
Pagi ini Davina berniat ingin memberikan rekaman Papanya semalam kepada saudaranya.
Tapi di urungkan nya.
Meja makan.
"Pah, sudah ketemu ahli waris Ocfar factory ?" Davina berpura pura tidak tau.
"hmm." Papa mengangguk.
"Gimana orangnya Pah, mirip Papa ?" antusias Davina memancing perhatian Papa.
"Ya, namanya juga ada darah. entahlah." jawab Papa.
"Papa sudah berbincang dengannya." Davina sengaja mengorek Papanya.
"Belum."
"Siapa dia Pah ?"
Papa kesal menatap Davina.
"Kamu buat apa ribut, makan yang benar. Untuk apa kamu tau, seharusnya kamu mikir siapa sang waris effort sebenarnya." bentak Papa.
"Memang jika sudah tau mau apa Pah." dengan terus mengunyah makanan.
__ADS_1
"Singkirkan lah. Sebelum jadi penghambat kedua."
Jawaban Papa membuat Davina tersedak. Davina dengan cepat minum.
Di tatap wajah Papanya. Berbeda dengan semalam. Inilah Papa dalam kisah nyata. Kenapa mesti begini Pah ? Batin Davina.
"Aku gak tau Pah, lagi pula dia anak Papa juga dan saudaraku. Untuk apa di singkirkan. Aku ingin memiliki saudara Pah, jika Papa pergi nanti, kemana aku harus berlindung." ucap Davina menatap mata Papanya.
Papanya hanya diam membalas tatapan Davina.
"Papa gak perlu ngotot ingin memiliki semua itu, sekarang Papa harus fokus dengan masa tua Papa. Aku akan berusaha lebih keras untuk membangun restoran ku. Aku yakin cukup untuk hidup kita Pah." Davina mengenggam tangan Papanya.
"Aku ini anak Papa, aku ini ada di hati Papa. Apa kebahagiaan yang sederhana aku inginkan Papa tidak bisa mewujudkan ?"
Papa diam. Melepas genggaman tangannya dan bangkit dari kursinya.
Papa berhenti di depan pintu. Menoleh melihat Davina yang berdiri di kursinya. Papa cuma tersenyum dan melangkah.
Davina ambruk di kursi. Menatap hilang punggung Papanya.
"Andai Papa yang semalam adalah Papa di saat siang." ujarnya.
"Semoga Papa tidak sampai mengetahui identitas mbak Bella. Dan semoga Papa sadar dan bisa mengikuti kata hatinya." Doa Davina.
"Mah. Aku mohon, tolong hapus apa yang mama tanam di pikiran Papa, kasian Papa Mah. Aku mohon." Davina lemas memikirkan bagaimana jika Papa tau tentang mbak Bella. Apa yang akan dilakukannya.
__ADS_1
Aku gak mau kehilangan Papa, aku juga gak mau kehilangan mbak Bella dan Glen. Mereka semua orang baik, tulus menyayangi ku. Aku ingin semua membaik ya Allah. Batin Davina.
***
Reza sedang bersandar di bahu Bella. Menatap lurus ke dalam kolam ikan. Tempat favorit Bella.
Bella sangat menyukai binatang.
Ikan dengan warna warni memenuhi kolam.
Kini Bella sudah pindah kerumah Reza.
Rumah yang di miliki Reza sendiri dengan hasil kerjanya.
Papa dan Mama Abraham sedang di luar negri. Kampung halaman Papanya.
"Sayang, Apa semua akan baik baik saja." tanya Reza.
Reza masih cemas, takut Davina membuka identitas Bella sebelum waktunya kepada Papa Surya. Mengingat semua ancaman yang pernah di terimanya.
Bella mengusap rambut Reza.
"Aku percaya dengan hatiku, baik Papa atau Davina. Mereka orang baik. Hanya keadaan dan entahlah apa yang membuat mereka seperti itu."
Bella mengingat pesan singkat dari Mamanya.
__ADS_1
Papamu orang baik, sangat baik. Sampai mencintai wanita dengan sepenuh hatinya. Mama yang sangat mencintai dan tidak menyesal karenanya. Kamu harus yakin dengan hatimu, jangan lihat dan dengar yang tak enak di dengar. Kamu harus ingat. Papamu orang baik.