DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
ULANG TAHUN, EDWARD


__ADS_3

Pesta ulang tahun ke dua untuk Edward di gelar secara pribadi. Hanya keluarga dan kerabat yang datang. Termasuk Reza dan Clara.


Aku sudah melupakan masa lalu begitupun dengan masalah Clara.


Biarlah yang lalu berlalu, aku tidak ingin terus melukai hatiku sendiri dengan kebencian.


"Sayang, kamu hebat." Mas Gaga mengecup keningku dan di peluknya.


"Aku bangga sama kamu, kamu mampu melupakan rasa sakit yang mereka berikan dan kamu balas dengan kebaikan." dia membelai rambutku.


"Mas, aku tidak ingin Edward di kelilingi rasa benci. Aku ingin Edward tumbuh dengan penuh cinta dari keluarganya. Aku yang kurang beruntung kala itu, aku tidak ingin Edward merasakannya." dia mengangguk.


"Apa Reza tidak perlu di beritahu tentang Edward, sayang. Bukankah dia perlu tau kalau dia juga memiliki hak untuk Edward." ucapannya benar, tapi aku takut jika dia tau Edward adalah anaknya. Dia akan mengambilnya dari hidupku.


Aku menggelengkan kepalaku, "Aku takut Mas, jika Mas Reza tau Edward putranya. Bagaimana jika dia merebutnya dari ku?." aku mencurahkan isi hati dan kegelisahan ku.


"Tenang sayang, kita hanya perlu memberi tahu. Toh sekarang Reza juga sudah punya keluarga yang lengkap. Kita bisa memberinya sebuah kesepakatan untuk tidak menginginkan Edward. Nanti Mas yang atur." perkataannya tidak membuatku lega. Aku takut dengan segala konsekwensinya. Apa lagi mengingat Clara yang masih waspada padaku. Jika dia tau Edward adalah putra Mas Reza, apakah dia akan diam saja. Aku tidak mau ambil resiko.


Aku menggelengkan kepalaku, "Biarlah, Mas. Edward menjadi anakku saja."


"Baiklah, bukan anakmu saja tapi anakku juga, sayang."


Pesta kecil yang kami selenggarakan begitu meriah. Om dan Tante Abraham hadir, begitu juga Tante Rina. Mereka senang bermain bersama Edward.


Mas Reza sibuk dengan putra kecilnya bersama Clara.


Keluarga mereka sudah lengkap dan sempurna, aku yakin mereka tidak akan mengganggu ku.


"Hai Clara, dari mana?" aku melihat Clara berada dari arah belakang ku.


"Aku dari kamar kecil, Bell." ucapnya melengos.


Aku mengangguk.


Malam ini Tante Rina tidak datang sendiri, dia membawa anak tunggalnya, Ricardo.


"Mam.. istirahatlah, sini Edward aku gendong." ucap Ricardo.

__ADS_1


Ricardo gagah dan tampan. Persis sekali dengan Tante.


"Sini sayang.. biar sama Mommy ya.. Mama Rina sama Om Ricard mau istirahat dulu ya. Nanti main lagi, ya." pintaku pada Ricardo.


Tapi Edward gak mau lepas dari pelukan Ricardo. Dia malah masuk lebih dalam, lagi.


"Sudah tidak apa Bell, dia nyaman sekali dengan Ricard. Kamu dan Gaga istirahatlah. Biar Ricardo yang jaga, dia ahli." kekeh Tante Rina.


Aku menoleh ke arah Mas Gaga, dia mengangguk. Dan beralih ke arah Ricardo.


"Tenang aja kak, aku jaga keponakan ku ini dengan baik. Sampai iya tertidur nanti." dia menimang putraku dengan penuh kasih.


Aku mengangguk. Kami meninggalkan Edward bersama Ricardo.


Di sana masih ada Mas Reza, Clara, Davina, Riko dan Om Tante Abraham.


Mereka sedang asik bersama cucunya.


Entah bagaimana aku bisa begitu tenang meninggalkan Edward bersama Ricardo yang baru saja aku temui. Aku bisa tidur pulas hingga saat bangun aku kaget tidak ada Edward di kamarku.


"Mas Mas bangun.. Edward di mana, Mas." aku menggoyangkan tubuh Mas Gaga.


"Edward, Mas." aku melirik sekitar kamarku.


"Oh.. Edward bersama Ricard, sayang." ucapnya.


"Mereka belum tidur?." nadaku sedikit tinggi. Mana mungkin mereka tega membiarkan anak kecil di jam segini belum tidur.


"Sudah sayang, aku sudah mengeceknya. Ricardo menidurkan Edward di tempat tidurnya. Mereka tidur di kamar putramu." ucapnya sambil mengusap kepalaku.


"Tidurlah, jangan khawatir mereka nampak akrab sekali. Bahkan Edward bisa tertidur pulas tanpa pelukan Mommynya. Jika sering begini, mungkin kita bisa cepat memberikan adik untuk Edward, sayang." dia menarik tubuhku kedalam pelukannya.


"Aku mau lihat Edward, Mas." rengekan ku.


"Baiklah,." dia melepas pelukannya dan menuntunku ke kamar Edward.


KLIK ...

__ADS_1


"Lihatlah, sayang." tunjuk Mas Gaga ke arah kamar anakku.


Pemandangan langka, seorang pria belum beristri apa lagi beranak tapi sudah begitu piawai menjaga putraku. Bahkan putraku yang selalu memilih jika di sentuh orang, bisa begitu lengket dengannya.


Ricardo memeluk putraku dalam dekapannya begitupun sebaliknya. Kaki mungil putraku memeluk pinggang Ricard. Mereka terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Botol susu siaga di genggaman Ricardo sudah kosong. Aku mendekat, ku abadikan momen bahagia dan langka ini. Suatu hari nanti ini akan menjadi kenangan yang sempurna.


Kami kembali ke kamar kami, membiarkan mereka tidur tanpa gangguan.


"Aku gak nyangka, Mas. Edward begitu nyaman dengan Ricard." ucapku dalam rangkulan suamiku.


"Anak kecil itu tau sayang, hati siapa yang tulus padanya. Itu akan memberikan kenyamanan lebih untuk dirinya termasuk, Edward. Jadi biarkan saja, yang terpenting sekarang kita harus atur secepatnya bagaimana Edward memiliki adik yang cantik." godanya menciumi leherku.


"Apa si, Mas." aku geli dengan setiap sentuhannya.


Semenjak kehadiran Edward, mungkin memang malam ini malam pertama untuk kami berduaan. Dengan kata lain, sang serigala pemangsa ini sudah tak tahan menerkam tubuhku.


Kami menikmati waktu yang begitu spesial ini berdua, di sisa malam menjelang pagi. Kami habiskan dengan aktifitas malam. Bukan sekali bahkan sudah lebih dari tiga kali Mas Gaga tetap, bugar. Entah makan apa sebelumnya, dia begitu perkasa setiap harinya. Walau selama ini selalu tertunda dengan tangisan Edward di sela sela aktifitas kami, tapi staminanya melebihi mantan suamiku dulu.


"Kamu sudah persiapan full ya, Mas." aku berada di bawah kungkungan.


Dia hanya tersenyum sambil terus memainkan tangannya di bagian tubuhku yang sensitif.


"Bukan persiapan, sayang. Tapi ini aku yang sebenarnya. Selama ini aku bertahan mengalah dengan Edward, putraku. Tapi di sisa malam ini, tiada ampun untukmu." senyum liciknya membuatku bergidik. Entah kuat berapa kali lagi dia. Apa sampai aku pingsan baru berhenti.


"Lantas jika kamu selama ini me - ngalah.. kenapa harus terburu bu - ru memiliki adik.. Ah.." aku tak kuat menahan suara ******* dari tubuhku yang terus di sentuhnya.


"Hanya proses sayang yang di perbanyak. Hasilnya.. Ah... tunggu biar yang Kuasa, berikan." dia mencium bibirku. ******* lidahku dengan ganasnya.


Kini tubuh kami menyatu untuk yang ke empat kali.


Rasanya aku ingin teriak, "Sang Surya, segera muncullah!!!." tapi tubuhku mengkhianati. Dia terus menerus menikmatinya, bahkan berani menyerang balik sentuhan dari Mas Gaga. Energi ku sudah di batas kuning menuju merah.


Hingga hembusan nafas kami menyatu dengan ******* panjang di iringi sang Surya yng terbit.


"Kamu lelah, sayang." ucapnya sambil memeluk dan terus menciumi kepalaku.


"Menurutmu, Mas." aku kesal dengan pertanyaan bodohnya. Masa harus di tanyakan, dengan waktu kurang dari setengah makan kamu sudah menghabiskan empat putaran apakah aku gak akan, lelah!."

__ADS_1


"Aku rasa lumayan sayang." tawa kecilnya membuatku semakin geram. Aku mencubit perutnya. Membuat dia meringis kesakitan.


"Cukup sayang, sakit. Sepertinya aku belum memuaskan ratuku malam tadi ya, sehingga pagi ini masih ada tenaga untuk mencubit." dia tertawa menggodaku.


__ADS_2