua orang tua ini.
Berselang beberapa menit, Mas Gaga datang bersama Glen dan Mas Reza yang sedikit pucat.
"Kamu kemana aja, REZA!!! Kamu gila, di saat masa genting malah menghilang." bentak Om Abraham seketika melihat Mas Reza masuk ruangan.
Belum sempat Mas Reza menjawab, pintu samping ruang operasi terbuka. Keluar seorang suster mengenakan pakaian operasi dengan maskernya.
"Permisi.. Bapak dari bayi silahkan masuk." ucapnya.
"Ah.. sudah lahir ya suster? sehat selamat? normal?" aku penasaran dan tak sadar banyak bertanya.
"Iya, Bu.. Adik bayinya sudah lahir, sehat dan normal. Jenis kelaminnya perempuan, mari silahkan Bapak dari bayinya, siapa?." tanyanya.
Kami semua menatap Mas Reza yang terpaku, wajahnya yang pucat semakin biru, bibirnya gemetar.
"S- ss saya.." ucapnya.
"Silahkan, Bapak." suster mempersilahkan Mas Reza masuk.
"Bel.. bayinya selamat, Bel. Terimakasih Tuhan.." Tante mengangkat kedua tangannya mengucap syukur kepada Allah SWT.
"Iya, Tante. Aku berharap Clara pun akan selamat." aku memeluk Tante dengan erat.
"Kenapa hanya Bapaknya yang boleh masuk, aku Kakeknya kenapa gak di ajak masuk." cetus Om Abraham dengan nada tak suka.
Kami yang mendengar, langsung menatapnya. Dengan tatapan polosnya, "Kenapa kalian menatapku?. Apa aku salah bicara?." ucapnya lagi.
"Tidak sayang... " Tante Sarina mendekati Om dan memeluknya.
"Kamu memang Kakeknya, dan aku neneknya.. Tapi kita tidak bisa masuk kesana, karna ruangan itu tidak bisa di masukin banyak orang. Kita sabar menunggu disini saja ya.."
Glen dengan kejahilannya menelpon Reza yang ada di dalam.
"Vidio dong, ada kakeknya yang merajuk karna gak di ajak kedalam ni." godanya dengan melirik Om Abraham.
Om langsung menatap lurus Glen dengan wajah tak suka.
Glen cekikikan..
"Ni, Kakek... lihatlah cucu perempuanmu ini.." Glen menyerahkan ponselnya pada Om Abraham.
Terlihat gambar bayi yang lucu, mungil, putih dan cantik yang sedang menggeliat di dalam inkubator. Terdengar suara tangisan dari Reza, serta bisingnya ruang operasi.
__ADS_1
Tes ....
Setetes air mata jatuh di layar ponsel. Tanpa sengaja aku menengadah menatap sumber air tersebut.
Om dan Tante menangis haru, melihat cucunya lahir. Tiba tiba ada rasa pedih di hatiku. Aku terdiam. Merasakan perasaan yang tiba tiba menyerang hatiku.
Mas Gaga yang begitu peka terhadapku, langsung menghampiriku dan memapahku duduk.
Dia merangkul ku dalam pelukannya, tak terasa air mataku mengalir.
"Sabar, sayang. Semua sudah berlalu.. Lupakanlah.. Kamu sudah ada aku dan anak anak kita." dia mengusap punggungku dengan lembut dan mengecup keningku.
"Entahlah, Mas. Tiba tiba hatiku sakit." rintihku.
"Iya, Mas paham. Menangis lah, setelah itu ikhlaskan lah.. " dia terus mengecup berulang kali kepalaku.
Teriakan teriakan kecil dari Om dan Tante Abraham membuat hatiku bergetar, rasa sakit yang sulit aku jelaskan.
"*Cucuku,, cantiknya.."
"Siapa dulu Neneknya,.. hidungnya cantik.."
"Aku gak sabar pengen menggendongnya dan melihat dia membuka matanya."
"Cucu kesayanganku!!."
"Kesayangku juga!!."
"Dia pasti akan menjadi anak yang menggemaskan, cantik, elegan seperti Neneknya."
"Dia harus jadi wanita yang pintar, cucu pertama keluarga Abraham. Namanya harus aku yang berikan."
"Ya ya terserah kamulah, Kakek*."
.... Ya Allah, bolehkan aku merasakan ini? Rasa sakit ini kenapa hadir di saat seperti ini, aku tidak menyangka akan merasa seperti ini. Aku ingin pergi dari tempat ini, aku sudah gak kuat mendengar perdebatan manis mereka...
"Mas, bawa aku pergi.." pintaku.
Mas Gaga mengangguk, dia menuntun tanganku.
Aku mengusap air mataku.
"Om, Tante.. Karna bayinya sudah lahir. Kami berdua pamit, Bella sudah terlalu lama meninggalkan anak anak dirumah." Mas Gaga pamit.
"Oh, iya iya.. Terimakasih banyak ya, Bel.. Nanti kesini lagi ya, bawa anak anak juga.." dengan wajah sumringah Tante menatapku tanpa melepaskan ponselnya.
"Hati hati di jalan, Ga." ucap Om Abraham.
__ADS_1
Kami mengangguk.
Mas Gaga menepuk bahu Glen dan mengangguk. Aku jalan menunduk di sisi Mas Gaga, sepintas melihat tatapan Glen yang sedikit bingung.