
Seminggu sudah Azlan tidak bekerja karena sakit, peristiwa pengeroyokan yang dilakukan Reno dan kawan-kawan telah mengakibatkan Azlan harus beristirahat di rumah. Perusahaan memberi keringanan waktu beristirahat, paling lama dua minggu waktu yang diberikan. Azlan tidak menyia-nyiakan waktu yang diberikan pihak perusahaan. Dia dengan tekad yang kuat, berusaha untuk segera sembuh dengan rajin terapi sendiri. Terlebih pihak RS juga menyarankan seminggu sekali harus kontrol ke RS untuk terapi.
Tepat seminggu juga Mamak berniat pulang kembali ke kampung, dengan perasaan sedih Dara melepas Mamak.
"Baik-baik disini ya, jaga hubungan rumah tangga kalian, terutama komunikasi. Saling terbuka antara suami istri, jangan ada yang disembunyikan. Mamak ingin rumah tangga kalian baik-baik saja. Terlebih... jika kalian segera memberi Mamak cucu, alangkah bahagianya. Jangan ada pertengkaran atau perang dingin lagi," pesan Mamak sebelum meninggalkan kota Cikarang.
Kali ini Mamak pulang menggunakan Bis. Azlan tidak bisa mengantar, dia hanya memesankan ojek online untuk mengantarkan Mamak ke PO Bis Cikarang.
"Kenapa Mamak naik Bis bukan pesawat biar lebih cepat?" tanya Azlan saat itu.
"Mamak mau mampir dulu ke rumah Bibi Kau di Kayu Agung. Anak betinonyo (perempuannya) mau nikahan besok," ujar Mamak memberi alasan.
"Hati-hati Mak, makasih atas perhatiannya sama kami," ucap Dara berkaca-kaca seraya menyalami dan mencium tangan Mamak. Sofiapun menyalami dan mencium Mamak.
Ojek online yang dipesan Azlanpun datang. Mamak segera menaiki ojek online itu, sebelum ojek itu berlalu Mamak melambaikan tangannya pada mereka bertiga.
"Hati-hati Mak....!" ujar mereka bertiga bersamaan sambil melambaikan tangan. Ojek yang membawa Mamak semakin menjauh.
...****************...
Satu Minggu kemudian, Azlan mulai memperlihatkan kesembuhan. Tangan kirinya mulai bisa digerakkan kembali dengan normal, namun Dokter bilang tidak dengan aktivitas mengangkat barang berat. Azlan mematuhi semua dengan tekad ingin benar-benar sembuh.
Azlan mulai masuk kerja, hari Senin ini dia kebagian masuk Shift malam, dan Dara masuk shift sore.
"Lho... Sofi, sudah cantik mau kemana nih?" Tanya Dara heran sambil melihat jam di dinding yang baru menunjukkan pukul 8 pagi.
"Sofi ada janji sama teman Sofi, Yuk," jawab Sofia.
"Teman yang mana, Sof?" tanya Dara dengan nada khawatir.
"Shela, yang kemarin sama-sama dari Prabumulih. Rencananya Sofi sama Shela mau main ke daerah Bogor, Yuk. Sekalian observasi ke Puskesmas di daerah sana, dengar-dengar Puskesmas itu terletak di daerah tertinggal."
__ADS_1
"Ohhh... memangnya boleh observasi ke daerah lain selain di Puskesmas daerah asal kalian berkuliah?"
"Ini bukan tugas kampus Yuk, tapi ini inisiatif kami. Kebetulan, kami dapat info di daerah Parung Bogor sana ada sebuah Puskesmas yang tertinggal," jelas Sofia, Dara hanya mengangguk-anggukan kepalanya sedikit paham.
"Kalau gitu Sofi pergi dulu ya Yuk. Kak Azlan, Sofi pergi ya. Teman Sofi sudah ada di depan tuh menunggu!" Sofia pamit sembari menyalami Azlan dan Dara.
"Assalamu'alaikum....!"
"Waalaikumsalam, hati-hati ya Sof!"
Setelah Sofia pergi, Azlan dan Dara kembali masuk ke dalam. Baru kali ini sejak Sofi dan Mamak datang, Azlan ada kesempatan bisa berdua dengan Dara tanpa gangguan.
Sejak itu pula antara keduanya belum berinteraksi banyak walaupun baik Azlan dan Dara sudah tidak perang dingin lagi. Tiba-tiba Azlan meraih tangan Dara, lalu membawanya ke dalam kamar setelah mengunci pintu kontrakan.
"Ayolah... Dek, mungpung lagi sepi tidak ada Sofia," ajak Azlan.
"Ayolah baring, biar badan Adek Abang pijitin," rayu Azlan.
"Tapi, Dara tidak sedang sakit badan, Abang?" tepisnya.
"Pijit yang lainlah sayang....!" rayu Azlan mendamba. Dara paham kode yang dikatakan Azlan.
"Abang minta maaf atas sikap Abang waktu di Rumah Sakit dan setelah dari Rumah Sakit, Abang saat itu hanya kesal dan kecewa, sekarang Abang sudah memaafkan Adek dan Abang tidak kecewa lagi," ungkapnya sungguh-sungguh.
"Emmm... Dara paham, saat itu Abang kecewa. Dara juga minta maaf ya. Dara menyesal sudah tidak menganggap Abang. Saat itu Dara hanya takut Abang lepas kontrol dan emosi," selorohnya penuh sesal.
"Iya, Abang sudah memaafkan kok. Ngomong-ngomong Adek kangen tidak?" Dara tidak menjawab, dia hanya menatap mata Azlan lalu mengangguk.
"Kalau begitu, Ayolah! Abang pengen melepas kangen yang sudah dua minggu ini tersimpan," rayunya lagi seraya dengan cepat meraih bibir Dara dengan lembut.
"Sayang....!" bisiknya penuh gairah.
__ADS_1
Dara hanya menjawab dengan lenguhan, sebab Azlan sudah mulai nakal menguasai dirinya.
Dara membiarkan dirinya dikuasai Azlan, dia juga begitu rindu dengan semua sentuhan Azlan yang kini terasa lebih menggoda dari sebelumnya. Dan... akhirnya semuanya terlucut, kecuali si keramat yang masih menutupi dinding terlarang.
Tiba-tiba Dara menahan tangan dan tubuh Azlan yang sepertinya sudah siap merangsek pertahanan Dara.
"Stopp....!" Azlan langsung tersentak.
"Kenapa?" Mata Azlan begitu sayu dan penuh gelora.
"Jangan lakukan ini, ini dilaknat Allah," cegah Dara.
"Maksud Adek?" Azlan benar-benar heran.
"Sebenarnya, Da- Dara lagi datbul!" ucapnya sengaja disendat.
"Datbul, apa datbul?" Azlan mengkerut tidak paham.
"Da-Dara, lagi datang bu-bulan!" Ucapnya membuat Azlan terbelalak.
"Apa....????"
"Serius, Dek?" Azlan mencoba meyakinkan.
"Iya....!" jawab Dara pelan sambil menunduk.
Azlan nampak prustasi, dia menjauh dari tubuh Dara yang tadi dihimpitnya. "Ahhhh....!" desisnya kecewa.
"Kenapa Adek tidak bilang dari awal?"
Dara bangkit lalu segera menggunakan bajunya yang tadi dilucuti Azlan.
"Sengaja... biar Abang tersiksa," jawab Dara seraya menjauh dari Azlan menuju ruang tengah.
"Sengaja...oh teganya kamu, Dek. Abang sudah di ujung, Adek malah memutus rezeki Abang. Nasib, nasib," gerutunya seraya menjambak-jambak rambutnya.
Dara nampak tertawa-tawa bahagia, tidak peduli dengan penderitaan yang Azlan derita sekarang.
" Tahu rasa!" umpatnya puas.
__ADS_1