DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
BUKAN BULAN MADU


__ADS_3

Aku dan Mas Gaga berniat liburan sesuai permintaan putraku tersayang, Edward.


Dia telah mengatur liburan kami selama tiga hari. Edward berkata bahwa kami harus menghabiskan waktu bersama sebelum adik bayinya lahir. Anak itu sungguh pengertian dan penyayang.


"Mommy berangkat ya, sayang.. Kamu benar tidak ikut, Nak?" Belaian pada kepalanya. Dia sedang serius menatap Ipadnya, memperhatikan grafik saham di hadapannya. Aku berpikir apakah gak masalah anak sekecil ini sudah bermain dan bisnis, padahal aku sendiripun masih di bantu dan memerlukan les privat tentang bisnis saat pertama kali bergabung di perusahaan Mamaku.


"No problem, Mom. Aku sudah mengatur untuk kalian, kenapa aku harus ikut. Aku akan mengatur sisa pekerjaan Daddy di sini sampai saatnya Daddy kembali ke perusahaan." Ucapnya menatapku penuh percaya diri.


"Tapi, Nak.." aku menghentikan ucapku, karna aku tahu betul jika dia sudah berkata, tidak ada kata "tapi".


"Baiklah, sayang.. Jika kamu ada kesulitan, telpon segera Daddy dan Mommy ya. Dan juga Om Ricardo atau Om Glen ya." Pintaku.


"Baik, Mom. Trust me, Ok." Dia mengecup pipiku. Mengusap perutku yang sudah membuncit. "Adik, jangan buat Mommy kesakitan dan kelelahan, ya. Kamu harus baik baik di dalam sampai kita bertemu." Dia mengecup perutku.


Aku mengusap punggungnya, betapa beruntungnya aku memilikinya. Anak yang membuatku semangat untuk berjuang di kala kehilangan kepercayaan. Anak yang selalu membuatku bangkit di saat aku sudah tidak mampu tuk berdiri.


"Terimakasih,Nak. Karna kamu sudah hadir dalam hidup Mommy dan kamu sudah menjadi penyemangat Mommy."


Kami berangkat berlibur di sebuah pulau kecil yang indah. Pulau Peucang yang indah di sebrang kota Serang. Udara yang sejuk, suasana yang hangat dan tidak ramai tidak juga sepi. Baru pertama kali aku berlibur di pulau seperti ini.


"Sayang, sepertinya keromantisan mu kalah dengan anakmu." Godaku melihat sekeliling.


Mas Gaga tersenyum dan ikut menatap sekeliling.


"Iya Sayang, sepertinya aku harus banyak belajar." Ucapnya merangkul menuruni Speedboat yang kami pakai untuk menyebrang laut.


"Tidak ada begitu banyak pelayan, tidak juga kerusuhan dengan mengosongkan pulau. Edward benar, berlibur seperti ini lebih nyaman di banding berduaan ya." Puji Mas Gaga pada putranya.


"Tuan, barang sudah kami siapkan di villa." Ucap bodyguard yang di siapkan Edward.


Aku menoleh menatap dua sosok pria berpakaian santai dan satu wanita di sisi Bella. Aku mengangguk.


"Dimana villanya, mbak?." Tanya Bella pada asisten wanita.


"Di sana, Nyonya." Dia menunjukan satu villa mungil yang rapi dengan letak tidak dekat laut, tapi sangat strategis. Di sekelilingnya banyak villa lain yang berjejer.


Sesampainya di villa aku menyadari, tempat ini lebih indah di lihat dari dalam villa. Villa yang berlantai dua itu bisa dengan leluasa menatap kelautan lepas. Asisten Lusy yang mendampingiku sudah menjelaskan, ada pemandian air hangat di kamar mandi. Dan makanan laut yang sedang di siapkan untuk makan siang kami.


Aku sudah tak sabar menantikannya, menikmati ikan, sotong, gurita ah dan semuanya di pinggir pantai.


"Sayang.. bukankah ini luar biasa. Indah sekali jika ini adalah saat dimana kita berbulan madu." Godaku pada Mas Gaga yang sedang menatap lautan.


"Anggap saja ini bulan madu kita, sayang. Aku sungguh malu padamu." Dia memelukku dan mengecup kepalaku.


"Apakah ada yang berbulan madu dengan perut yang sudah buncit ini, Mas." Ledek ku dalam dekapannya.


"Ada sayang, bukan kan kita sedang melakukannya." Tawanya.

__ADS_1


"Kamu tak tahu malu." Tawaku mencubit lengannya.


Rasanya jika aku tidak sedang hamil besar, aku sudah lompat ke dalam laut. Dengan menatap air yang berwarna biru yang di penuhi terumbu karang di bawahnya. Bahkan mungkin jika kita menyelam sedikit saja, ikan ikan sudah terlihat. Sedari kecil aku ingin sekali mencari ikan Nemo langsung dari laut. Hehe


"Sayang.. geli ah.." Mas Gaga yang asik mengecup leherku.


"Jangan mengeluarkan suara menantang dong kalau kamu gak mau aku ajak perang sekarang." Dia bergelayut di pundak dengan wajah sendunya.


"Mau dong di ajak perang.." godaku.


"Yuk.. yuk.." antusiasnya kegirangan.


"Hem... tapi sayangnya adiknya Edward laper ni Mas, gimana dong." Ledekku sambil mengusap perutku.


Mas Gaga menghela nafas panjang dengan wajah lesu menatap perutku.


"Ya sudah, kita makan siang dulu yuk. Sepertinya dia kecapekan ya.." Mas Gaga mengusap perutku.


Tiba tiba ada tendangan yang lumayan kuat sehingga berbentuk seperti gundukan mengerucut dari dalam sana. Membuat aku terdiam kaget dan Mas Gaga nampak haru di wajahnya.


"Dia menendang ku, sayang." Wajahnya kegirangan.


"Sepertinya bukan, Mas. Dia menyikut mu." Ucapku. Aku meraba perutku yang masing menonjol mengerucut. Mas Gaga mengangguk dan tersenyum.


"Ada apa sayang, sudah laper ya. Yuk kita makan.. Kamu mau makan apa, Nak ?." Tanyanya seolah bertanya pada anak yang sudah bisa berbicara.


"Mas.. mas.. lihatlah.." aku menuntun tangan Mas Gaga yang satu ke bagian perut bawahku.


"Wah.. dia menjawab Mom.." mengusap perutku dengan lembut dan mengecupnya.


"Wah pintarnya anak Daddy, kita makan ikan laut, sotong kamu mau nak.. atau gurita, kepiting.." seakan menunggu jawaban Mas Gaga terus menatap perutku.


Tak lama tonjolan mengerucut menghilang berganti dengan tonjolan bulat besar. Seperti kepala, mungkin dia mengangguk di dalam sana.


Aku dan Mas Gaga tertawa, dengan penuh haru memperhatikan setiap gerakan kecil yang menonjol di perutku. Walau aku bisa merasakan setiap gerakannya di dalam sana, tapi untuk menunjukan kepada Mas Gaga hanya anaknya yang bisa.


Mas Gaga meneteskan air mata harunya, memang benar. Saat aku hamil Edward sesekali dia meminta izin padaku untuk mengusap perutku dan merasakan gerakan Edward di dalam sana. Saat ini, ini adalah anaknya. Dia tidak perlu meminta izin padaku dengan bangga aku mengizinkannya merasakan kehadiran anak kami.


"Terimakasih sayang, kalian kebahagian terindah dan termahal yang aku miliki." Mas Gaga memelukku erat.


Wah memang sudah sangat lapar sepertinya yang di dalam sana. Di saat sedang suasana penuh haru, dia terus bergerak di dalam. Membuat kami berdua tertawa.


"Baik baiklah, sepertinya kita sudah terlalu lama menahan adiknya Edward ini untuk makan. Mari sayang.. kita makan siang." Tawa Mas Gaga mengusap perutku.


Kami makan di pinggir pantai, di bawah rindangnya pohon. Dengan ikan dan berbagai jenis binatang laut yang segar dan masih panas. Mbak Lusi sedang mengoles bumbu pada kaki gurita, Pak Didi dan Pak Agus sedang membakar lauknya.


Aku menikmati kepiting bakar saos kecap. Sedangkan Mas Gaga menikmati sotong.

__ADS_1


Ah sepertinya makan dengan suasana ini tidak akan cukup satu dua ekor lauk.


Aku melahap kerang saos tiram dan gurita bakar madu. Sudah beberapa porsi dengan jenis berbeda, tapi perutku tidak merasa kenyang sedikitpun.


Mas Gaga sudah selesai makan, dia menatapku dengan senyuman.


"Kenapa, Mas. Mau.." aku mengigit lobster yang kami siapkan dari rumah.


Dia menggeleng.


"Aku sudah cukup, sayang. Kamu makanlah yang kenyang, kasian adiknya Edward dari tadi sudah berontak minta makan." Dia meminum jus mangga kesukaannya.


Aku melanjutkan makan. Dengan semilir angin dari laut. Aku mengakhiri makan dengan gigitan daging iga bakar. Aku sedikit makan nasi, tapi lauknya lebih dari lima jenis ku makan.


Setelah selesai dengan daging iga bakar. Perutku sudah mulai merasa kenyang.


"Sudah dulu, Sayang. Nanti perut kamu kepenuhan. Nanti di lanjut lagi." Pinta Mas Gaga. Meraih tanganku yang sedang menuju ke arah sosis.


Aku tersenyum menatap wajahnya seolah tak merasa kelebihan makan.


"Jangan pura pura polos gitu, lihatlah piring di sebelah mu sudah berapa?." Telunjuknya mengingatkanku.


Aku menatap piring kosong yang bertumpuk di sisi meja. Dan beralih menatap Mbak Lusi sedang membakar ikan kakap sambil tersenyum. Dua bapak bapak itu pun tersenyum. Aku jadi malu, ternyata aku sudah terlalu banyak makan. Sampai sampai lupa mereka juga harus makan.


"Hem.. Mbak, Pak.. kalian makan lah dulu. Kami mau menikmati angin di sini." Ucapku mengalihkan rasa malu.


Mas Gaga terkekeh. Aku menatapnya dengan bibir cemberut. Dia berhenti tertawa dan mengatupkan bibirnya.


"Aku gak merasa banyak makan, aku juga belum kenyang, Mas." Ucapku pelan.


"Ya sayang, kamu gak banyak makan kok. Tapi nanti di lanjut lagi ya. Kamu tadi juga gak makan nasi kan. Nanti sore kita makan lagi ya." Bujuknya.


"Gimana kita jalan jalan, melihat pantai dan berbaur dengan pengunjung lainnya." Ajaknya. Aku mengangguk dan bangkit dari kursi. Tak lupa aku meraih dua potong sosis bakar jumbo di tanganku.


Mas Gaga tersenyum.


"Buat nyemil, Mas. Teman di jalan.." ucapku.


Aku memang penyuka jenis ikan, apalagi di bakar.


###


Selamat Datang kembali para reader...


mohon maaf atas Hiatus sementara novel ini..


semoga ada saran dan kesan yang baik untuk saya..

__ADS_1


di tunggu komen dan likenya ❤️


__ADS_2