DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
KEJELASAN


__ADS_3

Sesuai ucapannya kepada Tante. Bella mengundang Davina minum kopi di cafe biasa.


Bella sudah tiba terlebih dahulu tak lama di susul Davina.


Ada apa ya, kemaren mbak Bella begitu kesal kepadaku. Sekarang mengundangku.


"Assalamualaikum mbak." sapa Davina saat melihat Bella fokus pada ponselnya.


"wa'alaikum salam.. udah sampai ? silahkan duduk."


Davina mengangguk dan duduk berhadapan dengan Bella.


"Mau pesen minum apa makanan ?" menyodorkan menu.


"Ya terimakasih." Davina menerimanya. Memanggil pelayan untuk memesan kopi dan sedikit cemilan.


"Kamu sibuk?" tanyanya pada Davina.


"hmm gak mbak.."


"Ada apa ?" dengan wajah sedikit penasaran.


"Aku mau minta maaf soal kejadian kemarin, aku terlalu impulsif. Maaf ya." Bella meraih tangan Davina. Davina mengangguk.


"Boleh aku tanya mbak, ada alasannya kan mbak bersikap seperti kemarin ?"


Bella mengangguk.


"Tapi kamu gak perlu tau. Oh iya, kenapa Papa gak masuk kantor hari ini ?" ucap Bella.


"oh.. itu mbak, Papa mabuk semalam. Sore aku sama Papa lagi ngobrol, tiba tiba papa di telpon orang langsung pergi dan pulang dalam keadaan mabuk mabok. jelas Davina.

__ADS_1


"kok bisa ? siapa yang telpon ?" Bella khawatir dan penasaran.


Davina mengangkat kedua bahunya.


"Apa papa sudah biasa mabuk ?" tanya Bella.


Davina menggelengkan kepalanya.


"Gak mbak, kalau ada masalah biasanya sesekali iya. Tapi tidak pernah sampai separah semalam." Davina menunduk.


"Selepas papah bercerita sore, ada yang telpon dan pergi. Papah pulang dalam keadaan gak sadar, di bantu pak supir angkat ke kamar."


Davina meneteskan air mata, Bella menyentuh tangannya.


"Gak apa, mungkin papah lagi ada masalah Dav." Bella mencoba menenangkan Davina.


Davina mengangguk.


Mengirimkan video lewat ponselnya.


"Aku harap ada sedikit harapan untuk papah di maafkan."


Davina menahan air mata dalam tangisnya yang sudah meluncur dengan sendirinya.


Bella mengangguk.


***


Bella bersandar pada kursi di depan kamarnya.


Menatap lurus pepohonan dari atas.

__ADS_1


Memutar video yang di kirim Davina menggunakan earphone.


Bella menangis dalam diam.


Mendengar pengakuan sang papah yang sangat menyayangi Mama.


Pernyataan itu membuat Bella penasaran dengan apa dan kenapa mereka berpisah ?


Apa cinta dan kasih sayangnya luntur ?


Jika iya kenapa sampai saat ini papah masih merindu, apa menyesal.


Pikiran dan hati Bella di penuhi pertanyaan.


Kemana dia harus mencari jawab.


Ke siapa dia harus bertanya.


Bella tak ingin kejadian beberapa hari lalu terulang, di saat dia menerima informasi yang salah.


"Aku gak mau gegabah, aku harus cari tau pelan pelan."


"Jika penyesalannya begitu besar, kenapa baru sekarang. Kenapa gak dari dulu dia cari mama dan aku. Kenapa Pah, kenapa baru sekarang bilang menyesal."


Bella menangis memeluk foto Mamanya.


"Mah, apa mama dengar perkataan lelaki yang meninggalkan Mama dalam kesulitan bilang rindu denganmu ? Apa Mama juga rindu dengannya ? Mah, apa aku harus menerimanya.


Jika iya, tolong beritahu aku kenapa kalian bisa berpisah dan membuat aku menderita. Membuat aku hidup dengan status yatim piatu, padahal aku punya Papah. Aku harus hidup berjuang sendiri, padahal aku punya harta yang bisa di nikmati ratusan karyawan."


Bella sangat frustasi, mengingat betapa menyedihkannya di saat dia kecil. Mama meninggal dan dia hidup sendiri. Di dalam panti asuhan, berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri. Berjuang untuk pendidikannya. Bahkan merelakan cita citanya sebagai desainer karna tak sanggup finansial.

__ADS_1


__ADS_2