DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.

DIA IBUMU, BUKAN ISTRIKU.
HAK ASUH


__ADS_3

Mas Gaga memintaku untuk diam sementara di rumah, dengan maksud agar tidak membuatku terluka nantinya. Mas Gaga tidak ingin aku menjenguk Mikola untuk saat ini. Perasaanku pada anak itu sungguh dalam, pedih jika mengingat apa yang di ucapkan Clara pada Fredy tempo hari.


***


"Selamat siang.." ucap salam ku memasuki kamar rawat Mikola. Di dalam sana sudah ada keluarga Abraham tentunya, Glen dan juga Clara. Aku meminta ijin pada Reza untuk bicara berdua di luar, tapi dia menolak.


"Masalah apa, Mas. Biarlah bicarakan di sini saja, aku ingin menemani putraku yang baru saja menjalani rangkaian tes yang menyakitkan." keluhnya dengan wajah sendu.


Aku berpikir keras, persoalan yang ku sampaikan ini sangat berat. Takut takut Om Abraham terkena serangan jantung tiba tiba. Atau Tante Syarina akan pingsan.


"Tapi ini masalah sensitif, Reza. Saya kesini sebagai pengacara dari seseorang jadi saya harap kepada Tuan Reza agar bisa bekerjasama." aku sengaja mengucapkan kata pengacara dan memang tujuanku sebagai pengacara bukan sebagai kerabat yang menjenguk.


"Ada masalah apa, Ga?." tanya Om Abraham dengan wajah sedikit tegang.


"Hmmm, sedikit sensitif Om." ucapku.


"Mengenai apa?." tanyanya lagi dengan penasaran.


"Mengenai..." aku menoleh ke arah Mikola yang sedang di usap lembut kepalanya oleh Reza dan melihat Clara yang sedikit menampilkan wajah tegang.


"Kenapa kamu melihat Mikola?." tanya Tante Syarina yang menyadari netra ku arah Mikola.


"Ada apa, Mas? Ini masalah perusahaan atau yang lain." ucap Reza yang kaget saat Tante menyebut nama Mikola.


"Ini bukan tentang perusahaan atau yang lain, melainkan mengenai Ananda Mikola." ucapku tegas.


"Bisakah kita bicara sekarang, Tuan Reza Lincoln?." aku menegaskan bahwa ini harus di ketahui oleh dirinya dan berharap hanya dia untuk saat ini yang tahu.

__ADS_1


Sebenarnya aku sedikit iba untuk menyampaikan ini kepada mereka yang sedang bersedih karna penyakit Mikola yang di anggap keluarganya. Tapi aku harus bersikap sesuai profesi dan tugasku. Ini juga demi kebaikan Mikola. Mikola harus di tangani oleh keluarganya, mereka terkenal dengan ilmu medis yang handal. Bahkan riwayat penyakit jantung di keluarga mereka sudah terkenal. Tapi sampai saat ini belum mendengar kabar buruk dari keluarganya. Fredy ayah dari Mikola, dia bertanggung jawab untuk kesehatan dan keselamatan putranya. Dia yakin bahwa Clara tidak perduli dengan kesehatan putranya, dia malah senang tahu putranya sakit. Agar dia bisa cepat di terima di keluarga Abraham.


Sebenarnya bodoh sekali Clara, mengejar Reza yang di anggapnya lebih baik dari segi ekonomi di banding keluarga Fredy. Dia tidak tahu, tambang emas dan batu bara kelurga Fredy sudah merajalela di dunia. Kurang jauh pengetahuan sebagai wanita murahan malah tambah poin kebodohannya. Aku melirik Clara yang panik, wajahnya memerah dan tegang.


"Ada apa dengan putraku, Mas?." Reza panik dengan pernyataan ku.


"Apakah anak seusia ini bisa terlibat kasus hukum, Gaga. Masalah apa yang menyangkut dirinya.. Oh Tuhan.." Tante Syarina kacau dia mendekati Mikola dan mengecup keningnya.


"Baiklah, jika Tuan Reza bersikeras ingin bicara di sini. Silahkan Anda duduk di sini, Tuan. Agar tidak menganggu Ananda Mikola istirahat." ucapku menuju kursi di pojok kamar.


"Om ikut, Ga." Om Abraham mengekor di belakang ku, aku hanya mengangguk tanpa menjawab.


Setelah kami duduk saling berhadapan, aku segera mengeluarkan dokumen pengajuan hak asuh atas Ananda Mikola yang telah masuk ke dalam catatan pengadilan.


"Silahkan di baca dan di pelajari. Harap tenang karna ini kamar pasien." ucapku mengingatkan mereka. Salah nanti mereka histeris dan menganggu istirahat pasien yang sedang sakit.


Reza meletakkan dokumen yang sudah ku susun di atas meja.


"Bisakah Om ikut membaca, Ga?." tanya Om Abraham yang sangat penasaran. Aku mengangguk, "Silahkan, Om." aku menyodorkan dokumen kepadanya.


"Oh, Astaga. Kenapa bisa begini.." lirihnya dengan nada penuh kekecewaan.


Reza mengacak rambutnya dengan gerakan tubuh yang seakan sedang menjaga emosinya agar tidak meluap.


"Tolong ingat, bersikap seperti biasa. Ini rumah sakit dan banyak orang yang sedang beristirahat." aku mengingatkan kembali. Takutnya emosinya meledak dan menganggu kenyamanan pasien yang lain.


"Apa tidak bisa menahannya, Mas." tanya Reza dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku, "Maaf, Tuan. Dokumen keaslian dan serta bukti kongkrit sudah ada di sini. Saya selaku pengacara tidak bisa memberikan solusi selain menyerahkannya." ucapku tegas.


"Tapi dia sedang sakit.." bantahnya.


"Iya benar, Tuan. Maka dari itu pihak Penggugat meminta Anda mengembalikan secepatnya demi kesehatan Ananda Mikola. Saya harap Anda mengerti, Tuan. Mereka melakukan ini demi kehidupan Ananda Mikola lebih baik."


"Tapi.." lirih Reza yang tiba tiba berhenti berkata. Karna tangan Om Abraham memegang erat tangannya.


"Kamu harus kembalikan apa yang bukan milikmu, Za. Dia bukan anakmu dan juga dia membutuhkan keluarganya. Urus lah secepatnya." ucapnya padaku. Aku mengangguk merapihkan dokumen ku.


"Bagaimana dengan Clara? Dia ibunya, jika dia menolak bukankah ada harapan menang." dengan nada harapan Reza mengusulkan alasannya.


"Dengan berat hati saya tegaskan. Nn. Clara tidak bisa menahan Ananda Mikola walau masih dalam proses pengASIan. Karna beberapa faktor. Tapi jika Tuan menginginkan sidang berlanjut, silahkan datang di persidangan. Tapi jika Tuan tidak menginginkan hal yang rumit dan sia sia, silahkan siapkan Ananda Mikola segera karna akan di jemput oleh keluarga dari Ayahnya Ananda Mikola." ucapku.


"Faktor apa?. Mikola masih perlu ibunya, dia masih balita dan kondisinya tidak sehat. Mana mungkin seorang ibu mau di pisahkan dari anaknya." ucap Reza. Memang benar, mana mungkin ibu yang mau di pisahkan dengan anaknya yang masih kecil. Tapi itu ada, malah banyak yang meninggalkan anaknya dengan sengaja.


"Silahkan dengarkan bukti kami selanjutnya di pengadilan, Tuan. Jika Tuan berniat memperpanjang, silahkan datang. Ini undangannya." aku menyodorkan dokumen pemanggilan.


"Apakah tes DNA ini asli? Kapan dan siapa yang melakukannya." tanya Om Abraham.


"Di sana tertulis waktu dan tempatnya. Kebetulan di rumah sakit ini. Dan siapa yang melakukannya, tentu saja penggugat dan dokter." ucapku.


"Iya Om tau pasti, Dokter. Tapi kok bisa tanpa pengetahuan kami, bukankah ini ilegal?." ucap Om Abraham mencari pembenaran.


"Sampel di ambil saat Ananda Mikola melakukan serangkaian tes jantung, tidak di ambil dengan sengaja melakukan tes DNA. Melainkan hanya rangkaian tes. Tapi dari klien saya, meminta tambahan tes untuk Ananda Mikola dan surat laporan untuk tes sudah di tanda tangani, Tuan Reza. Silahkan di lihat dokumen terakhir, Om." jelasku.


"Ini... ini saat pengambilan darah untuk tes beberapa hari lalu. Dan rambut ?." Reza menatapku.

__ADS_1


"Ini di ambil saat klien saya datang menjenguk tapi tidak ada siapapun di kamar ini. Klien kami meminta Dokter mengambilkan sampel lainnya." ucapku.


__ADS_2