DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
HARAPAN


__ADS_3

Mikola, Edward dan Dokter keluar dari ruangan Clara. Mikola di gendong Freddy karna lelah matanya hampir terpejam.


Edward menghampiriku, adiknya dan Bibi.


"Ada apa, Nak?." tanyaku padanya.


Dia menggelengkan kepalanya, "Dokter gak bicara apapun, Mom. Mungkin bicara nanti dengan Om Reza didalam." jawabnya sambil menggoda adiknya.


"Iya, sayang. Istirahat lah. Sebentar lagi kita pulang." ku usap kepalanya. Ku lihat raut wajah Reza dan yang lainnya muram.


"Apa tadi Tante Clara merespon obrolan Mikola, sayang?." melihat dari tampang mereka di depan sana sepertinya tidak ada respon.


Edward pun menggelengkan kepalanya.


"Tante Clara, hanya menangis, Mom." aku mengangguk.


Mas Gaga menghampiri kami yang duduk di ujung lorong. Karna Edwina sedang di pangkuan Bibi.


"Kita pulang, yuk. Istirahat sudah malam, kasian anak anak." menatap Edwina dan Edward bergantian. Aku mengangguk.


"Kita pamit dulu, bagaimana perkembangannya, Mas?." aku bangkit meraih tangan Edward, mengajak berpamitan.


"Titip, Edwina ya, Bi." meninggalkan Edwina dan Bibi.


"Belum ada respon apapun kecuali air mata. Ya semoga Clara bertahan, ada keinginan untuk hidup setelah mendengar suara Mikola." Mas Gaga merangkul pinggangku.


"Aamiin, apapun itu aku hanya berharap yang terbaik untuknya. Karna hanya Allah yang tau apa yang terbaik untuk hambanya." dia mengecup keningku dan mengangguk.


"Om, Tante, semuanya. Maaf ya, kami pamit pulang. Kasian anak anak sudah lelah." pamit Mas Gaga.


"Iya, Ga. Terimakasih banyak ya.. Bella, Edward.. Sudah menemani Tante Clara di sini." suara parau Tante Sarina.

__ADS_1


Aku mengangguk, "Tante yang kuat ya, jaga kesehatan. Jangan lupa istirahat dan makan. Kita yang sehat harus tetap sehat untuk menjaga Clara dan bayinya tetap sehat." mengelus punggung tangan Tante Sarina.


"Lalu Freddy dan Mikola. Mau ikut kami pulang, menginap di rumah atau sudah pesan hotel?." Mas Gaga bertanya pada Freddy. Kebetulan Mikola sudah tidur dalam gendongan Freddy dan tidak mungkin anak sekecil itu harus tidur di ruang tunggu.


Freddy tanpa cemas menjawab, karna dia sendirian menjaga Mikola. Dan Mikola sudah tidur.


"Ikut saja sama kami pulang, Freddy. Kasian Mikola, harus istirahat yang nyaman." aku mengusap punggung Mikola.


"Apa tidak masalah?." ucapnya pelan.


"Masalah apa? Dia sudah seperti adik untuk Edward." aku melirik Edward di sisiku.


Edward mengangguk. Freddy pun mengangguk.


"Terimakasih, mbak."


****


"Kakak, ant - t e sakit ?." suaranya yang menggemaskan menyentuh hatiku.


"Iya, Mikola. Doakan Mama Clara agar cepat sembuh, ya." suara Edward hangat.


"Mama? Mama na - na ?"


"Ini Mama Clara, Mik. Coba pegang tangannya." tangan mungil yang hangat menyentuh tanganku, ingin sekali aku merangkul dan memeluk erat tubuhnya.


"Mama La - La.."


"Iya Mama Clara, bilang sama Mama Clara kalau Mikola sudah sampai di sini."


Tangan kecilnya mengusap pipiku.

__ADS_1


"Mama Clara .. Mikola sudah di sini, Mama bangun, ya. Yuk coba Mikola bilang gitu." Edward menuntun Mikola.


"Mama La - La, Miko ni, Mama ng- u n ya.."


Hanya tangisan yang bisa menjawab suara merdu yang ku rindukan. Aku yang tidak berhati ini sampai tega memisahkan malaikat kecil ini dari keluarganya.


Mikola anakku, aku telah memanfaatkan hidupnya dahulu. Aku bersyukur karena akhirnya dia berhasil lepas dari genggaman ku yang kejam.


Edward, anak yang baik dan hangat. Walau dia jarang sekali berbicara. Dan aku memiliki dosa yang besar padanya, aku merebut Papa yang seharusnya ada di sisinya. Menyayanginya, melengkapi kehidupannya. Bahkan aku menghancurkan kebahagiaan yang belum terjadi untuknya.


Aku berdosa kepada kalian semua.


Reza, kamu ku pisahkan dari seorang istri yang amat kamu sayangi dan menyanyainmu, bahkan aku pisahkan kamu dari darah daging mu. Aku selalu ingat ekspresi wajahmu saat memikirkan Edward, hatimu sakit saat mendengar dia memanggilmu "Om". Beribu maaf untukmu, Reza. Aku tahu penyesalanku tidak akan mengembalikan kata "Om" menjadi "Papa" untuk Edward.


Bella, kamu manusia terbaik yang pernah aku temui. Aku merebut suamimu di saat kamu hamil, tapi kamu malah selalu menemaniku di setiap masa sulit. Kehamilan Mikola bahkan sampai melahirkan. Entah hatimu terbuat dari apa, aku sungguh iri pada hatimu yang bisa begitu tulus memaafkan ku. Aku yang selalu mengacaukan kebahagiaanmu, tapi kamu yang selalu merangkul ku dalam kesulitan.


Kalian manusia yang ingin ku temui di kehidupan yang akan datang. Aku berharap kehidupanku nanti, aku adalah salah satu dari keluarga kalian yang bisa mencintai, saling sayang dan bahagia tanpa merusak kebahagiaan orang lain.


'Nak, peluk Mama.. Di perut Mama ada adik mu yang lucu.. Nak.. bisakah Mama membesarkan adikmu, sebagai ganti penyesalan Mama karna meninggalkanmu..'


Terasa hangat saat tubuh mungil Mikola memelukku, mungkin dia mengerti keinginanku. Mungkinkah masih ada ikatan batin kami yang tersisa.


'Terimakasih, Nak... Maafkan, Mama.'


"Dok, Mikola sudah lelah. Bolehkan dia istirahat?." suara Edward berbicara dengan Dokter.


"Baiklah, Dik. Nanti kita coba bicara lagi, semoga ada perkembangan baik."


Edward mengangkat tubuh mungil yang menimpa tubuhku. Ternyata dia bukan hanya memelukku, tapi tertidur di atas tubuhku. Andai ada kesempatan, Nak. Mama akan menidurkanmu dalam pelukan, Mama.


'Tolong jangan bawa pergi, Mikola. Dia harapan ku saat ini, suaranya, sentuhannya. Membuat hatiku hangat.' Aku ingin teriak melarang Edward membawa Mikola, tapi percuma. Jangankan bersuara, menggerakkan bibir bahkan aku tak mampu.

__ADS_1


'Tuhan, bisakan aku terus egois. Biarkan anak anakku hidup dengan bahagia, walau bukan bersamaku!. Bisakah kau berikan kesempatan untukku, menebus kesalahanku yang telah memisahkan Ayah dan anak kandungnya? Bisakah biarkan aku memberikan gelar 'Papa' untuk Reza?.'


__ADS_2