
Dara meringis di kamar mandi merasakan perutnya keram. Terlebih saat ini keluhan yang dia rasakan adalah pengen buang air kecil terus. Betapa tersiksanya, sepertinya dede bayinya semakin turun aja menekan-nekan kantung kemihnya.
Bagi Dara kehamilannya ini begitu banyak ujiannya. Perut yang sering keram, buang air kecil yang sering, kadang-kadang sakit kepala yang tiba-tiba menyerang. Kalau sudah begini, yang Dara lakukan hanyalah berbaring di kasur.
Tiba-tiba sekelebat bayangan ibu kandungnya muncul di pelupuk matanya, Dara terhenyak. Bayangan ibunya seakan terpampang nyata di depan mata, berjalan sambil tersenyum seolah memberi kekuatan kepada Dara.
"Ibu... Dara kangen....!" rintihnya. Suasana ini mengingatkan dia kembali ke tragedi maut 19 tahun silam yang menimpa ayah dan ibunya. Saat itu usianya masih sangat muda, Dara kecil baru menginjak SD dan duduk di kelas 1 SD.
"Seandainya Ibu dan Bapak saat itu ajak Dara, mungkin Dara tidak merasakan hal seperti ini. Dara pasti sudah bahagia sama ibu dan bapak, hu... hu... hu.... " ungkapnya disertai tangis yang seketika pilu.
"Astaghfirullah... Neng, **** ka Gusti Allah. Ibu sareng bapak janten nalangsa ngupingna," ("Astaghfirullah... Neng, ingat sama Gusti Allah. Ibu dan bapak jadi sedih mendengarnya). Tiba-tiba bisikan asing itu seakan muncul di telinga Dara. Seketika itu Dara beristighfar.
"Astaghfirullah... Ya Allah maafkan Dara....!" sesalnya sejenak setelah menyadari apa yang diucapkannya tadi salah.
"Assalamu'alaikum....!" Suara salam terdengar nyaring dari luar. Sontak membuat Dara kaget. Baru saja dia teringat memori tentang masa lalunya bersama kedua orang tuanya, kini dikagetkan seseorang yang mengucap salam.
Perlahan Dara bangkit sambil memegangi perut bawahnya. "Duhhh... siapa ya???" keluhnya seakan malas. Namun akhirnya Dara memaksakan diri bangkit dengan pelan.
Tiba di depan pintu, sejenak Dara mengintip melalui jendela kaca. Dan rupanya ini kejutan. Nela datang bersama dengan baby boynya.
"Nela...! Baby Shaka....!" pekiknya bahagia. Nela tersenyum bahagia atas sambutan bahagia Dara.
"Ayo masuk, kebetulan Gua lagi kesepian nih, Nel." Tariknya membawa Nela ke dalam.
"Baby Shakanya tidurkan saja, Nel. Dia kayaknya nyenyak banget," usul Dara yang diangguki Nela. Nela meletakkan baby Shaka di kasur kamar tamu. Dara mengikuti Nela yang meletakkan baby Shaka di kamar.
"Mirip Elu dan Bang Ilham banget," celetuk Dara sambil tersenyum.
"Ihhh... ya iyalah, masa iya mirip Elu dan Bang Azlan," sergah Nela sambil tertawa.
"Ayo, kita di ruang tengah saja!" ajak Dara setelah Nela menidurkan baby Shaka.
"Gua bawa oleh-oleh nih. Rujak sama asinan buatan Bu Sukma yang jualan di toko ujung sana," seru Nela sembari mengeluarkan kresek berisi rujak dan asinan.
"Waah... makasih banyak Nel, ini kesukaan Gua asinan dan rujak, apalagi asinan buatan Bu Sukma, " timpal Dara senang.
__ADS_1
"Iya dong asinan dan rujak bu Sukma tiada duanya." Nela membenarkan.
"Tadi juga Gua bertemu sama anaknya lho. Mas duda yang ganteng sama cucunya Bu Sukma, Rafa." (Hihi sedikit nyelipin karya Jangan Sebut Aku Pelakor).
"Siapa ya namanya... Mas Sakti ya? Gantengnya kan maksimal sebelas dua belas sama Bang Jabar."
"Hooh... dua-duanya duda ganteng. Yang membedakan hanyalah profesinya, Mas Sakti adalah pengusaha sukses di bidang kuliner, sementara Bang Jabar Teknisi kesayangan Elu, hahahahaha....!"
"Hahahhaa... husss... Nela, Elu itu kalau ngomong suka benar. Nanti kedua orang itu batuk keselek karena sudah kita omongin."
"Biar saja, salah siapa punya wajah ganteng menawan, wkwkwkwk....!"
"Husss... sudahlah Nel gibahnya. Kualat kita mengagumi laki lain. Laki-laki kita juga tampan maksimal dari pada mereka," sergah Dara.
"Benar juga, yang jelas cuma suami-suami kita yang bisa. ngasih duit bulanan buat kita, benar nggak?" Dara mengangguk omongan Nela sambil menyiapkan asinan bawa Nela.
"Nel, kalau Elu mau makan tinggal ambil ya, Bang Azlan tadi sebelum kerja, masak dulu. Ada sayur asam, pindang ikan bandeng, sama sambel tomat terasi," tawar Dara.
"Santuylah Dar, entar kalau mau pasti Gua ambil. sendiri."
"Gimana, kehamilannya banyak keluhan tidak, Dar?" Kebetulan saat ditanya Nela, Dara tiba-tiba merasakan keram kembali seperti saat tadi di kamar mandi.
"Iya nih Nel, Gua keram terus akhir-akhir ini." Sambil memegangi perut bawahnya.
"Dan lagi Gua pengen pipis terus, sedikit-sedikit pengen ke kamar mandi. Ini dede bayinya kayaknya nyodok-nyodok terus kantung kemih. Gua jadi pengen pipis terus," keluhnya sambil meringis.
"Itulah nikmatnya hamil Dara, kita sebagai perempuan harus bersyukur karena sudah dikasih kepercayaan sama Allah, dititipkan makhluk kecil di dalam perut. Ini akan jadi ladang pahala buat kita kelak. Makanya nikmati saja segala yang dirasakan saat hamil ini dengan sabar dan ikhlas." Nela mencoba memberi Dara kekuatan. Dara tergugu dengan ucapan Nela, mungkin selama ini dia kurang menikmati kehamilannya dan banyak mengeluh.
Haripun berganti. Pagi ini kebetulan hari Minggu. Azlan akan mengajak Dara ke pasar kaget daerah Cikarang.
"Abang.... ini lihat baju Dara sudah tidak muat lagi," ucap Dara sambil memperlihatkan bentuk perutnya yang semakin kentara buncitnya.
Azlan terkekeh melihat tingkah lucu Dara yang menatap cermin sambil mengelus-elus perut buncitnya. Azlan gemas melihatnya, Dara malah semakin seksi dan cantik saat hamil ini, ditambah sikap manja yang akhir-akhir ini ditunjukkannya. Semakin bahagia saja Azlan dibuatnya.
"Ayok sayang....!" ajak Azlan seraya merengkuh bahu Dara.
__ADS_1
"Lihat ini, apakah ini tidak terlalu menonjol?" Dara memperlihatkan perutnya yang sudah tertutup. hoody. Dari jaman awal menikah perasaan Dara suka banget pakai hoody. Hoodynya juga cuma ada dua, tapi Dara suka banget.
"Tidak Dek, itu sudah tertutup hoody kok. Ayok... nanti keburu siang," ucap Azlan sembari menuntun tangan Dara.
...****************...
Pasar kaget kali ini belum terlalu ramai. Mungkin karena masih pagi, jadi belum membludak oleh pengunjung. Azlan sibuk belanja sayuran dan ikan buat persediaan makan beberapa hari kedepan, sementara Dara mengawasinya di samping Azlan sambil sesekali meringis.
"Sekarang kita kemana lagi, Dek?"
"Ke stand baju bayi saja yuk! Dara mau beli perlengkapan bayi," ajak Dara seraya mendahului langkah Azlan. Azlan tersenyum geli melihat Dara begitu bersemangat.
Tiba di stand baju-baju bayi, Dara sangat terpesona dengan baju-baju bayi yang lucu-lucu. Dia langsung memeganginya sambil diusap-usap.
"Beli saja sebagian, jangan banyak," peringat Azlan.
Dara memilih celana dan kaos bayi beberapa potong yang warnanya di dominasi warna hijau sage favoritnya. Azlan geleng-geleng kepala, semua yang berwarna hijau sage atau hijau toska disukainya, tidak warna pink yang disesuaikan dengan jenis kelamin bayi. Padahal Dara tahu jenis kelamin sang Jabang bayi adalah perempuan setelah kemarin dilihat saat USG 4 dimensi.
Setelah merasa cukup belanja baju bayi. Dara tersenyum puas sambil memegangi perutnya.
"Ayo... kita pulang saja, Dara sudah tidak tahan ingin mencicipi Es Teler," ajaknya sembari berbalik.
"Ayokk....!" ajak Azlan setuju.
Saat Dara dan Azlan mulai melangkahkan kakinya. Secara tidak disangka-sangka Dara bertemu dengan Meta dan seorang lelaki berumur di stand pakaian dalam perempuan. Dara menatap Meta lurus sehingga tidak bisa dihindarkan lagi tatapan itu. Meta langsung mengalihkan pandangannya lalu menarik lengan lelaki berumur di sebelahnya.
"Pak Susanto... tumben ya kita bertemu disini. Sedang apa hayoh... pasti membelikan sesuatu kejutan untuk istrinya ya?" pekik Azlan saat dirinya berpapasan dengan Pak Susanto sang Supervisor Produksi di pabrik tempat Azlan bekerja.
"Eh... iya... nih Lan. Saya duluan ya. Saya buru-buru," ucap Pak Susanto salah tingkah sambil ngeloyor menggandeng seseorang yang sangat Azlan kenal. Azlan melongo menyaksikan Pak Susanto terburu-buru sambil menarik tangan Meta.
"Apa yang Abang lihat?"
"Pak Susanto dengan Meta," ucapnya masih dilanda bingung, pasalnya Pak Susanto itu sudah memiliki istri dan dua orang anak.
"Itu kayaknya suaminya Kak Meta ya Bang, ternyata selera Kak Meta tetap sama. Menyukai lelaki berumur mateng. Sudah jodohnya kali," ucap Dara sambil berjalan santai tanpa mempedulikan Azlan yang masih terkesima.
__ADS_1