
"Kasian nya sayang, Mommy. Haus dan laper ya, Nak.. Sini mimik dulu.." aku menggendong Edwina ke ruang laktasi.
Mas Gaga dan Freddy saling menyapa Om dan Tante Abraham. Edward menemani Mikola istirahat setelah perjalanan jauh.
"Non, gimana keadaan Non Clara?." tanya Bibi padaku.
"Aku belum tahu, Bi. Dokter hanya ingin membicarakannya dengan Mas Reza." aku khawatir ini bukan hal baik.
"Ya Allah, kalau di film film itu tandanya pasien dalam keadaan kritis, Non. Semoga ada kesempatan, Non Clara dan Mas Reza merasakan merawat anak sendiri ya, Non." Bibi mengusap dadanya, kekhawatiran terlihat jelas di wajahnya. Aku pun berharap seperti itu. Semoga semua baik baik saja.
"Ya, Bi. Kita berdoa saja, semoga apapun itu yang terbaik untuk mereka ya, Bi. Semua sudah kehendak Allah, kita tidak bisa mengubahnya." Bibi mengangguk.
"Ya, Non. Aamiin. Ya walaupun mungkin ini teguran atas perbuatannya dulu kepada Non dan Den Edward, tapi semoga mereka di beri kesempatan untuk bertobat ya, Non." ucapan Bibi mengingatkan ku akan kejadian enam tahun lalu, masa dimana aku pergi meninggalkan Mas Reza.
Aku menghela nafas, menghilangkan ingatan buruk. "Semoga ya, Bi."
Aku tidak pernah menyimpan dendam ataupun rasa sakit hati atas perbuatan siapapun di masa lalu. Aku tidak ingin mengotori hati dan merusak hidupku dengan dendam.
Edwina tertidur setelah kenyang mengasi. Aku memompa Asiku untuk persediaan Edwina selama di rumah sakit. Sekaligus beristirahat, lumayan membuat lemas tubuhku akibat rasa cemas.
"Bi, Edward dan Mas Gaga sudah makan malam?." aku merebahkan tubuhku.
"Sudah, Non. Ini Bibi di minta bawa bekal untuk Non di rumah sakit." mengeluarkan bekal dari dalam tas.
"Terimakasih, Bi." aku menerima bekalku.
"Bibi sudah makan?."
"Sudah, Non. Tadi sebelum magrib, Non Wina masih tidur, Bibi makan deh." mendekati Wina untuk memberikan selimut pada putriku.
__ADS_1
"Syukurlah." aku menyantap makanannya.
"Iya, Non. Tadi Den Edward pulang bareng sama Daddy-nya. Habis bersih bersih langsung makan, terus Tuan meminta Bibi membuat bekal untuk, Non." celotehnya sambil mengusap Wina.
****
"Mas Gaga, sudah dapat kabar ada apa?" bisik Freddy.
"Belum, kita kan datang bersama." senyumku padanya.
"Oh iya ya." dia ikut tersenyum.
"Kita doakan saja semoga tidak ada masalah yang berlebih, semoga Clara dan bayinya baik baik saja." doaku.
"Semoga, Mas."
Aku mengangguk, "Istrimu tidak ikut, Fredd?." Sedari tadi aku tidak melihat istrinya.
"Ya, lagi pula kita juga tidak bisa apa apa di sini, kalau ada keperluan lain tidak masalah jika tidak hadir. Yang terpenting doanya."
Freddy tersenyum dan mengangguk.
Reza keluar dari ruang Dokter dengan wajah pucat dan lemas. Jalannya gontai tidak bertenaga, aku mendekatinya dengan cepat.
BRAK ...
"Reza..." teriak Tante Abraham. Aku memapah Reza yang lemas hingga tubuhnya terhuyung pas saat aku menghampirinya. Untung saja belum sampai jatuh.
"Duduk dulu, Za. Minumlah dulu." aku memberikan air mineral padanya. Air matanya mengalir, dia menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Tarik nafas, Za. Berpikirlah jernih, istighfar, dinginkan pikiranmu." aku melihat dari tatapannya begitu berat. Kebimbangan, kegundahan, kekhawatiran, rasa sesak dan bersalah. Entah apa yang terjadi, tapi melihat kondisi Reza, aku jadi yakin ini bukan berita baik.
"Za, apa kata Dokter? Clara dan bayinya baik baik saja, kan?." suara Tante bergetar dengan nada menekan. Matanya berkata, 'Semoga bukan yang ku pikirkan.'
"Tante, tunggu Reza tenang dulu, ya. Biarkan Reza menata hatinya dulu." aku mencoba menenangkan mereka. Memberikan ruang kepada Reza untuk menatap hati dan pikirannya.
Tante mengangguk, merangkul Reza dengan erat.
"Kamu kuat, sayang. Kamu harus tegar." Tante membisikan kata-kata penyemangat walau itu mungkin mustahil berhasil untuk Reza.
Setelah beberapa menit, Reza meneteskan air mata, "Clara harus segera di operasi, karna tidak memungkinkan memaksa kehamilannya sampai pada waktunya. Tapi walaupun berhasil di operasi, konsekuensinya tetap sama. Entah Dokter bisa menyelamatkan Clara atau bayinya, atau malah tidak keduanya. Tubuh Clara sudah tidak ada respon untuk bangkit, itu menyebabkan bayinya pun dalam keadaan lemah, kita di minta untuk menumbuhkan rasa semangat untuknya. Agar salah satu dari mereka bisa di selamatkan." air matanya berderai dengan menatap botol minuman yang ku berikan tadi.
Ini terlalu berat, untuk apa di operasi kalau keduanya tetap tidak selamat. Kalau ada kemungkinan salah satu, mungkin akan menjadi patokan untuk menentukan.
Helaan nafas panjang terdengar dari setiap orang yang hadir, termasuk diriku.
Freddy mendekati Reza dan menepuk bahunya dengan lembut.
"Bolehkan, Mikola masuk kedalam. Aku akan meminta Mikola bercerita atau membujuk Clara untuk bangun. Siapa tahu, dengan mendengar suara Mikola akan ada sedikit harapan dari dalam diri Clara." saran yang di utarakan Freddy ada baiknya di coba. Walau Mikola tidak di rawat oleh Clara, tapi hati seorang ibu pasti akan merindukan anaknya.
Reza hanya mengangguk lemas.
Freddy pergi memanggil Mikola, selang beberapa waktu datang bersama Mikola dan Edward. Mikola yang baru berusia tiga tahunan itu memang akan lebih ramai jika dia bercerita. Semoga dengan keceriaannya, memberikan dampak baik untuk Clara yang sudah putus asa.
Mikola terus menempel dengan Edward, terpaksa Edward ikut kedalam bersama Freddy dan Mikola. Walau Edward terlihat enggan, tapi dia tetap diam.
Dia mengajak Mikola terus bercerita, membimbing Mikola untuk membujuk Clara. Edward memang dingin di luar, tapi dia hangat dalam hatinya. Kami melihat mereka di luar ruangan dengan penuh harap, agar ada sedikit respon dari Clara. Dengan penuh khawatir dan kecemasan, serta doa yang tak henti. Tubuh Clara sudah di pasangin berbagai alat, agar alat vitalnya tetap terkontrol. Perutnya di pasangi alat deteksi untuk bayinya, miris melihatnya. Mungkin hatiku akan hancur, jika yang di dalam sana orang yang ku sayangi. Semoga itu tidak pernah terjadi.
Dokter mendampingi Edward dan Mikola, membantu menuntun mereka berdialog selucu mungkin. Dengan naluri polos dan ceria Mikola, tawa canda mereka menghias ruangan dimana Clara berbaring. Dokter terus memantau perkembangan monitor alat vital Clara dan bayinya.
__ADS_1
'Ya Allah, jika Mikola tahu. Yang ada di hadapannya adalah ibu kandungnya, apa yang akan dia rasakan. Mungkin karna mereka terpisah sejak kecil, ikatan batin mereka tidak kuat. Tapi jika anak itu mengerti apa yang dia lakukan untuk memberi semangat hidup ibunya, betapa teriris hatinya. Sehatkan keluarga kecilku selalu, Ya Allah. Aamiin.'
Aku melihat reaksi wajah Dokter yang sedikit ada perubahan, wajahnya yang tegang sedikit kaget dan terlihat lega. Aku harap, penglihatan tidak salah.