Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Mencari Kontrakan


__ADS_3

Dara terhenyak sejenak, pikirannya berkelana. Kalau dipikir-pikir cowok di hadapannya ini memang tidak jelek-jelek amat. Hanya kalah standar sedikit dari cowok idaman Dara yang putih tampan dan berwajah mulus.


Memang kalau mengingat segala kebaikannya, Azlan boleh berbangga diri. Sebab selama ini Azlan memang baik, perhatian, dan sabar menghadapi segala sifat kekanakan dan juteknya Dara.


Bahkan yang membuat Dara merasa jauh lebih yakin adalah, sebulan terakhir ini Azlan benar-benar memperlihatkan keseriusan dan perhatiannya. Terlebih lagi Azlan benar-benar menepati janjinya tidak pernah lagi berusaha kontak fisik dengan Dara. Untungnya juga kerja dengan sistem shift menjadikan mereka sedikit waktu untuk bertemu.



Benar, cara Azlan untuk mendapatkannya awalnya bisa dikatakan melecehkan dan menghancurkan harga diri Dara sebagai perempuan. Namun di sebalik itu ada alasan Azlan yang benar-benar membuat Dara tak habis pikir. Pikir Azlan semua perempuan muda yang jauh dari orang tua atau tanpa pengawasan orang tua, mudah terjerumus pergaulan bebas?



"Abang takut jika Adek terjerumus pergaulan bebas," alasannya saat itu.


Benar saja, di depan mata terpampang nyata, perempuan muda sedang bergelayut mesra dengan pria matang yang sudah beristri, bukankah itu juga termasuk pergaulan bebas? Dara masih samar-samar untuk berasumsi seperti itu. Itu cuma dugaannya saja. Yang jelas pemandangan tadi, menjawab semua kekhawatiran Azlan. Memang tidak semua, tapi kalau sudah jauh dengan pengawasan orang tua, siapa lagi yang bisa mengontrol? Kecuali dia punya iman yang kuat, dan teman-teman yang baik pula.


Dara menyodorkan kembali HP Azlan ke tangannya. Betapa Azlan bangga memasang fotonya berdua menjadi sebuah wallpaper HPnya. Sementara dirinya tak satupun menyimpan foto Azlan atau foto saat berdua. Tiba-tiba Dara terbayang kembali masa-masa romantis bersama Azlan saat itu, saat sebelum Azlan berjanji tidak akan pernah kontak fisik langsung dengannya.



Bis kembali berjalan perlahan diikuti kendaraan yang lain. Rupanya mobil Avanda milik Pak Erik masih setia mengikuti di samping bis yang ditumpangi Dara.



Bis mulai berjalan sedikit cepat, Dara masih mengikuti kemana mobil yang ditumpangi Meta dan Pak Erik berjalan. Saat plang menunjukan arah ke Bogor, rupanya mobil Avanda milik Pak Erik berbelok ke sebelah kiri ke arah Bogor.


"Bogor," guman Dara.


******


Waktu terus berjalan. Bis yang ditumpangi Azlan dan Dara akhirnya tiba di terminal Bandung, tepatnya Terminal Leuwipanjang saat jam menunjukkan pukul 14.05 WIB siang. Hampir 6 jam jarak yang ditempuh dari Cikarang ke Bandung, yang biasanya hanya ditempuh 2 jam.


Lelah sudah pasti, rasa haus dan lapar sudah sangat mendera. Namun Dara enggan membatalkan puasanya yang hanya tinggal beberapa jam lagi. Azlan dan Dara tidak menunggu lama, mereka segera memesan GrabCar tujuan Lembang, ke kampung halamannya Dara.



Singkat cerita, dengan melewati jalan tikus alias jalan alternatif lain, GrabCar sampai di titik tujuan. Dara sengaja berhenti di jalan Pelita, sebab tujuan utama setelah ini adalah mencari sebuah rumah kontrakan. Jalan ini sudah sering Dara lewati saat masih belum pergi merantau ke Cikarang. Itulah makanya Dara tahu di sini banyak rumah petak yang disewakan.



Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, Dara berharap langsung menemukan rumah kontrakan yang kosong dan bisa ditempati hari ini juga jika memang kondisinya menginginkan begitu.



Dara bertanya dari satu orang ke orang yang lain mengenai kontrakan yang kosong. Belum berhasil, Dara dan Azlan berjalan lagi dan mencari lagi. Masih gagal juga. Kontrakan penuh dan penuh. Hampir putus asa dan rasa lelah mendera.

__ADS_1


Azlan dan Dara masih belum menyerah. Mereka berdua kini berjalan ke arah timur. Di sana berjejer rumah kontrakan petak.


BDara berusaha mencari dan menanyakan siapa pemilik kontrakan. Akhirnya setelah dengan sabar dan lelah, Ibu pemilik kontrakan itu bisa dijumpai.



Kebetulan kontrakan milik Bu Sumi, begitu beliau menyebutkan nama, ada dua petak yang kosong. Dan Dara memilih yang tepat di ujung jalan. Setelah deal Dan bernegosiasi agak alot dengan pemilik kontrakan, Azlan langsung meminta kuncinya dan ingin segera melihat rumah kontrakan.



"Bagaimana Bang, ini tempat tinggal Abang sementara," Dara meminta pendapat Azlan.


"Lumayanlah," jawabnya pendek.


"Ayo simpan dulu tasnya. Kayaknya sebentar lagi akan azan Magrib," ujar Azlan.


Benar saja, tak berapa lama Adzan Magrib berkumandang. Azlan dan Dara membatalkan puasanya dengan sebotol air mineral. Setelah itu Azlan dan Dara mencari makanan di depan. Setelah mendapatkan makanan yang mereka mau. Dara dan Azlan kembali ke kontrakan dan menikmati makanan berbukanya.


Sebelum mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah orang tua Dara, Azlan dan Dara melaksanakan kewajibannya dulu. Setelah itu, mereka bersiap.



"Abang tolong dengarkan Dara, jika Abang ingin selamat, maka ikuti arahan Dara," peringat Dara sebelum kakinya benar-benar melangkah meninggalkan rumah petak itu.


Azlan menggeleng tanda tak setuju. Dara menatap Azlan dengan harapan Azlan setuju dengan usulnya, namun Azlan sepertinya tidak terpengaruh.



Sebetulnya jarak rumah orang tua Dara dari rumah kontrakannya barusan tidak terlalu jauh. Hanya butuh waktu 10 menit dengan berjalan kaki, namun berhubung waktu semakin malam, Dara memutuskan mencegat *ojeg* yang masih berkeliaran di sana.



Tak berapa lama, *ojeg* yang ditumpangi Azlan dan Dara tiba di depan sebuah rumah yang cukup asri, dengan halaman depan rumah yang luas dengan bunga-bunga yang warna warni, bikin betah siapa saja yang memandang.



Setelah turun dan membayar ongkos *ojeg*, Dara mengajak Azlan mendekati pintu. Rumah nampak sepi, mungkin para penghuninya sebagian telah pergi ke Mesjid untuk menunaikan Sholat Tarawih. Dara merasa ragu-ragu untuk mengetuk pintu. Tiba-tiba hatinya dilanda takut yang amat dalam.



"Assalamu'alaikum!" ucap Dara. Belum ada yang menjawab. "Assalamu'alaikum!" ulangnya lagi.


Tiba-tiba, "waalaikumsalam," sahut yang di dalam lembut, seraya membukakan pintu perlahan.


Wajah berbalut mukena menyambut kedatangan Dara dan Azlan. Wanita paruh baya itu terhenyak kaget setelah tahu siapa yang bertamu malam begini.

__ADS_1


"Enenggg!" pekiknya kaget dan merasa tak percaya. Dara langsung menghambur ke arah wanita paruh baya yang tak lain adalah Ibunya, memeluknya erat penuh rasa rindu. Pelukan itu disertai isakan tangis, mungkin saking Dara merindukan wanita itu.



Dara melepaskan pelukannya, lalu dia mencium kedua tangan wanita paruh baya tersebut takzim.


"Ini siapa Neng?" tanya wanita itu saat menoleh ke arah Azlan.


"Teman, Dara bersama teman," jawab Dara memperkenalkan Azlan sebagai teman. Azlan tak mampu menyela saat Dara cuma mengenalkan dirinya sebagai teman. Mungkin belum waktu yang tepat untuk Dara mengenalkan siapa Azlan sebenarnya.


Azlan menyalami wanita yang disebut Dara sebagai Ibu itu dengan penuh rasa hormat.


"Saya Azlan Bu, teman dekat Neng Dara," akunya yang sontak membuat Dara sedikit salah tingkah.


"Ohhhh ..., ayo silahkan masuk! *Neng hayu, ajak rerencanganna lebet (Neng ayo, ajak temannya masuk*)," ajak wanita itu ramah.



Dara membuka sepatunya diikuti Azlan, perlahan kakinya mulai memasuki pintu rumah.


"Abang, duduklah dulu. Dara mau ke dapur dulu nyusul Ibu, mau bikin minum buat Abang," ucap Dara sembari menuju dapur. Azlan mengangguk.


Tidak berapa lama Dara datang membawa nampan berisi air dan kuenya.


Suasana di luar mulai terdengar sayup-sayup orang yang melaksanakan tarawih. Bersahutan dari berbagai arah. Membuat malam terasa syahdu, terlebih ini adalah malam terakhir puasa di bulan ini.



"*Bapak sareng A Wisnu nuju Tarawehan, ke sakedap deui ge uih ( Bapak dan A Wisnu sedang Tarawih, nanti sebentar lagi juga pulang*)," berita Ibu. "*Nembe ge sababaraha sasih di Cikarang, Eneng tos nyandak rerencangan (baru saja beberapa bulan di Cikarang, Eneng sudah membawa teman*)," ujar wanita itu membuat Dara tersipu malu, disertai senyuman.



Azlan yang tidak paham dengan bahasa yang Ibunya Dara bicarakan, hanya terduduk diam. Ingin menimpali tapi rasanya masih malu.


"Silahkan Nak, diminum airnya! siapa nama temannya Neng?" tanya Ibunya Dara.


"Bang Azlan, Azlan Bu," ucap Dara.


"Silahkan Nak Azlan diminum."


Tiba-tiba saat Dara, Azlan, dan Ibunya Dara sedang bercengkrama, di luar terdengar orang mengucap salam.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya berbarengan. Azlan dan Dara sontak menyahutnya berbarengan.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


Siapakah mereka? Yuk ikuti terus kelanjutannya. Dukung terus Author ya. Makasih....


__ADS_2