Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Senyuman Maut Itu


__ADS_3

Jam 12 malam teng, Dara dikejutkan notif WA di HPnya. Dara segera meraih Hpnya lalu di bukanya aplikasi WA.


"Assalamu'alaikum, Dek lagi apa? Abang lagi istirahat nih di depan. Mau Abang belikan Wedang Ronde tidak? Kebetulan di depan ada yang jual?" Perhatian banget, pikir Dara.


"Nggak usah, lagipula Dara malas ke depan. Besok saja pas pulang Dara belikan rujak ya?" Balas Dara.


"Rujak? Adek, tidak sedang hamil kan?" Seru Azlan.


"Siapa yang hamil, ya nggaklah!" Ketusnya.


"Kalau begitu, kapan dong siap hamil?"


"Nanti nunggu lima tahun lagi."


"Kelamaan, Dek. Abang keburu tua."


"Kalau sekarang, Dara masih muda. Dan Dara belum siap hamil."


"Huhhh....!"


"Ya sudah, sampai ketemu besok ya. Jangan lupa belinya dua buat Sofi sekalian!"


"Ok, cantik...😘😘😘!" Azlan mengakhiri pesan WAnya dengan emot cium 3 kali.


"Ehemmm....!" Dara terkejut setelah mendengar seseorang yang dengan lancang sengaja mengejutkannya.


"Kak Riki....!"


"Sibuk dengan HP saat di ruang produksi. Apa itu tidak mengganggu kinerja?"


Dara melongo sesaat, tidak percaya dengan barusan didengarnya.


"Maaf Kak, hanya melihat pesan WA."


"Memang kerja disini bebas ya boleh buka HP saat produksi?" Tanya Riki lagi bikin Dara sedikit kesal.


"Tidak juga sih Kak, hanya pandai-pandai kita saja. Dan Dara juga lihat situasi dan kondisi. Mesin sedang berjalan dengan OK, apa salahnya melihat sebentar HP kita saat bunyi. Siapa tahu ada hal penting." Alasan Dara.


"Enak banget ya, seperti kerja di Mbahnya!"


Dara diam hatinya menggerutu, cowok didepannya ini tampan sih iya, namun kayaknya bawel banget dan sok tahu. Baru kenal saja sikapnya seakan dia seorang pemilik Pabrik.


Dara melengos saat terdengar alarm mesin berbunyi. "Part habis, lagi!" Dumelnya, seraya membuka kaca pelindung mesin dan membuka Feeder yang partnya habis. Beruntung part yang habis masih ada stok di rak. Tinggal bikin laporan, konfirm dan pasang.


"Kak, tanda tangannya!" Dara menyodorkan kertas reportnya yang harus ditanda tangani.


"Memang Teknisi boleh konfirm ya?" Tanyanya sambil melihat gulungan part dan Feedinglist menyamakan kode barang.

__ADS_1


"Boleh Kak, di ruang produksi yang bisa dimintai konfirm adalah, Teknisi, Leader, QC, Supervisor, atau Manager juga bisa Kak."


"Kalau sesama Operator?"


"Itu belum boleh Kak, tidak kompeten untuk mengkonfirmasi sebuah barang. Ditakutkan salah dan terjadi wrong value!" Jelas Dara, lama-lama cowok dihadapannya ini terasa menyebalkan. Sampai konfirm barang saj susahnya minta ampun.


"Ini.... !" sodornya setelah cowok itu menandatangani laporan Dara diakhiri senyuman. "Terimakasih, Kak!" Ucapnya seraya terbayang senyum cowok tadi. Sepertinya Dara merasa kenal dengan senyuman itu. Terlebih sorot matanya itu benar-benar mirip. Dara merasa dihantui kembali kenangan pahit kala itu di sini, di ruang produksi dan di meja kerjanya.


"Ya Tuhan, kok bisa!" Gumannya seraya mencoba menepis pikiran buruknya.


Jam pulang tiba, setelah semua laporan telah diserahkan kepada Leader, dan serah Terima mesin pada Operator shift C, Dara segera meninggalkan ruang produksi bersama Nela dan yang lainnya.



Di depan pintu Resepsionis, Dara dicegat Jabar yang kebetulan baru akan masuk, tangan Dara ditahannya.


"Nel... kamu duluan saja. Saya mau bicara penting dengan bini Abang yang kedua!" Ujar Jabar tidak kira-kira. Nela dan Dara seketika membelalakan matanya hampir keluar.


"Abang... apa-apaan sih. Didengar yang lain bahaya lho, bisa jadi gosip murahan." Cetus Dara tidak senang seraya memukul pelan lengan Jabar. Jabar hanya senyum-senyum cengengesan.


Nelapun berlalu setelah merasa diusir Jabar.


"Awas ya, kalian selingkuh... Gua laporin sama pasangan kalian masing-masing, baru tahu rasa." Ancam Nela lalu pergi menjauh dari Dara dan Jabar.


"Abang, kenapa tadi malam tidak masuk? Shiftnya dirubah ya?" Tanya Dara penasaran.


"Apa sih, bukan masalah kangen. Tapi Dara heran saja kenapa tiba-tiba ada Teknisi baru. Mana nyebelin lagi." Ucap Dara sedikit menggerutu.


"Tapi kan ganteng... melebihi Reno. Awas lho nanti terpikat. Jangan sampai mau diajak selingkuh sama dia. Lebih baik sama Abang yang mau dari dulu."


"Ihhh... apaan sih Abang, makin siang makin ngawur bicaranya. Udah ah Dara cabut saja, kelamaan disini bisa-bisa Dara ke.... !"


"Jatuh cinta sama Abang, hehehhe....!" Potong Jabar percaya diri tingkat tinggi. Dara manyun dengan guyonan menyebalkan Jabar.


"Senyum dong cantik, gitu saja marah. Makin gemes saja. Tadi Abang bertemu Abang kamu tuh di depan. Kayanya dia nunggu kamu. Sana pulang kalau emang tidak sayang Abang lagi." Usirnya penuh guyonan.


"Ya sudah, Dara pulang ya!" Pamit Dara.


"Nggak cium pipi Abang dulu?" Ucap Jabar sambil menyodorkan pipi mulusnya.


"Ini nih....!" respon Dara sambil mengepalkan tinjunya.


"Oh iya ada yang lupa!" Pekik Jabar seraya meraih lengan Dara.


"Apa yang lupa?" Dara mengkerut.


"Abang tadi kan belum bilang, kalau Abang masuk pagi cuma sementara, soalnya Teknisi baru diberi masa training pada jam kerja malam, tapi hanya minggu pertama saja." Jelas Jabar. Dara mengangguk-angguk paham.

__ADS_1


Saat Jabar mau masuk dan Dara akan keluar, Jabar berpapasan dengan Riki Teknisi baru. Mereka terlihat berbincang sejenak sebelum keduanya kembali pada tujuannya masing-masing.



Dara segera menghampiri Nela yang telah menunggunya diluar gerbang.


"Ayo Nel!"


"Gua dari tadi kok nunggu Elu. Pacaran melulu sih sama Bang Jabar. Awas kualat Lu Dar jika selingkuh dari Abang Lu!" peringat Nela kesal.


"Ihhh... apaan sih Nela, mana ada Gua selingkuh. Lagian, Elu kayak tidak paham saja sikap Bang Jabar ke Gua. Dia menganggap Gua adiknya. Jadi mana mungkin dong," tepis Dara.


"Tadi malam mesin Elu kok Teknisi baru ya yang pegang, bukannya Bang Jabar?" Nela heran.


"Bang Jabar bilang sih, masa training Teknisi baru diberi pada jam kerja malan, tapi hanya seminggu saja!" Jelas Dara. "Kok gitu ya, biasanya yang training itu siang," Nela merasa heran.


"Gua saja tidak paham. Oh ya Nel... ada yang sedikit mengganjal dipikiran Gua tentang Teknisi baru itu!" Bisik Dara.


"Ganjal bagaimana?"


"Emmmm....!"


"Dara... Abang Lu tuh, kayanya dia nungguin." Serobot Nela memotong pembicaraan Dara.


"Gua duluan saja deh Dar, lagipula Gua buru-buru. Habis ini Gua mau langsung ke Bekasi, Kakak Gua minta antar anaknya ke Dokter Gigi." Seloroh Nela buru-buru.


"Ya sudah, Elu duluan saja Nel. Hati-hati ya Nel." Ucap Dara yang diangguki Nela.


"Bang Azlan, Nela duluan ya....!" Pamit Nela pada Azlan sambil melambaikan tangan pada Dara.


"Oh... Ok Nel, hati-hati...." Balas Azlan.


"Adek... ayo!" Ajak Azlan seraya menarik tangan Dara lembut.


"Mana rujak Dara....?"


"Ini di kantong sayang....!" Ucap Azlan mengangkat kantong keresek berisi dua bungkus rujak.


"Ya sudah yuk pulang, kasihan Sofia sudah menunggu kita." Ujar Dara.


"Srepepeet...cekitttttt.....!" Tiba-tiba Azlan dan Dara dikejutkan oleh decitan motor yang seakan rem mendadak tepat dihadapan mereka. Dara memegang Dadanya yang berdebar kencang.


"Shittt....!" Hardik Azlan menatap kesal ke arah pengendara motor itu.


"Kak Riki....!" Pekik Dara sebelum Riki menjauh. Riki sejenak menatap Dara dan Azlan, lalu kembali menghidupkan motornya dan berlalu dengan kencang.


"Siapalah orang itu, masa iya di lingkungan Pabrik main kebut-kebutan. Tidak ada tempat lain apa?" Gerutu Azlan masih kesal. Dara menatap heran akan gelagat Teknisi baru di mesinnya itu.

__ADS_1


__ADS_2