
Sudah beberapa hari aku terbaring disini dengan kaku. Ada beberapa orang yang datang dengan suara yang sudah aku kenal. Tapi seseorang yang ku tunggu tidak ada datang.
'Reza, apakah kamu sudah menyerah? Apa kamu sudah melepaskan ku dan anak kita, kenapa kamu tidak datang menemui ku?'
Rasa sakit yang sudah menjadi teman beberapa bulan akhir ini, teralihkan menjadi sebuah kehampaan. Rasanya tidak terlalu sakit, lebih sakit diasingkan oleh orang yang paling di harapkan.
'Nak, kamu harus lahir dengan selamat. Tumbuhlah sehat dan menjadi manusia yang baik. Nak, Mama tau kamu mendengar semua ucapan setiap orang yang datang. Kamu tahu Nak, orang orang yang datang menemui Mama adalah orang yang sering Mama sakiti. Mama titip pesan ya, Nak. Kamu harus belajar dari mereka, walau di sakiti berulang kali oleh Mama mu ini. Mereka tetap sayang dan peduli pada kita, Nak.'
Tubuh yang tidak berdaya ini, membuatku semakin tak karuan. Suara dan sentuhan sekalipun tidak mampu ku lakukan. Aku berusaha keras mengeluarkan suara. Setidaknya jika aku bisa bersuara ada satu harapan untukku.
Dokter mengatakan sudah tak ada harapan untukku pulih. Tapi itu tidak masalah, karna aku hanya ingin anakku selamat. Yang jadi masalah adalah bagaimana aku bisa bersuara atau menggerakkan tanganku. Aku harus menitipkan anakku kepada seseorang. Aku ingin dia menjadi anak yang baik, berjiwa hangat, tulus dan ikhlas dalam menjalani hidup. Aku tidak ingin dia jatuh ke jurang yang sama sepertiku. Sifat iri hati kepada orang lain, serakah dan arogan, sehingga membuat hidupku hancur seperti ini.
Sedari kecil, aku rindukan kasih sayang keluarga. Ibuku menikah lagi dan pergi bersama keluarga barunya. Ayahku pun sana dia meninggalkan ku dengan ibuku demi wanita lain. Aku di tinggalkan begitu saja oleh mereka yang seharusnya pelabuhan untukku. Tiap kali aku mengingat kembali perlakuan mereka kepadaku, membuat muak hatiku. Rasa sakit yang kurasakan berubah menjadi ambisi yang membawaku ke lubang kehancuran. Aku kesepian, aku merindukan pelukan hangat mereka. Mereka melupakanku dan membuang ku seolah aku tak pernah ada. Tapi mereka memeluk dengan hangat keluarga baru mereka, kenapa kepadaku tidak? Apa salahku kepada mereka?
Aku menginginkan semua itu, kebahagiaan, pelukan hangat, keluarga yang utuh! Aku berusaha keras mendapatkan perhatian dari siapapun, hingga menjadi pusat perhatian.
Tapi itu hanya menciptakan rasa puas itu hanya sesaat. Tapi kebahagiaan yang ku dambakan sama sekali tak kurasakan.
Saat ini aku hanya bisa merasakan gerakan janinku di dalam perut. Aku yakin dia bosan di sana, tendangan demi tendangannya terasa linu di perutku.
Aku ingin sekali membasahi tenggorokanku, terasa perih saat aku memaksakan bersuara.
****
"Menurut tes terakhir, kondisinya baik baik saja. Hanya tidak ada perkembangan apapun. Respon yang di tunjukan hanya melalui air mata."
__ADS_1
Aku mengangguk, "Apa janin baik baik saja, Dok?."
"Untuk saat ini baik, Mbak. Jika alat vital dari si ibu janin masih berfungsi normal, insha Allah itu tidak mempengaruhi pertumbuhan janin."
Aku menghela nafas, ada sedikit lega di hatiku. Jika salah satu dari mereka berdua masih ada kesempatan, itu sudah lebih dari cukup.
"Apa bisa bertahan hingga waktu melahirkan, Dok?. Melihat dari kondisi Clara yang sudah seperti, ini." ungkap ku.
"Kami selalu pantau alat vital dari si ibunya, Mbak. Selama tidak ada hal di luar dugaan, semestinya tidak masalah sampai lahir." mengecek alat bantu di tubuh Clara.
Aku ngeri sekaligus kasihan melihatnya berbaring terus, pasti terasa tidak nyaman. Apalagi saat hamil trimester ketiga ini. Punggung dan pinggang terasa tak nyaman bagiku. Apalagi untuknya, yang sudah lebih dari satu Minggu berbaring.
"Semuanya terkendali, Mbak." lapor Dokter saat selesai mengecek alat vital.
"Boleh saja, Mbak. Tapi harus hati hati, karna jika tersendat akan menyakiti paru parunya. Pasien tidak bisa merespon apapun selain air mata, maka dari itu kami memasang selang NGT untuk membantu membantu makan dan minum pasien. Jika mau di beri minum, saya akan minta suster mendampingi. Di takutkan pasien memberikan respon." jelas Dokter.
Aku mengiyakan.
Dokter keluar dan tidak lama seorang suster datang mendampingiku memberi minum untuk Clara.
"Biar saya saja, Bu." pinta Suster.
Aku menolaknya, "Tidak Sus, biar saya saja. Suster bisa bantu pantau ya, takut ada respon yang tidak terlihat. Saya takut nanti Clara tersendat."
Dia mengangguk.
__ADS_1
"Clara, minum ya sedikit sedikit. Kamu pasti haus banget. Tenggorokan kamu juga pasti kering ya. Bantu telan sedikit sedikit ya, kamu harus respon. Kamu mau sembuhkan, kamu harus sembuh untuk anakmu." menyuapi air dengan sendok teh sedikit sedikit. Aku gemeteran, takut menyakitinya.
"Maaf ya, kalau terasa perih atau tidak nyaman Clara." ijinku.
Aku melihat tenggorokannya menelan perlahan, aku melirik suster. Suster mengangguk.
Aku meneruskan memberi minum padanya. Dia mulai menggerakkan bibirnya walaupun masih tipis sekali gerakannya.
Aku dan suster berulang kali saling tatap, untuk memastikan benar atau tidak penglihatan ku.
Aku bersyukur, setidaknya ada respon darinya.
"Oh ya, jenis kelamin anakmu perempuan Loch. Pasti cantik kaya kamu. Nanti kalau sudah besar, dia akan main bersama Edwina. Anak anak kita akan bermain bersama, Clara. Mikola, bayimu, anak anakku. Suatu hari nanti kita akan jalan jalan ke pulau yang Edward dapatkan saat proyek tempo lalu." menyuapi air kembali, dia merespon.
"Kamu tau Clara, pulaunya indah sekali. Ikan dan karangnya masih terjaga. Bintang laut dan ubur ubur yang ada di akuarium di rumahku itu, hasil aku cari sendiri disana. Makanya cepat bangun, lahirkan anakmu dengan sehat. Kita semua akan berlibur ke pulau itu. Kamu pasti suka banget, sunsetnya indah banget." ceritaku.
Ujung bibirnya bergetar, aku sedikit panik. Tapi suster menenangkanku. Dia menjelaskan bahwa itu respon baik.
Aku terus mencoba memberikan rangsangan yang membuat dia ingin bangkit.
"Oh iya, Clara. Mikola sudah pintar bicara Loch. Dia bahkan menyayangi Edwina. Saat menginap di rumahku, dia berebut Wina sama Edward." tawaku. "Makanya, cepat lahirkan adik cantik untuk Mikola. Aku yakin dia akan menyanyanya. Ingat ya Clara, hidupmu masih panjang. Bukankah kamu ingin bahagia dan berkeluarga? Maka dari itu, kamu harus bangkit. Kamu banyak hutang padaku, merebut Mas Reza dan memisahkan Edward dengan ayahnya. Kamu berulang kali berusaha menghancurkan rumah tangga ku dan Mas Gaga. Masa kamu lupa, kamu tidak ingin meminta maaf padaku?. Aku tidak akan memaafkan kamu kalau kamu sendiri tidak memohon maaf padaku." angkuhku.
Kini bibir bawahnya bergetar, air matanya mengalir. Aku menepuk tangannya lembut, "Hayu dong, genggam tanganku. Kamu harus cium tanganku, Clara." perintahku.
* *N**asogastric tubeĀ (NGT). Fungsinya untuk menyuplai makanan dan minuman pada pasien yang tidak memungkinkan untuk menelan, akibat kondisi medis*
__ADS_1