
Setelah tahu Dara hamil, Azlan menjadi sangat over protektif. Pagi-pagi sekali Dara sudah dibuatkan susu Ibu hamil yang rasa stroberi. Padahal Dara tidak suka susu, namun Azlan membujuknya supaya Dara mau. Sebab susu ibu hamil ini selain manfaatnya mengurangi rasa mual pada Ibu hamil di trimester pertama, juga mengandung asam folat yang banyak manfaatnya buat kesehatan janin.
"Abang kan tahu sendiri kalau Dara tidak suka susu. Jadi jangan paksa Dara untuk minum susu dong!" protes Dara ogah-ogahan.
"Harus diminum Dek, apalagi ini buat janin di trimester pertama. Ini kandungannya untuk mencegah berbagai macam resiko buruk pada janin. Ayolah... cuma diminum sekali glek dalam sehari saja kok." Azlan masih tidak berputus asa membujuk Dara supaya mau minum susu ibu hamil.
Akhirnya Dara mau minum susu yang sudah Azlan buatkan dengan sepenuh hati, dengan memencet hidungnya Dara meminum susu itu sekali teguk.
"Alhamdulillah....!" ucap Azlan karena melihat Dara minum susu sampai tandas.
"Dek, gimana masalah resign, bukankah dulu Adek berjanji akan resign dari pekerjaan kalau Adek benar-benar sudah hamil?" Azlan menatap wajah Dara lekat.
"Emmm... Dara masih mau merenung dulu. Kalau kondisi Dara tidak memungkinkan untuk bekerja, maka Dara akan langsung resign. Tapi kondisi Dara saat ini bagus-bagus saja. Dara rasanya masih sanggup kerja dan hanya dengan bekerjalah Dara tidak akan merasa suntuk." Alasan Dara membuat Azlan sedikit menjengit.
"Ditunda lagi, ditunda lagi. Abang khawatir lho dengan keselamatan Adek. Jangan sampai kayak dulu lagi Dek, kalau itu terjadi, maka itu hal paling menyakitkan buat Abang yang kedua kalinya. Jadi jangan buat Abang sakit!" tekannya seraya menatap jauh kedepan. Dara diam mencerna ucapan Azlan. Dulu Dara keguguran, saat sedang bekerja dan kecelakaan yang tidak terduga menimpa. Dan akhirnya, Dara dibawa ke RS karena keguguran.
"Dara tahu. Tapi Dara merasa kehamilan Dara ini benar-benar tidak mengalami banyak masalah, Abang...! Dara takut bosan kalau lagi hamil di rumah terus tanpa ada kesibukan." Dara memberikan alasan yang lagi-lagi membuat Azlan kecewa.
"Ya sudah terserah Adek saja, asal bisa menjaga kandungannya, semua keputusan Abang serahkan pada Adek." Akhirnya Azlan mengalah namun dengan ekspresi yang dingin. Dara diam, sejenak dia merenung. Dia sadar Azlan sedang marah padanya.
Di pabrik Dara nampak murung, dia tidak seceria kemarin. Jabar merasa heran dan mencolek pinggang Dara, kebiasaan yang memang sudah mendarah daging dalam diri Jabar.
"Ihh... apa sih Abang toel-toel, geli tahu!" sungutnya benar-benar kesal.
"Kenapa sih Neng kesal amat, biasanya tidak kesal gitu kalau Abang toel?"
"Kenapa sih Abang, Abang masih bisa santai-santai dan bercanda, sementara hubungan Abang sama Mbak Fina sedang buruk?" Dara bertanya dengan nada yang digas.
__ADS_1
"Laki-laki itu beda sama perempuan. Laki-laki lebih banyak tidak menampakkan diluar, diluar bawa happy walaupun didalam rasanya pengen mati. Apa Abang harus nangis bombay menyesali semua yang terjadi sama Abang dan hubungan pernikahan Abang?"
"Beri alasan kenapa laki-laki bisa begitu sok kuat diluar, padahal di dalam nangis juga?" Dara penasaran.
"Laki-laki itu lebih banyak pakai hati bukan perasaan, jadi kalau laki-laki harus nangis bombay karena suatu masalah itu kesannya tidak ada harga dirinya. Jatuh saat itu juga harga dirinya. Jadi sebisa mungkin bawa happy saja."
"Jadi kesimpulannya, dalam hati Abang tetap menangis, kan? Jadi Abang, sekarang lagi pura-pura happy, ya?" tebak Dara.
"Ya... seperti itulah," sahut Jabar pendek.
"Semoga saja hubungan pernikahan Abang sama Mbak Fina bisa diperbaiki," harap Dara.
"Sudah tidak mungkin Dek, dia sudah minta cerai kok." Dara terbelalak tidak percaya.
"Apa...?" pekik Dara tidak percaya.
"Iya... dia sudah minta tolong saudaranya yang bekerja di KUA untuk mengurus semuanya. Kita sudah mediasipun tidak ada titik temu, intinya dia pengen bercerai kok."
"Pintar banget ya bininya Abang....!"
"Isss... lagi-lagi bercanda, Abang kualat nanti. Ngaku-ngaku bininya segala," potong Dara.
"Lah... emang iya kan, Neng? Kamu ini kan bininya Abang Azlan, emang kamu pikir bininya Abang Jabar... wkwkwkwk?"
"Ihhh... dasar calon duda... rese!" sungut Dara kesal.
"Sudah kesalnya dong Neng, perasaan sejak masuk pabrik kamu kelihatan murung. Ada apa sih, kayaknya ada yang mengganjal, ya?" tebak Jabar ingin tahu.
__ADS_1
"Kasih tahu tidak, ya?"
"Kasih tahu dong Neng, siapa tahu Abang bisa jadi Mediator!"
"Ihh... Mediator apaan, Mediator perceraian? Yang ada Dara yang harus jadi Mediator, biar Abang sama Mbak Fina rujuk lagi."
"Dara... sebenarnya mau resign dari pabrik ini," berita Dara ragu-ragu membuat Jabar terhenyak.
"Apa... yang benar Neng, serius nih?" Jabar tidak percaya.
"Serius," jawab Dara.
"Memang kenapa? Sudah tidak ada lagi tempat Abang menghibur diri jika kamu benar-benar resign," ungkap Jabar terdengar kecewa.
"Dara sedang hamil Abang, jadi Bang Azlan meminta Dara untuk resign."
"Wahh... beneran kamu hamil Neng....?" Dara mengangguk. "Kalau kamu disuruh resign sama. suami, ya harus nurut. Itu tandanya suami kamu sayang banget sama kamu, Neng. Jangan pernah kamu bantah selama perintahnya tidak melanggar perintah agama," nasihat Jabar yang bagi Dara terasa tidak biasa.
"Tumben....?"
"Apanya yang tumben, Neng?"
"Tumben, Abang kasih nasihat. Biasanya Abang bisanya bercanda ngajak Dara jadi bini kedua melulu."
"Ini lagi insyaf Neng, jangan komplen. Nanti Abang cium baru tahu rasa," ancam Jabar membuat Dara berlari kecil.
"Ehhh... jangan berlari dong, itu perutnya....!" peringat Jabar menunjuk perut Dara. Dara baru tersadar dan menepi menuju mesin. Nasib baik tidak ada Leader atau Supervisor lewat yang menyaksikan aksi konyol Dara.
"Keadaan ini tidak akan terulang lagi jika kamu resign, Neng. Abang akan sangat kehilangan kamu. Kebaikan dan keceriaan kamu. Dan yang jelas Abang kagum sama keteguhan kamu. Walaupun segokil apapun Abang merayu kamu untuk menjadi bini kedua, kamu tetap keukeuh menolak Abang. Itulah makanya Abang senang dekat denganmu, yang mampu menjaga kesetiaan terhadap pasangannya," tutur Jabar terdengar sedih.
"Dara minta maaf ya jika Dara ada salah sama Abang selama kita menjadi partner kerja. Semoga hubungan Abang sama Mbak Fina bisa diperbaiki," harap Dara sedih. Jabar memeluk Dara penuh kasih sayang. Hati Jabar sedih akan kehilangan gadis cantik yang ceria ini yang sempat bersemayam di dalam hatinya.
__ADS_1
"Jaga ya kehamilan kamu! Jangan lupa saat lahiran, Abang kasih tahu!" Dara mengangguk haru, ini hari dimana ia akan mengajukan resign dari pabrik yang telah mengantarkannya menjadi seorang Operator mesin SMT. Dara sedih akan meninggalkan pabrik ini, akan meninggalkan orang-orang yang selama disini begitu baik padanya. Tapi mau bagaimana lagi, perintah suami adalah wajib dia patuhi.