
Setelah beberapa bulan suasana ketegangan sudah menghilang. Clara sudah melahirkan, bahkan anaknya sudah berusia tiga bulan. Sesekali dia sadar dan membuat keluarga memiliki harapan kesembuhannya.
Bayi mungil yang cantik di beri nama Asera Clara Abraham sudah tumbuh tanpa kasih sayang dari ibunya. Bayi mungil yang malang, semoga ibumu cepat pulih ya, Nak. Batinku saat melihat foto Asera yang mengemaskan di pasang di story' Reza dengan caption "My princess ❤️"
Aku berpikir, sudah lama semenjak hari pertama Clara sadar. Aku dan keluarga belum kesana untuk menjenguknya. Karna bayinya di bawa pulang ke Mension Abraham, jadi di rumah sakit hanya ada Clara yang masih terbaring.
"Mas.. kok aku kepikiran Clara, ya. Kamu ada waktu gak, besok kita kerumah sakit yuk.." ajak ku bersandar di bahu suamiku.
"Hum.. boleh. Ajak anak-anak apa kita aja, sayang.." belainya.
"Hum.. enaknya gimana, ya.."
"Kalau Mas pikir, ajak aja. Sekalian nanti pulangnya kita bisa main ke Timezone sebentar. Gimana?"
"Boleh, Mas. Sekalian ajak anak-anak makan di luar."
...****************...
"Mommy, kita mau kerumah sakit? Memang ada apa dengan Tante Clara?." Edward sedikit kaget mendengar rencana yang ku sampaikan.
"Gak ada apa-apa, sayang. Insha Allah Tante akan segera pulih. Mommy dan Daddy mau menjenguk sebentar, setelah itu kita main ke Timezone, mau kan??" bujuk ku.
Wajahnya sumringah, tapi dengan cepat kembali ke mode dinginnya.
"Oh, baiklah. Aku juga kan harus menemani Wina. Aku akan ikut." ucap angkuhnya.
Geli hati aku melihat ekspresi wajah anak bujang ini. Usianya sudah masuk enam tahun, adiknya sudah dua tahun. Tapi dia selalu bersikap layaknya dewasa di depan kami.
"Baiklah, Kamu kakak yang baik. Jadi... harus menjaga adikmu main dengan baik, ya." kecupan ku mendarat di keningnya.
"Tentu, Wina adalah kesayanganku." ucapnya dengan bangga.
Hari ini hatiku tidak tenang, entah kenapa terbayang Clara yang berbaring di ranjang rumah sakit. Sudah tiga bulan berlalu, semoga kegelisahan ini hanya rasa rinduku.
Aku tidak memberi kabar kepada keluarga Abraham, karna kata Mas Gaga kita hanya menjenguk Clara bukan untuk bertemu mereka. Jadi tidak usah merepotkan mereka untuk ikut datang kerumah sakit.
Setelah selesai menyiapkan Wina, aku mengintip persiapan Edward. Dia yang sedang berproses mandiri dalam berpakaian, sedang sibuk menatap lemarinya.a
Ada ada aja tingkahnya, anak sekecil itu sudah repot milih pakaian.
"Adu, duh... Kakak Edward sedang apa?" godaku melangkah masuk ke kamarnya bersama Wina di gendonganku.
__ADS_1
"Hum.. ini Mom, aku bingung mau pakai kaos apa kemeja?." menggaruk kepala.
"Oh.. boleh Mommy bantu pilih, sayang?." aku mendekatinya.
"Menurut Mommy, anak Mommy itu tampan rupawan. Jadi pakai apapun akan terlihat indah, kok." godaku dengan mengambil kaos berwarna navy dan celana jeans pendek untuknya.
"Tentu, Mom. Tapi kan aku harus menyesuaikan tempat." ucapnya.
Aku harus kagum pada personalitinya, atau malah simpati. Anak seusianya sudah memikirkan penampilan. Padahal saat aku seusianya.. aku tidak memusingkan tentang apa yang aku pakai. Mungkin baju baju bolong atau robek pun aku pakai.
Tapi mau bagaimana pun, dia terbiasa berada di kalangan masyarakat yang memang berbeda denganku kecil. Dunia semakin maju tentunya gaya hidup pun berubah.
"Ini saja, sayang. Kita kan akan pergi main, jadi gak apa kan kalau pakai kaos." saran ku sedikit merayu.
"Hum, oke Mom. Aku pakai ini saja." dia meraih kaos yang aku berikan. "thanks, Mom." menuju kamar mandi.
"Sayang..." teriak Mas Gaga dari lantai bawah.
"Iya, Mas. Tunggu." aku bergegas menutup lemari pakaian Edward.
Aku pamit dengan Edward yang sedang di kamar mandi. "Sayang, Mommy tunggu di bawah, ya. Kalau sudah selesai segera turun."
"Iya, Mom."
"Ada apa, Mas? kok gelisah gitu.." tanyaku, melihat Mas Gaga mondar mandir.
"Ini Loch sayang, aku di beri kabar. Clara sadar, dan dia ingin bertemu kamu." ucapnya menunjukkan ponselnya.
"Siapa yang mengabari, Mas?."
"Dokter."
"Dokter?. kok tumben, bukan Reza atau keluarga Abraham yang lain." aku sedikit terkejut.
"Ya, makanya sayang. Mas juga kaget, katanya Clara yang meminta dokter jaga menelpon, Mas. Meminta kita segera kesana." ucapnya.
"Hum.. ya mudah-mudahan tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Tunggu Edward mengenakan pakaiannya, sebentar lagi selesai." ucapku. "Mas sudah mengabari, Reza?".
"Mungkin sudah, pastinya dokter juga mengabari keluarga pasien dong, sayang. Kan jarang jarang Clara sadar." ucapnya santai.
"Iya juga, Mas." aku mengangguk.
__ADS_1
Tak lama Edward turun dari kamarnya. Kami berangkat ke rumah sakit. Entah kenapa hatiku tidak tenang, was was.
*****
Ruang jaga Dokter.
"Siang, Ibu..." Dokter jaganya berbeda dari yang biasa aku temui. Mungkin bergantian.
"Saya, Bella. Dan ini suami saya Aldiraga." aku memperkenalkan diriku.
"Oh iya, Maaf Ibu dan Bapak. Saya dokter jaga dikamar ini. Tadi saya yang menelpon Bapak atas permintaan pasien. Silahkan masuk.."
Kami memasuki ruangan empat x empat itu.
"Iya, Dok. Sebenarnya ada apa, ya?." tanyaku penasaran.
"Hum... begini Bu.. sebelumnya maaf saya jelaskan sambil berjalan."
Kami menuju ruang rawat Clara. Ya memang Clara memiliki ruang khusus dokter dan kamar rawat dirinya. Karna dia merupakan pasien prioritas disini. Sudah sekitar satu tahun dia di rumah sakit ini.
"Silahkan, Dok." jawab Mas Gaga meraih Wina di pelukanku.
"Ibu Clara, sudah ada respon baik. Tapi itu terjadi seketika saja. Kami sebagai tenaga medis pun bingung harus menyimpulkan apa. Tadi beliau sadar, seperti pasien pada umumnya. Meminta alat bantu di tubuh beliau di lepas, kami memperhatikan kondisi beliau. Respon tubuhnya sudah lebih baik, bisa menelan air minum. Bahkan tadi sudah bisa berbicara dengan lancar setelah minum. Makanya beliau bisa bicara dan meminta saya menelpon Bapak." ungkap dokter yang terlihat masih muda dan tampan.
"Apakah keluarganya sudah di beri kabar, Dok?." tanyaku.
"Setiap ada perubahan pada pasien, kami selalu menginformasikan kepada keluarganya, Bu. Tapi tadi sebelum kami menelpon keluarga beliau, beliau meminta saya memberi kabar kepada bapak dan ibu terlebih dahulu."
Aku mengangguk dan sedikit bingung. Apa maksud Clara, kenapa harus kami dulu yang mengetahuinya?.
"Terus pasien juga meminta alat tulis. Kami memperhatikan gerakan tangannya, memang sedikit kaku tapi melihat beliau sudah bisa menulis itu merupakan suatu proses yang baik." jelas Dokter dengan semangat.
"Iya betul" aku mengangguk.
"Jadi secara garis besar, kondisi Clara sudah berapa persen bisa pulih, Dok?." tanya Mas Gaga.
"Sekitar 70persen, Pak. Dilihat dari suara, gerakan tangan bahkan ekspresi wajah. Prediksi kami jika terus berkembang, tak lama lagi pasien akan pulih dengan sendirinya." Dokter menjelaskan dengan wajah penuh semangat.
Aku ikut senang mendengarnya. Semoga saja itu benar terjadi.
"Keluarga pasien juga sedang menuju kesini, silahkan pak, Bu.." Dokter membuka pintu kamar Clara.
__ADS_1
Aku menatap Clara yang bersandar pada tempat tidurnya, wajar di hiasi senyuman menatap wajahku dengan lekat.