Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Perumpamaan buat Azlan


__ADS_3

Sepanjang jalan dusun yang dilewati, hamparan ladang sawit dan karet terbentang dari utara hingga selatan, berhadap-hadapan. Jalan dusun yang dilewati ini diapit oleh keduanya. Suasana lengang, lalu lalang para pekerja ladang masih jarang, hanya bersenandungkan suara burung-burung yang berterbangan, kadang hinggap lalu terbang lagi dari pohon sawit yang satu ke pohon sawit yang lainnya. Terasa damai melihatnya, burung-burung itu bebas terbang menikmati hidupnya yang tidak terbelenggu.


Tiba di sebuah gubuk ladang sawit Pak Amar, bapaknya Azlan, mereka menghentikan motornya. Azlan dan Pak Amar berkeliling sejenak memantau keadaan sawit milik Pak Amar yang hanya seluas setengah hektar.


"Assalamu'alaikum Pak Amar......, lagi memantau Pak?" tegur salah satu pekerja di ladangnya sambil membungkuk.


"Waalaikumsalam, iya nih Pak Badar...!" Sahut Pak Amar.


"Ini ya anak Pak Amar yang paling besar itu, yang merantau ke Pulau Jawa?"


"Benar Pak Badar, kebetulan saat ini sedang pulang kampung dulu, " jawab Pak Amar. Azlan yang disinggung namanya, menoleh ke arah Pak Badar dan menyapa dengan senyuman.


Setelah berbasa-basi dengan Pak Badar, Pak Amar dan Azlan kembali berkeliling sejenak di ladang Sawitnya, setelah itu mereka kembali ke gubuk untuk beristirahat.


Pak Amar menghempaskan tubuhnya pelan, tatapannya menerawang ke hamparan ladang karet di sebrang gubuk itu. Hembusan nafasnya kasar, seolah ada hantaman yang berat mengenai dadanya. Azlan menatap gelagat Bapaknya was-was lalu mengikuti Pak Amar, mengamati hamparan ladang karet di sebrang sana.

__ADS_1


"Disinilah Lan, di gubuk tua ini Bapak selalu melepas lelah. Bukan saja sekedar melepas lelah dari penatnya meladang, namun terkadang gubuk ini saksi bisu dari segala kegundahan hati," ungkap Pak Amar akhirnya, membuka kebekuan diantara mereka.


Azlan merasakan dadanya bergejolak, kegundahan hati Pak Amar jelas merupakan pangkal masalah yang ditimbulkan oleh ulahnya. Azlan sadar sepenuhnya akan hal itu, beruntung Pak Amar tidak memiliki riwayat penyakit jantung, ketika mendengar kabar Azlan telah melakukan perbuatan yang tidak menyenangkan di perantauan, Pak Amar cukup shock dan kecewa. Sedih sudah tentu, yang mampu dia lakukan adalah menguatkan hati dan menjaga masalah yang ditimbulkan Azlan supaya tidak tercium oleh para tetangganya atau bahkan kedua adiknya Azlan. Disini Pak Amar kecewa berat pada Azlan.


Pak Amar untuk kesekian kali menghembuskan nafasnya dengan kasar, menahan gejolak didadanya, antara rasa marah dan kecewa.


"Lihatlah ladang karet itu.....!" tunjuk Pak Amar. Azlan mengikuti kemana arah telunjuk Pak Amar.


"Ladang karet itu jika dibiarkan rumput ilalangnya tinggi, maka akan nampak tidak terurus. Bahkan bisa saja akan timbul binatang-binatang buas seperti Ular atau Kalajengking menghuninya apabila terlalu rimbun," sambungnya. Lalu berhenti untuk beberapa jenak.


"Hubunganmu dengan Neng Dara, diibaratkan seperti ladang karet itu, jika tidak diurus maka akan menimbulkan kebencian dan rasa dendam, kebencian dan rasa dendam diibaratkan Ular dan Kalajengking yang siap memberi bisa dan racun pada manusia yang mendekatinya," ucap Pak Amar datar disertai ungkapan-ungkapan perumpamaan. Azlan diam memahami ucapan Pak Amar.


"Paham Pak!" sahutnya.


"Lantas harus diurus seperti apa hubunganmu dengan Neng Dara itu? Hanya sebuah kesabaran yang tiada batas dan perhatian yang berlimpahmulah yang bisa membuat hubunganmu dengan Neng Dara bertahan, " Ucap Pak Amar lagi sedikit meninggi.

__ADS_1


"Cinta di hatinya tidak akan mudah Kau dapat, hanya dengan kesabaran dan perhatianmu sajalah akan timbul rasa " nyaman" di diri Neng Dara, sehingga membuat dia terpaksa bertahan. Kenapa terpaksa? Sebab dengan kesabaran dan perhatianmu yang besar itu, Neng Dara akan merasa kasihan untuk tidak meninggalkanmu," Azlan sedikit terhenyak mendengar penuturan Pak Amar barusan.


Cuma rasa "kasihan" yang akan dia dapat dari Dara, bukan rasa cinta yang tulus. Ini disadari sepenuhnya oleh Azlan, memang tidak mudah mendapatkan hati dan cintanya Dara. Karena perbuatannya tempo hari itu penyebabnya.


Azlan menghembuskan nafasnya kasar, mukanya diliputi kegalauan yang dalam.


"Buatlah rasa " nyaman " itu selalu ada dihatinya, maka dia akan bertahan bersamamu, " lanjut Pak Amar.


"Lihatlah ladang karet itu, meski sudah sebaik dan setelaten mungkin kita mengurusnya, namun harganya tidak lagi pernah melebihi atau menyamai harga satu kilo beras," tutur Pak Amar lagi datar diiringi nada keputusasaan.


"Hanya dengan kebesaran hatilah kita bisa menerimanya, seperti hubunganmu dengan Neng Dara, maka hanya dengan kebesaran hati dan keteguhan hatimulah kekerasan hati Neng Dara bisa diluluhkan.," pungkas Pak Amar.


Azlan mencerna semua penuturan Pak Amar barusan, dia paham dengan semua ucapan-ucapan Pak Amar meskipun dengan ungkapan-ungkapan perumpamaam.


"Azlan paham Pak dengan semua ucapan Bapak, Azlan akan berusaha sekuat tenaga Azlan untuk meraih cintanya Dara. Akan Azlan hadirkan rasa " nyaman" itu dihatinya Dara. Ucap Azlan berjanji.

__ADS_1


" Ingat Azlan, tidak semudah itu!" peringat Pak Amar penuh intimidasi. Azlan menunduk seolah membenarkan perkataan Pak Amar barusan.


"Ayo...., sebaiknya kita pulang saja hari sudah mulai siang!" ajak Pak Amar membuyarkan lamunan Azlan.


__ADS_2