
"Ayo....!" ajak Azlan saat mereka telah siap akan berangkat kerja. Dara malu-malu dengan ajakan Azlan. Malu mengingat ketika bangun tadi tubuhnya dalam pelukan Azlan. Dan Azlan rupanya mengetahui bahwa semalam Dara menangis. Tangisnya berhenti saat Azlan tiba-tiba menghampiri dan memeluknya, serta mengungkapkan isi hatinya yang membuat Dara nyaman sampai tertidur.
"Habis nangis ya semalam, matanya sampai bengkak begini?" tuding Azlan. "Nggak....!" sangkalnya, namun menunduk malu. "Kalau kangen, kenapa tidak samperin aja Abang ke ruang tengah? Dasar gengsi....!" ejek Azlan seraya mencubit hidung Dara pelan. "Habiss... Abangnya juga cuek sama Dara," balas Dara malu-malu.
"Ayo... kita bersihkan diri, kita sholat berjamaah. Udah lama kita tidak sholat bersama....!" ajak Azlan seraya menarik tangan Dara. Dara senang hatinya kini tidak sedih lagi.
"Pegangan yang mesra ya, kalau bisa gelendotan!" goda Azlan diiringi tawa. "Ih... pagi-pagi udah mesum aja!" balas Dara sambil mencubit kecil pinggang Azlan.
"Awas ya... hari ini akan ada audit," peringat Azlan.
"Memangnya kenapa?" Dara penasaran.
"Masalahnya orang yang mengaudit adalah Oppa-Oppa Koreanya langsung."
"Oh....!"
"Iya... Oppa Korea kan kesukaan Adek,"
"Ihh... Abang....!" ucapnya protes dengan nada tidak senang.
"Mereka... tidak mungkin sampai sore kali!"
"Sampai malam malah...!" timpal Azlan.
Perbincangan mereka harus terhenti karena Dara sudah sampai di depan pabriknya.
"Sampai jumpa lagi nanti di Hyundy ya....!" ucap Azlan sambil memutar balik motornya. Dara menatap motor Azlan yang menjauh. Tidak biasanya Azlan cuma lempeng saja saat berpamitan pada dirinya.
"Hey... cantik, udah sampai ya?" sapa Jabar yang tiba-tiba sudah berada di samping Dara.
"Ehh... Abang... iya nih,"
"Yok... masuk!" ajak Jabar seraya meraih jemari Dara.
"Woyyy... ngapain tuh pegang bini orang, awas ya Gua bilangin...." teriak Nela memergoki kelakuan Jabar.
"Apa sih Nela, jangan comel ya mulutnya. Tibang pegangin doang, takutnya Neng Dara jatuh!"
"Huh... alasan..., kalian ini punya pasangan masing-masing tapi TTMan," cicit Nela kesal.
"Nelaaa... apaan sih, Lu suudzon aja!" protes Dara seraya melepaskan remasan jemari Jabar.
"Awas ya, kalau kalian berselingkuh, Gua tidak segan-segan laporin Elu ke laki Lu!" ancam Nela dongkol seraya berlari kecil meninggalkan Dara dan Jabar.
__ADS_1
Jam 3 sore tiba, Dara bersiap pulang.
"Dara... ayok!" ajak Nela. "Bentar Nel, Gua bikin laporan dulu!"
"Neng, Abang antar yuk ke Hyundy!" Jabar menawarkan bantuan.
"Ihhh... tidak perlulah Bang... kan ada Nela. Masa harus dianter Teknisi yang sedang sibuk," cegah Nela sewot.
"Nela... usil aja kamu....!" sentak Jabar kesal.
"Abang... Dara pamit dulu ya..., San..., aku pamit juga ya!" pamit Dara pada Jabar dan Santi. Jabar menjawab hanya dengan melambaikan tangannya. Santipun demikian.
Dara dan Nela meninggalkan ruangan produksi, ditatap pandangan Jabar yang kecewa.
"Dar... kayaknya Teknisi kesayangan Elu itu punya hasrat deh sama Lu," ungkap Nela tiba-tiba.
"Soalnya makin kesini makin memperlihatkan sikap posesifnya sama Lu, hati-hati lho Dar....!"
"Isss... ngomong apa sih Lu, Nel! Jangan gegabah nuding orang, nanti malah didengar yang lain lho. Bisa jadi gosip murahan," gertak Dara tidak suka.
"Gua beda aja menilainya saat Bang Jabar begitu perhatiannya sama Elu, jangan-jangan Bang Jabar suka sama Elu,"
"Aihhh... Nela... jangan ngomong gitu dong, Gua nanti malah kepikiran lho. Padahal Gua perasaannya biasa saja sama Bang Jabar, tapi Elu curiganya minta ampun. Yang penting Gua tidak ada perasaan apa-apa sama Bang Jabar, kecuali perasaan adik ke kakaknya. Udah ah Gua sudah sampai Pabrik Hyundy nih, awas jangan bikin gosip murahan, nanti Gua bejek kayak tahu!" ancam Dara seraya berbelok masuk menuju pintu Pabrik Hyundy. Nela tersenyum miris dengan ancaman Dara.
Saat memasuki ruang produksi yang berada di lantai dasar, netra Dara diperlihatkan pemandangan yang mengejutkan. Dara melihat Azlan sedang berjibaku dengar mesin Molding. Entah sedang Change Model atau perbaikan mesin, setahunya, Azlan memegang mesin SMT dan AI yang berada di lantai atas. Tapi kini Dara melihat Azlan disini.
Jantung Dara berdebar saat kakinya beberapa langkah lagi mendekati Azlan yang sedang sibuk.
"Woww... cewek cantik lewat Lan, bidadari nih
...!" ujar seorang cowok yang berdiri disamping Azlan yang sibuk mendongakkan tubuhnya ke dalam mesin Molding.
"Alahhh... buat Lu saja lah Rob, Gua sudah ada stok paten di rumah, nggak ada habisnya. Sekali saja Gua jelalatan sama yang lain, orang rumah Gua, CEMBURUAN minta ampun, bisa modar Gua dijutekinnya," ujar Azlan seraya masih sibuk memainkan obeng kecil untuk mengatur-ngatur mesin.
"Itu tandanya cinta Lan, makanya bini Lu cemburuan."
"Bukan dia yang cinta, tapi Gua yang cinta sampai modar," sanggah Azlan.
"Wah... bukannya yang barusan bini Lu ya?" seru Robi kaget. Sontak Azlan mendongak mengeluarkan kepalanya dari dalam mesin Molding.
Dara yang mendengar dengan jelas percakapan Azlan dan temannya segera mempercepat langkahnya menuju tangga. "Mana... dimana bini Gua?" tanya Azlan penasaran.
"Sudah pergi Lan....!" sahut Robi. Azlan kecewa sambil meremas rambutnya.
Saat berada di dalam ruangan Repairer, pikiran Dara tidak konsen. Dia malah memikirkan perkataan Azlan pada temannya tadi.
"Jadi, selama ini Bang Azlan masih belum percaya kalau Dara mencintainya?" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Dara menjadi galau memikirkan perkataan Azlan tadi. Kenapa Azlan belum bisa merasakan cinta darinya. Padahal selama beberapa bulan pernikahan ini, Dara sudah memberikan cintanya, jiwa dan raganya. Tapi Azlan masih belum mempercayainya. Dara menjadi sangat sedih.
Saat pikiran Dara sedang galau, tiba-tiba QC Ranti menghampiri dibarengi seorang Oppa Korea berbaju Supervisor.
"Dara... ini Mr. Kim bermaksud mengaudit PCB Kenwiid SAA yang rijek, kalau beliau bertanya seputar PCB ini, jawab saja semampu kamu. Saya hanya mengantar beliau, jadi maaf tidak bisa menemani. Saya masih harus mengecek PCB outgoing."
"Oh... Ok Kak. Siap!" sahut Dara, walau hatinya sebenarnya dilanda gugup harus menghadapi sang Auditor dadakan. Bayangan Dara Oppa Kim ini tidak ramah.
"Selamat sore, perkenalkan saya Kim. Kamu bisa panggil saya demikian. Saya bermaksud mengaudit PCB ini," ucapnya memperkenalkan diri dengan ramah, dengan logat khas Koreanya yang kental.
Dara sejenak terperanjat, sebab diluar ekspektasinya. Rupanya sang Mister begitu ramah dan sok akrab.
"Silahkan, Mister....!" ucap Dara.
"Kenapa PCB model ini banyak rijek?" tanyanya.
Dara sejenak bingung mau jawab apa, sedangkan rijek yang dialami PCB ini memang komponen yang missing yang diproses di mesin AI di pabriknya.
"Karena proses *jumper wire*, jadi kaki-kaki komponen Kapasitor atau transistor tersentuh dan goyang, sehingga terjadi missing," jawab Dara sesuai yang ada di otaknya.
Mister Kim manggut-manggut, lantas dia meraih satu PCB tanpa sarung tangan.
"No, no, no... please...! Don't touch it without gloves!" peringat Dara dengan bahasa Inggris yang dia tiru di dinding atensi.
"Oh... Ok....!" seru Mister Kim sambil mengangkat tangannya setelah melepas kembali PCB itu. Dara merasa lucu melihat aksi Mr. Kim yang seolah ketakutan saat PCB itu kena tangannya. Dara senang, selain Mr. Kim ganteng ternyata dia sangat ramah. Sedikit banyak bisa melupakan kegalauan akibat ucapan Azlan tadi.
"Kamu sangat cantik saat tersenyum," pujinya tiba-tiba, sehingga membuat Dara terlongo seketika. Jantung Dara hampir copot dibuatnya, dia seakan terpesona oleh ketampanan dan keramahan Oppa yang satu ini.
Jam tiba-tiba begitu cepat, sehingga dengan terpaksa Dara harus membereskan peralatan kerjanya. Mr. Kimpun menyadari bahwa ini jam pulang. Mereka keluar dari ruang Repair bersamaan. Mr. Kim memberi jalan untuk Dara duluan. Saat di muka pintu, Dara melihat Azlan sudah berdiri tegak namun tidak menatapnya.
"Please... Mister first....!" ucap Dara seraya memberi kode dengan tangannya. Mr. Kim menatap Dara kecewa, dia mengangkat bahunya mempertanyakan keputusan Dara.
"Oh... Ok... see you tomorrow.... dear....!" ucapnya akhirnya, memberikan salam perpisahan seraya melambaikan tangannya. Dara tersenyum simpul. Kini matanya beralih pada Azlan yang juga sedang menatapnya.
"Kenapa tidak bareng dengan Mr. Kim, kan kalian keluar bersama?" tanya Azlan dengan raut muka datar. Dara tidak menyahut dia merasa salah tingkah seakan ketahuan selingkuh oleh Azlan, padahal tidak.
"Ayo... memangnya mau nginap disini?" ajaknya datar, seraya menyamai langkah Dara. Kali ini hati Azlan benar-benar dilanda cemburu, saat mendengar Mr. Kim menyebut kata "dear" pada Dara.
__ADS_1