DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
HASIL


__ADS_3

Setelah bercerita masalahku dengan Dokter Syifa. Akhirnya dia mengijinkan ku pergi tapi tidak menggunakan pesawat terbang dengan kata lain aku harus keluar kota bukan keluar negri. Karna ini hasil yang di dapatkan demi kami semua, aku setuju dan segera meminta Mas Gaga mempersiapkan ulang tempat tinggal dan segala akomodasi ku di tempat baru lain.


"Kamu bisa pergi, Bell. Tapi tidak naik pesawat, karna getaran pesawat terlalu beresiko untuk janin. Gunakan kendaran yang kecepatan dan gerakannya bisa di sesuaikan dengan kondisimu. Jika perutmu kram atau ada flek, tolong berhenti dan segera periksa ya. Mungkin aku tidak akan bisa cerewet sama kamu lagi nanti, tapi aku yakin dokter manapun akan sama bawelnya dengan diriku." menggenggam tanganku erat. Memberikan ketenangan dan kehangatan untukku. Aku mengangguk dan mengusap tangannya.


"Kalau butuh konsultasi, kamu bisa telepon aku ya. Apapun yang kamu rasakan di perut bawah, kamu harus segera konsultasikan, ya. Jangan lanjutkan perjalananmu sampai kondisimu stabil." nasihatnya.


"Terimakasih, Syifa. Kamu tidak pernah memaksakan kehendak walau sebenarnya itu harus di paksakan. Aku akan ingat semua nasihatmu." ucapku penuh haru. Aku tau mungkin dokter lain akan melarang ku dan tidak akan mendengar alasan apapun. Tapi berbeda dengannya, dia berada di posisiku dan juga sebagai dokterku.


"Aku bukan tidak ingin memintamu tetap tinggal, Bell. Tapi kondisi psikis pun penting untuk pertumbuhan, janin. Aku berdoa apapun yang terbaik untuk kalian, sehat sehat sampai lahir ya." matanya sendu berkaca kaca menatapku.


"Kamu jangan khawatir, aku akan ingat semua nasihatmu. Terimakasih.." ucapku.


***


Aku lega mendengar laporan Mas Gaga yang begitu cepat, malam ini aku bisa pergi. Sekarang aku sudah di Mension dengan mengandeng tas jinjing serta satu koper berukuran sedang. Tak banyak yang ku bawa.

__ADS_1


"Kamu jadi pergi, Bell?." tanya Mama Syarina melihatku menyeret koper.


"Iya, Ma. Ada urusan di kantor cabang. Sebentar kok, lagi pula Mas Reza juga belum pulang dari dinasnya." ucapku seraya mendekatinya.


"Aku pamit, Ma. Pa." aku memeluk Mama dan Papa, orang asing yang pernah begitu penting untukku dan kini kembali asing dengan pengkhianatan mereka.


"Sudah ijin sama, Reza?," tanya Papa padaku, aku mengangguk.


"Baiklah, hati hati sayang. Jaga dirimu ya.." ucapnya mengusap punggung ku dengan lembut. Walau menyakitkan perbuatannya, tapi Papa berada sedikit di pihak ku. Dengan memberitahuku tentang Clara.


"Setelah semua selesai, aku akan langsung pulang, Ma." ucapku mengusap tangannya.


Dia mengangguk lemah, "Baiklah, hati hati di sana. Mama doakan selalu kesehatan dan keselamatan mu." Mama memelukku dan menangis, aku mengeratkan pelukanku padanya.


"Sudahlah, kan cuma akan dinas aja. Beberapa hari juga akan pulang. Kita doakan saja yang terbaik untuknya, Ma." ucap Mama mengusap punggung Mama yang menangis.

__ADS_1


Mungkin Mama terpaksa menyembunyikan itu dariku demi anaknya, seperti yang aku lakukan saat ini. Menyembuhkan kehadirannya demi kehidupannya, aku mengerti sekarang. Tapi hatiku tetap sakit jika mengingat pengkhianat dari mereka semua.


Aku pergi dengan tenang, hatiku lega bisa pergi dari Mension itu. Berbekal vitamin dan beberapa obat darurat yang di berikan Syifa padaku. Aku melangkah meninggalkan tempat yang pernah memberikanku kehangatan dan juga pengkhianatan.


***


"Kenapa Mama merasa Bella akan pergi lama ya, Pa." istriku memeluk erat pinggang ku. Hatiku merasa sakit saat Bella keluar Mension dan melambaikan tangannya pada kami.


Aku merasa Bella akan pergi meninggalkan kami dalam waktu lama dan sangat jauh. Aku tau hatinya saat ini, mungkin ini yang terbaik untuk mereka saat ini. Semoga apapun itu nak, kamu akan baik baik saja di manapun.


"Udah lah, Ma. Jangan di pikirkan, doakan saja menantu kita selamat di perjalanan dan baik baik saja di sana." ucapku pada istriku. Aku tau dia merasakan apa yang kurasakan. Tapi aku tidak ingin membuatnya semakin resah. Aku tau betul kesalahan kami pada menantu kami. Kami yang lemah tidak bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan untuknya.


"Aku yang salah karna tidak bisa tegas terhadap Reza." batinku sakit mengingat air matanya kala itu.


"Berbahagialah di manapun kamu berasa, sayang. Maafkan Papa tidak bisa memberikanmu kebahagiaan."

__ADS_1


__ADS_2