DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
APA KAMU MENCINTAIKU?


__ADS_3

Aku sudah mati rasa dengannya. Untuk apa aku mempertahankan sesuatu yang sudah tidak layak di pertahankan. Semua persiapanku sudah selesai, tempat tujuanku tinggal dengan anakku nanti sudah beres. Ku lihat isi lemari, pakaian sepertinya tidak perlu di bawa. Hanya beberapa lembar dan pakaian dalam. Toh aku hamil pasti nanti pakai baju longgar.


Surat kuasa untuk perusahaan sudah di tangan pengacaraku, Gaga.


"Siapa si pagi pagi ganggu orang tidur.." aku meraih ponselku yang berdering berulang kali.


"Mas Reza.. Ada apa dia telpon.."


"Halo, sayang. Lagi apa?"


Tumben sekali dia telpon padahal dari semalam gak ada kabar.


"Awuku baru bang gun.. ada apa, Mas?" jawabku sambil meregangkan otot-otot tubuhku.


Dia bilang tidak apa, lantas bertanya aku di mana? Oh mungkin kekasihnya sudah bilang kalau aku sudah tau hubungan mereka. Dan Mas Reza takut aku kabur ke rumah Papa. Untuk apa aku ke sana, di sana atau di sini sama aja. Kalian semua berkomplot mengkhianati aku.


Dengan suara lirih dia bertanya tentang kekasihnya. Iya aku sudah tau hubungan kalian. Lantas apa yang kalian harapkan dari ku, pengertian!!!.


Kalian tidak pantas di kasih pengertian, apa lagi kepercayaan. Aku sudah muak dengan kalian semua.

__ADS_1


Dia bilang aku siap di madu?


Madu itu manis, sayang. Tapi bukan madu dalam hubungan. Tidak pernah berpikir untuk berbagi, sekalipun aku harus kehilangan segalanya.


Setelah ketahuan selingkuh dan berkhianat, masih mengharapkan kebersamaan. Itu mustahil untuk ku, aku bukan boneka mu Mas.


"Kamu tidak berpikir tentang perpisahan?"


"Apa kamu mencintaiku?" terbukti tidak, jika iya kenapa harus ada perselingkuhan.


Lantas aku harus berpikir apa, sampah sebaiknya di buang ke tong sampah. Jika masih layak di pakai, ya kasih saja sama orang yang membutuhkan. Aku tidak butuh sampah.


Mama Syarina, Papa Abraham dan bahkan papa Surya selaku orang tua kandungku, ikut membantumu berkhianat. Lalu apalagi yang ku harap dari kalian. Aku orang yang baik hati, akan ku wujudkan keinginan kalian bersama.


Kalian tidak membutuhkan ku begitupun, aku.


Kalian tidak peduli dengan yang aku alami, begitupun akan aku, balas.


Aku turun untuk sarapan, Papa menatapku sendu aku membalasnya dengan senyuman. Ya berkatnya lah aku tau jika hadirnya diriku tidak berarti bagi siapapun.

__ADS_1


Mama Syarina menunduk diam tidak berani menatapku.


"Selamat pagi, Pa, Ma." ucapku seraya menarik kursi.


"Pagi, Bell. Bagaimana tidurmu?" Papa menjawab salam ku tapi tidak dengan Mama.


"Biasa, Pa. Mama kenapa, kok diam aja?" aku melirik Mama yang terus menunduk.


"Ng - gak apa, say- yang." ucap Mama terbata bata.


"Oh ya sudah, kita mulai sarapan. Kebetulan hari ini aku ada urusan penting untuk dilakukan setelah ini." ucapku mengambil nasi dan lauk untukku.


"Urusan apa, Bell?" tanya Papa sambil makan.


"Kerjaan, Pa." ucapku sekenanya.


Papa mengangguk dan meneruskan makannya.


Aku tau perasaan Mama canggung terhadap ku. Dia diam diantara perasaan malu dan kecewa pada dirinya yang tidak bisa bersikap normal di hadapan ku.

__ADS_1


Mungkin Papa sudah bilang, kalau aku sudah tau kenyataan hubungan Mas Reza dan kekasihnya. Ya terserah lah, aku juga sudah gak lama di sini. Aku hanya menikmati sarapan terakhir di rumah ini. Hari ini aku akan bersiap pergi, sebelum itu aku harus ke kantor untuk meeting dengan para pemegang saham.


Mama mencuri curi pandang kepadaku, wajahnya sendu ketika menatapku. Ada rasa iba dan kasian di matanya. Aku tidak butuh itu, sebelum kalian mengkhianati, aku. Kemanakah rasa iba dan kasian kalian?


__ADS_2