
Dara tiba di rumah kontrakan bersama Sofia, saat itu waktu menunjukan pukul 12 siang.
"Yuk, aku mandi dulu ya. Gerah nih...." Sofia langsung menyerobot ke kamar mandi.
Dara sejenak meraih HPnya melihat WA, siapa tahu ada pesan WA yang masuk dari Nela. Betapa Dara rindu dengan Nela yang selalu memberi saran dan masukan yang kebanyakan selalu benar. Rindu juga dengan candaan garing Nela yang kadang usil kalau lagi menggoda Dara.
"Nel... Gua rindu banget sama Elu. Gua nyesel tidak dengar saran Elu." Batin Dara penuh sesal.
Jebar jebur jebar jebur, akhirnya Sofia beres juga mandinya. Kini giliran Dara, tanpa waktu lama diapun mengakhiri ritual mandinya sekitar 15 menit.
"Yuk, mau masak apaan sih? Buat kirim ke Mamak di RS ya?" Tanya Sofi.
"Iya, Sof."
"Sini, Sofi bantu. Itu di tas Mamak bawa banyak Pempek sama Kemplang. Mamak bawa Tempoyak juga, wihhh sedapnya," ujar Sofi seakan tak sabar ingin menikmati Tempoyak bawaan Mamak.
"Kenapa sih Sof kaya yang ngidam banget pengen makan Tempoyak, bukannya Mamak sering buat di sana?"
"Iya Yuk, Mamak sering buat tapi itu untuk pesanan orang saja, kalau untuk dimakan di rumah jaranglah. Itu makanya Sofi seperti pengen cepat-cepat merasakan Tempoyak buatan Mamak," terang Sofi bersemangat.
"Ohh... pantesan," seru Dara.
"Ya udah deh kita percepat saja masaknya." Sofia memberi semangat.
"Ayo... siapa takut," tantang Dara. Dan akhirnya mereka berdua berkutat dengan semua jenis-jenis bahan yang akan dimasak dengan kompak diselingi tawa dan canda.
Masak selesai, waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. Dara menyiapkan makanan yang akan dibawa ke RS untuk makan Mamak. Satu rantang empat tahap makanan telah Dara persiapkan, rencananya habis sholat Ashar Dara akan berangkat ke RS.
"Sofi... kamu mau ikut Dara atau tidak ke RS?" tanya Dara.
"Kayanya Sofi tidak ikut deh Yuk. Gak apa-apa kan? Soalnya teman Sofi sebentar lagi mau nelpon." Sofia beralasan.
__ADS_1
"Benar nih tidak ikut? Kamu tidak takut ditinggal sendirian di sini? Atau jangan-jangan yang mau nelpon itu cowoknya kamu?" ucap Dara diakhiri menggoda Sofia.
"Kenapa musti takut, orang siang bolong begini. Lagian Ayuk ini curigaan, teman Sofi itu cewek bukan cowok!" sergah Sofia. Dara hanya tersenyum membalas pembelaan Sofi.
"Ya sudah deh Sof, kalau kamu tidak mau ikut. Dara siap-siap dulu," ucap Dara seraya menuju kamar mandi dan berwudhu.
Setelah semuanya siap, Dara bergegas meninggalkan kontrakan. Sebelumnya berpesan pada Sofia supaya tidak pergi kemana-mana. Sofia mengangguk.
Dara mencegat angkot yang akan menuju ke RS Harapan Semua. Lima belas menit kemudian angkot yang Dara tumpangi sampai di depan gerbang RS Harapan Semua. Dara turun dan tidak lupa membayar ongkos angkot. "Terimakasih, Pak!" ucap Dara sebelum menjauh dari angkot. Supir angkot mengangguk ramah.
Dara berjalan melewati koridor Rumah Sakit yang sedikit sepi, karena waktu mulai sore para tenaga medis sebagian telah pulang ke rumahnya masing-masing, sebagiannya lagi masih tetap di RS menjalankan tugasnya sesuai shiftnya.
Dara bergegas menuju ruang rawat Azlan, di sana Dara tidak mendapati Mamak. Mungkin saja Mamak ke Mesjid RS untuk melaksanakan sholat Ashar. Pikir Dara. Ada ragu dalam diri Dara untuk melangkah lebih dekat dengan Azlan. Dilihatnya Azlan tengah mencoba mengangkat dan menurunkan tangan kirinya. Rupanya Azlan melakukan gerakan terapi yang pernah di arahkan Dokter.
"Dengan siapa Adek kesini?" Pertanyaan Azlan mendahului niat Dara yang ingin menyapa duluan. Dara nampak kikuk, dia tidak menyangka cowok yang telah menjadi suaminya itu menyapa duluan walau dengan nada yang datar.
"Sendiri. Tadi sudah mengajak Sofia, tapi Sofia tidak mau," sahut Dara menatap sayu ke arah Azlan.
"Kenapa Adek repot-repot kesini, kan ada Mamak. Lagipula makanan disini sudah banyak. Orang dari pihak pelaku pengeroyokan sudah mengirim banyak makanan," tandas Azlan tanpa menyebut nama pelaku yang sebenarnya, Dara sadar Azlan muak menyebutkan nama Reno disini.
"Dara tidak ingat, jadi Dara bawa makanan buat Mamak. Lagipula disini Dara juga bawa puding kesukaan Abang yang dibawa Mamak dari kampung," ujar Dara.
__ADS_1
"Besok-besok Adek tidak usah repot-repot begini. Dan pulang kerja tidak usah jenguk Abang lagi. Lagipula lusa Abang sudah boleh pulang," ucap Azlan memberi tahu. Ada rasa lega dan kecewa dengan ucapan Azlan barusan. Kecewa, karena Azlan yang mengatakan bahwa besok Dara tidak usah menjenguknya. Itu artinya cowok manis di depannya ini masih menyimpan marah padanya.
"Abang masih marah dengan Dara?" tanya Dara bersamaan dengan remasan jemari Dara ke jemari kanan Azlan. Rindu yang menggebu kini memupus rasa malu, sehingga Dara tanpa ragu meremas jemari kekasih hatinya ini.
"Dara rindu dengan sikap Abang yang dulu. Tapi kenapa Abang masih marah dengan Dara? Apakah Dara tidak pantas dimaafkan?" Dara bertanya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Kenapa Adek bisa dengan lantang menceritakan kejadian pelecehan itu didepan orang-orang dan Polisi itu, sementara pada Abang tidak?" Azlan melemparkan pertanyaan yang sama sekali tidak Dara sangka-sangka. Rupanya Azlan sedang mengungkit hal itu dimana dirinya mampu berbicara lantang menceritakan pelecehan yang dilakukan Reno tempo hari tapi pada Azlan tidak. Ini jelas membuat Dara tersudut dan kembali merasa bersalah.
"Dara minta maaf, yang kemarin itu hanya karena Dara memberi keterangan pada pihak kepolisian, Dara sebetulnya tidak ingin mengingat lagi kejadian pelecehan itu. Dara mohon maaf sama Abang. Itu terakhir kali Dara tidak akan tertutup sama Abang mengenai hal apapun. Dara janji, Dara akan menjadikan Abang suami dan teman curhat Dara dalam hal apapun," ucap Dara sungguh-sungguh dengan tatapan mata memohon.
Azlan mengalihkan tatapannya pada arah lain, dia seakan tidak peduli dengan ucapan Dara.
"Dara rindu sama Abang." Tiba-tiba Dara merangkul Azlan erat menumpahkan semua kerinduan yang selama ini membuncah. Lalu perlahan Dara mengurai pelukan itu lalu dia memegang kedua bahu Azlan dengan kedua tangannya, ditatapnya Azlan dalam.
Tatapan Dara sayu dan berkaca-kaca lalu sebuah kalimat terucap sebagai ungkapan isi hatinya yang paling dalam.
"Selama ini Dara selalu jutek dan kadang mendiamkan Abang, dan baru kali ini Dara merasakan dicuekin Abang, alangkah sakitnya. Dan... saat Abang mendiamkan Dara begini, Dara sadar betapa Dara sangat merindukan Abang. Kembalilah dan peluk Dara!" ungkapnya dalam, lalu butiran bening itu mulai turun susul menyusul. Tanpa Azlan sadari secepat kilat Dara mendaratkan ciumannya di bibir Azlan. Begitu lama sampai Dara menahan tengkuk Azlan.
Dara melepaskan ciuman rindu itu setelah merasa ruang oksigen diantara keduanya mulai berkurang. "Dara rindu semua perlakuan Abang!" ungkapnya tulus sambil mencium telapak tangan Azlan.
Tanpa mereka sadari di belakang mereka, Mamak tengah memperhatikan dua sejoli yang sebenarnya saling rindu.
"Amboi... mata ini ternodai dua kali oleh kelakuan anak mantu yang dilanda rindu," bisik Mamak seraya geleng-geleng kepala, namun lubuk hatinya begitu bahagia melihat kasmarannya kedua sejoli itu.
__ADS_1