
Sebulan kemudian, tibalah hari yang paling menentukan bagi Sofia dan Wisnu. Hari pernikahan yang telah disepakati kedua belah pihak. Bu Endah sebagai orang tua Wisnu nampak begitu bahagia melihat anaknya akan bersanding dengan Sofia, terlebih Bu Endah memang dari awal sudah menyukai Sofia, yang selalu diimpikannya menjadi menantunya. Dan hari ini tiba waktunya. Ternyata Allah mengabulkan doa Bu Endah.
Senyum bersliweran di mana-mana, terutama di wajah kedua besan. Mereka bersuka cita menyambut pesta pernikahan kedua anak mantunya.
Dara dan Azlan sejak kemarin sudah tiba di Prabumulih. Beruntung baby Zla tidak rewel, dia seakan ikut bersuka cita atas pernikahan Om dan Tantenya. Saat dipakaikan bajupun, baby Zla tidak rewel, dia selalu tersenyum memperlihatkan keramahannya. Banyak yang menyukai dan sayang sama baby Zla. Bagaimana tidak, baby Zla yang cantik dengan bulu mata lentik itu dengan wajah perpaduan Dara dan Azlan menjadikan baby Zla sangat menggemaskan.
Dara dan Azlan sejenak menghampiri calon mempelai yang kini sedang dirias. Azlan segera bergegas menghampiri Wisnu yang sedang dipakaikan kain songket yang berwarna merah keemasan, dan detail-detail lainnya perlengkapan pakaian adat pengantin pria. Setelah selesai, Azlan meminta penata rias pergi dulu. Penata rias tidak membantah dia segera beranjak, terlebih sejak tadi dia memang mau minum dulu dan haus.
"Selamat ya A, sebentar lagi Aa akan menjadi bagian dari keluarga ini. Saya harap Aa tidak menyia-nyiakan Sofia ataupun menyakitinya. Semoga A Wisnu bisa memegang janji pernikahan sesuai sighat taklik nikah yang tertulis jelas di buku nikah," peringat Azlan tandas.
Wisnu menatap muka Azlan dibarengi senyuman sinis. "Tidak perlu mengajari aku, aku bukan tipe lelaki pengecut atau lelaki yang tidak tahu diri yang dengan mudah menyakiti perempuan. Pun, seandainya aku tidak mencintai perempuan yang aku nikahi, tapi bukan sifat aku untuk mempermainkannya. Jadi, jangan takut wahai Kakak ipar!" ucap Wisnu didekat telinga Azlan. Azlan merinding dengan hembusan nafas Wisnu yang terasa menyapu daun telinganya.
"Dan, maaf satu lagi perlu kamu camkan. Jangan panggil aku A Wisnu, sebab aku ini adalah calon suami dari adik kesayanganmu, Kakak Ipar...." Tekan Wisnu seraya berdiri membenarkan songketnya yang sudah rapi.
"Ehh... kalian nih para cowok sedang membicarakan apa, kayaknya sudah saling ngobrol ya?"
"Wihhhh... Aa tampan banget, malah lebih tampan dari hari biasanya. Kalau disejajarkan dengan Raja-raja di jaman kerajaan Melayu, kayaknya Aa Raja yang paling tampan deh," ucap Dara memuji Wisnu.
"Iya dong, De... Aanya siapa dulu dong." Wisnu merasa tinggi hati dipuji sama Dara.
"Foto dulu yuk, sebelum Aa melepas masa bujang," ajak Dara sembari meraih HPnya dari tas sandingnya.
"Sudah... nanti saja fotonya. Wisnu itu sebentar lagi mau ijab qabul. Ayo... kita ke baby Zla, kasian lho Mamak sama Ibu pegal gendong baby Zla," tarik Azlan membawa Dara menjauh dari Wisnu. Sementara Wisnu, geregetan menahan kesal sama Azlan.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Azlan, sampai kapanpun aku tidak rela memanggilmu dengan sebutan Abang. Karena selamanya aku membencimu." Janjinya sesumbar dalam hati.
Beberapa menit kemudian
"Saya Terima nikah dan kawinnya Sofia binti Ammar dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan 5 suku emas dibayar TUNAI....!" Dengan lantang tanpa hambatan, Wisnu mengucapkan ijab qabul di hadapan para saksi dan tamu undangan di pesta perkawinannya. Perasaan haru seketika membuai setiap tetamu yang hadir, yang kebanyakan di hari ijab qabul ini adalah sanak saudara dari keluarga Sofia dan sebagian kerabat mempelai laki-laki.
Wisnu menatap Sofia yang sangat cantik hari ini bagaikan ratu, lalu menyodorkan tangannya untuk dicium Sofia dengan takzim. Kemudian Wisnu mencium kening Sofia penuh perasaan. Sofia terbawa perasaan, dia terharu dan meneteskan air mata. Hanya Sofia dan Tuhan sajalah yang tahu arti tangis Sofia. Namun semua orang melihat bahwa tangisan Sofia adalah tangisan bahagia.
Ijab Qabul telah selesai, disambung acara prosesi adat lainnya. Para kerabat dekat Sofia silih berganti berdatangan, juga teman satu letting Wisnu yang kebetulan berdinas di kotanya Prabumulih, datang memberikan ucapan selamat. Sejenak kedua mempelai diberikan jeda untuk beristirahat di dalam kamar pengantin. Untuk melanjutkan acara resepsi yang diadakan di rumah orang tua Sofia hari itu juga, yang disulap menjadi sebuah tenda besar yang lumayan megah.
Sofia dan Wisnu diberikan waktu satu jam untuk beristirahat. Mereka harus makan dan minum dulu untuk melanjutkan ke acara resepsi yang kemungkinan akan lebih banyak tamu lagi untuk dilayani.
"Kalian makanlah dulu supaya tenaga kalian banyak, setelah itu MUA akan merias kembali kalian dengan baju pengantin nasioanl," ujar Bu Endah yang tiba-tiba masuk ke kamar pengantin bersama Mamak yang kebetulan memangku baby Zla. Kedua orang tua itu begitu kompak dan bahagia.
"Jangan... A, waktu kalian tidak banyak. Ayo... kalian harus makan dulu. Satu jam lagi MUA datang lho," cegah Mamak memanggil Wisnu dengan sebutan A, dan Wisnu tidak keberatan. Wisnu nampak kecewa karena tidak dibolehkan memangku baby Zla.
"Cium saja yang boleh. Makanya kalian nanti setelah selesai resepsi, langsung saja bikin anak dan tidak usah menunda!" ujar Mamak membuat Sofia dan Wisnu tersipu malu.
"Ayo Mak, jangan ganggu pengantin kita. Tanpa kita kasih tahu, mereka pasti paham sendiri," ucap Bu Endah seraya menarik lengan Mamak keluar kamar pengantin.
Wisnu dan Sofia saling tatap lalu tersenyum malu-malu.
"A, sebaiknya kita makan dan minum dulu, supaya tenaga kita nanti terkumpul kembali," ajak Sofia. Keduanya pun makan dalam kebekuan dan rasa canggung yang tiba-tiba mendera, padahal mereka kini sudah sah menjadi suami istri.
__ADS_1
"Sofia... kamu sedang halangan, tidak?" Sofia terkejut mendengar pertanyaan Wisnu yang mendadak setelah baru saja menyudahi makan berdua. Sofia menunduk menyembunyikan rasa malu.
"Kenapa Aa bertanya tentang hal itu?" Sofia balik bertanya.
"Sebab... nanti malam setelah suasana sepi, saya ingin melaksanakan kewajiban saya terhadap kamu," jawab Wisnu dengan gaya cool yang seperti biasa kaku namun selalu saja lelaki di hadapan Sofia ini langsung ke inti masalah. Tidak pernah bicara yang bertele-tele yang dibumbui romantisme.
"Bukankah Aa pernah berkata pada Sofia, bahwa walaupun Aa menikahi Sofia namun cinta Aa masih ada untuk orang yang pernah mengisi hari-hari Aa dulu. Tapi, kenapa Aa ingin nanti malam melaksanakan kewajiban Aa sebagai seorang suami?" ucap Sofia getir seiring air mata yang ikut jatuh.
"Stop Sofia, saya tahu saya pernah mengatakan itu. Tapi perempuan itu sudah menikah dan tidak mungkin Aa miliki, dia sudah bahagia. Aa mengatakan itu hanya karena Aa berkata jujur. Sekarang saya minta, bantu saya melupakan dia!!Beri saya kesempatan untuk mencintai lagi seorang perempuan, dan itu kamu. Kamu bisa memiliki diri saya sepenuhnya bahkan cinta saya, dan kamu harus bisa memberikan cinta itu untuk saya supaya saya bisa mencintai kamu sepenuhnya." Wisnu berkata penuh kesungguhan.
Perlahan Wisnu meraup kedua pipi Sofia yang kini bercucuran air mata, Wisnu mengusapnya lembut kemudian membawa wajah itu mendekat ke wajahnya. Beruntung mahkota yang berada di kepala Sofia sudah dilepaskan, dan kini kepala Sofia menjadi ringan.
Wisnu menatap lekat wajah cantik Sofia yang beriaskan make up tebal ala pengantin, namun kecantikan Sofia makin bertambah. Wajah itu saling mendekat dan Wisnu berhasil meraup bibir merah delima itu dengan lembut dan hasrat yang tiba-tiba bergelora. Tubuh mereka meliuk-liuk pertanda keduanya saling menikmati dan saling memberi balasan ciuman masing-masing.
"Saya rasanya sudah tidak bisa menahan hasrat ini, kamu cantik dan menggairahkan!" ungkap Wisnu berkabut gairah.
"Tahan dulu A, ini masih siang dan kita masih harus didandani. Kita masih harus melayani tetamu yang datang," cegah Sofia yang membuat Wisnu merengut kecewa.
Walau kecewa tapi Wisnu tidak bisa apa-apa, yang bisa dia lakukan untuk menumpahkan hasratnya yang tertunda, Wisnu kembali mencium bibir Sofia penuh gairah terlebih Sofia membalasnya penuh gairah juga.
"Ck, ck... ternoda kembali untuk yang ketiga kali mata ini, oleh kelakuan anak mantu yang tidak tahu waktu dan tempat. Anak dan menantu yang pertama dan kedua sama-sama telah menodai penglihatanku," ujar Mamak seraya geleng-geleng kepala.
Rupanya Mamak memergoki kelakuan Sofia dan Wisnu yang sedang dimabuk asmara, sama seperti Mamak yang pernah memergoki kelakuan Dara dan Azlan beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Novel Author ini OTW TAMAT lho.... makanya kalian Readers ayo... jangan ketinggalan ya.... pantengin.....