DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEKANAK KANAKAN


__ADS_3

Reza merajuk seharian.


Bella sibuk dengan pekerjaan kantornya.


Pemindahan kepemilikan saham atas nama dirinya dan juga ada beberapa hal yang harus dilakukan.


Bella lupa mengabari Reza.


Reza memandang ponselnya sedari pagi tak berbunyi. Bukan tak berbunyi tapi notif khusus untuk sang istri sama sekali tak berbunyi.


Ingin sekali dia menelpon dahulu, tapi egonya melarang.


Reza mendengus.


"Baru beberapa hari masuk kantor sudah melupakanku." bibir Reza manyun menatap layar ponselnya membuat sang asisten di hadapannya tersenyum.


"Maaf pak, di telpon aja ibunya.." saran asisten.


Reza menatap wajahnya dan menggelengkan kepalanya.


"Malu lah saya kalau nelpon duluan." ujarnya.


"Ya tapi kalau di tunggu kan ibu lagi sibuk pak, maklum hari pertama." sarannya lagi.


"San, Saya ini seorang suami. Masa suami duluan si yang ngabarin istri." ucapan Reza membuat Sandi tertawa.


Melihat Sandi tertawa membuat Reza kesal dan mendengus.


"Kenapa kamu tertawa ?"


Sandi menggelengkan kepalanya.


"Pak, kalau dalam hubungan itu sepertinya tidak perlu membedakan gender. Malah itu akan membuat pasangan kita gak nyaman. Coba Bapak lebih perhatian sama ibu, ibu pasti akan senang dan lebih bahagia di perhatikan Bapak. Jangan satu arah, tapi harus saling seimbang." nasihatnya.

__ADS_1


"Ah tau apa kamu, kamu aja masih jomblo." ucap Reza tanpa perasaan. Membuat Sandi menatap tajam wajah Reza.


Huh di bilangin gak ngerti. KEKANAK KANAKAN.


"Terserah Bapak deh, saya pamit." Sandi melangkah pergi meninggalkan Reza.


***


Bella melangkah masuk ke dalam kantor.


Peperangan di mulai.


Pertemuan pertama kali sebagai Putri Nyonya Kartika sang ahli waris dengan Papanya Surya Hartanto.


"Selamat Siang Bu, Selamat datang di Effort Factory." Sambutan dari Raga.


Bella mengangguk.


Bella memasuki ruang rapat yang sudah di hadiri seluruh pemilik saham termasuk Papanya yang masih menjabat sebagai Direktur utama.


"Selamat siang semua." Sapaan Raga.


Seluruh anggota mengangguk.


"Kita sambut Ahli waris Effort Factory, Ibu Bella Saphira."


Seluruh anggota menatap dan bertepuk tangan.


Seperti biasa, ada yang menyambut hangat ada pula sambutan dingin.


*Deg.


Dia anakku ! Dia anak Kartika. Bella Saphira*.

__ADS_1


Raut wajah Papa Surya sulit di artikan.


Tatapan malu, marah, kecewa dan rindu.


Tatapan Bella dan Papa Surya bertemu.


Mereka ada di kursi yang saling berhadapan.


Bella mengangguk tersenyum.


Papa Surya diam dan mengangguk.


Mungkin dosaku terlalu besar, sampai sampai kepada anak kandungku sendiri ku tidak mengenalinya. Gadis yang sudah ku hina dan ku ancam berkali kali, ternyata dia anakku.


Papa Surya terus menatap wajah Bella dari kejauhan.


Sungguh memang cantik mirip sekali dengan Kartika. Kenapa selama ini aku tidak memperhatikannya. Tampilan sederhana dan lembut. Kartika.. putrimu sungguh cantik dan anggun.


Bella merasakan tatapan mata Papa Surya. Tapi bukan kesal atau benci, melainkan kecewa.


Rapat selesai tanpa perdebatan. Papa Surya yang biasanya berdebat kini diam senyap.


Berbeda saat Glen hadir di Ocfar factory.


Raga sedikit aneh pemandangan itu. Pasalnya belum lama ini, Papanya Ridwan Raga telah habis di caci dengan makian kasar dari Pak Surya. Tapi kini hanya senyap tanpa perdebatan. Sorot marah dan kesal pun tidak membara.


Apakah ini wajar ? Aku harus tetap waspada.


Serigala banyak sekali yang berbulu domba.


Raga melirik Bella. Bella hanya tersenyum.


Bella meninggalkan ruang rapat.

__ADS_1


Papa Surya ingin mengejar, tapi seolah tertahan dengan segala ingatan masa lalunya. Hinaan, makian, ancaman telah dia lontarkan kepada Bella sebelumnya.


Alangkah malunya aku berhadapan dengannya. Yang hanya diam menatapku dengan lembut, senyumnya selalu terukir. Kartika.. Dia adalah cerminan mu..


__ADS_2