
Dara tiba di depan RS Harapan Semua, jarak kontrakan dengan RS tersebut cukup menyita waktu 15 menit saja dengan menggunakan motor. Dara tadi menggunakan layanan ojeg online yang dia pesan via online, untuk menuju RS.
Dara langsung menuju IGD dan di depan ruang tunggu dia mendapati kekasihnya Nela. Dara keheranan.
"Bang Iksan...!" serunya semakin mendekat.
"Cowok yang disebut Iksan itu menoleh dan tersenyum.
" Emmm..., dengan Nela?" tanyanya ragu. Iksan mengangguk. Tak berapa lama Nela datang sambil menenteng keresek.
"Nel..., Elu disini?" Nela tidak menjawab.
Tiba-tiba perawat yang berada di dalam IGD memanggil.
"Siapa keluarganya pasien Tuan Azlan?"
"Saya Sus....!" Dara langsung mendongak dan menghampiri Suster.
"Ini siapanya?"
"Saya istrinya."
"Begini Mbak, suami Mbak akan dipindahkan ke ruang rawat. Kami sudah memberikan penanganan pertama, tidak ada yang parah namun tulang di bagian siku kiri ada yang bergeser, sudah kami betulkan ke posisi semula. Karena efek sakit akibat pergeseran tulang, Tuan Azlan terpaksa kami bius total," terang Suster, Dara manggut-manggut kemudian dia mengikuti Suster membawa Azlan menggunakan brangkar menuju ruang rawat inap.
Tiba di ruang rawat, Suster meletakkan Azlan dengan hati-hati di bed pasien yang bisa dinaik turunkan. Setelah Suster mengatur bed dan memasang infus, Suster keluar ruang rawat dan berkata pada Dara.
"Mbak, tunggu satu jam kedepan pasien akan sadar!"
"Oh... terimakasih Sus," ucap Dara lesu.
Dara segera menuju ke dalam dan melihat keadaan Azlan. Dara begitu sedih dan kecewa kenapa semua ini terjadi dan siapa yang sudah mengeroyoknya? Setahu Dara, Azlan tidak pernah terlibat permusuhan dan tawuran. Dara berpikir keras.
"Dara... Gua mau bicara, kita di luar saja, ada yang mau Gua omongin," ajak Nela seakan penting. Dara mengikuti Nela dan duduk di ruang tunggu ruang rawat inap.
"Makasih ya Nel, Elu sudah kasih tahu Gua tentang kabar Bang Azlan," ucap Dara menunduk sedih.
"Itu tidak penting Dar, yang penting disini Gua mau menjelaskan kenapa Bang Azlan bisa sampai di RS ini." Nela menjeda sejenak bicaranya.
__ADS_1
Dara menatap Nela serius dan siap mendengar apa yang Nela bicarakan.
"Elu jangan menyela sampai Gua berhenti ngomong!" putusnya. Dara sedikit terhenyak mendengar nada bicara Nela yang meninggi.
"Tadi saat Gua dijemput Abang Gua keluar kontrakan jam 7 lewat 15 malam, secara tidak sengaja Gua melihat Abang Lu di lapangan Cibarusah sedang dikeroyok oleh beberapa orang yang Gua tidak kenal. Abang Lu dipukuli dan ditinju berulang-ulang oleh orang-orang itu. Gua sama Abang Gua saat itu mau makan ke Cafe Sinta dan kebetulan lewat sana. Kami berinisiatif memanggil orang-orang yang berada disitu supaya pengeroyokan itu berhenti, Gua berteriak dan minta tolong sekencang-kencangnya supaya mereka berhenti. Dan berhasil, namun ada yang sangat mencengangkan dari penglihatan Gua, disitu ada Reno. Gua melihat jelas Reno ikut terlibat. Dia mungkin tidak sadar yang mergoki dia adalah Gua. Setelah mereka ketahuan mereka langsung kabur dan meninggalkan Bang Azlan." Beber Nela panjang dan jelas.
Dara terhenyak tidak percaya mendengar cerita Nela barusan.
"Bang Reno mengeroyok Bang Azlan?" ucap Dara kaget namun seperti sebuah pertanyaan.
"Gua ada buktinya kok kalau Elu tidak percaya. Dan lagi Gua sudah lapor Polisi, tadi Gua sempat ditanya Polisi sebagai saksi. Sekarang tinggal nunggu gimana proses selanjutnya dan akan didalami Polisi." Ucap Nela lagi datar.
"Terimakasih ya Nel....!" ucap Dara sambil meneteskan air mata.
"Sekarang Elu begitu sedih, kemarin dan sampai sekarang Elu masih tidak menceritakan kelakuan bejat si Reno. Dan apa hasilnya? Abang Elu malah dianiaya duluan sama orang yang selalu menunggu cinta Elu. Elu takut mereka bertikai jika Elu katakan kelakuan si Reno, tapi sekarang siapa yang jadi korban? Abang Elu sendiri kan? Coba kalau Elu kasih tahu Abang Elu, minimal Abang Elu ada persiapan, waspada dan berhati-hati misalnya. Ini mah sama saja Elu mau bikin laki Lu mati, Dar!" ungkap Nela menyudutkan Dara.
Dara terdiam mendengar penjelasan Dara, dia merasa Nela menyudutkannya. "Nela... dengar Gua dulu Nel, Gua merasa bersalah, tapi Gua tidak menyangka akan begini jadinya," sahut Dara seraya menarik nafas dalam menahan tangis.
"Sudah simpan cerita Elu, Gua mau balik. Besok kerja pagi dan Gua takut ngantuk. Jagain laki Lu. Setelah sadar sampaikan salam Gua pada dia. Besok Elu sebaiknya tidak usah dulu masuk kerja, nanti Gua minta surat ijin sama Kak Vita!" Nela pergi menjauh membawa rasa kesal kepada Dara.
Dara berdiri dan berjalan menuju ruang rawat Azlan. Dia duduk disamping Azlan seraya menyentuh jemari Azlan.
"Abang, Dara minta maaf jika semua ini karena ulah Dara," bisiknya diiringi tangis.
Tak berapa lama, satu jam lebih dari perkiraan Suster akhirnya Azlan mulai siuman dan menggerak-gerakkan jemarinya. Dara langsung merasakan gerakan itu.
"Abang....!" pekik Dara diiringi air mata.
Azlan meringis merasakan sakit di tangannya mungkin efek anastesinya sudah habis. Dara segera memencet tombol pemanggil Suster, lalu beberapa menit kemudian terdengar derap langkah menuju ruangan Azlan. Dua orang Suster menghampiri.
"Pasien sudah siuman ya?" Suster menyapa dengan ramah. Dara mengangguk seraya berdiri memberi ruang untuk Suster memeriksa Azlan.
"Pak Azlan mengalami rasa sakit di sikunya akibat pergeseran letak tulang sendi. Dikasih obat pereda nyeri saja." Ucap Suster seraya memberikan dua butir obat yang harus diminum.
__ADS_1
"Baik Sus, Terimakasih banyak," ucap Dara.
"Abang... mari Dara bantu untuk minum obat," ucap Dara ragu sambil membantu Azlan bangkit. Azlan belum berkata-kata sejak kedatangan Dara, dia sungguh kecewa dengan Dara. Inginnya dia menghindar untuk dibantu Dara, namun karena tidak ada siapa-siapa lagi akhirnya Azlan menerima bantuan istri yang sesungguhnya sangat dia cintai.
Sambil meringis menahan sakit di sikunya Azlan berusaha meraih gelas yang Dara dekatkan di bibir Azlan. Walaupun dipasang penyangga tangan, namun sakitnya luar biasa.
"Abang... Dara minta maaf, Nela bilang semua ini karena Dara, dan yang telah mengeroyok Abang adalah Bang Reno." Azlan membuang mukanya kearah lain, merasa kesal dengan Dara yang masih menyebut Reno dengan sebutan "Abang". Dara mulai menitikkan air mata. Namun dia ingin penjelasan dari Azlan.
Azlan sebenarnya ingin merengkuh Dara, menciumnya dan memeluknya, tidak tega rasanya melihat wanita kesayangannya menitikkan air mata, namun dia merasa kecewa dengan sikap Dara yang tidak pernah mau terbuka dengan masalah apapun, terlebih ini menyangkut harga diri.
"Kenapa Adek datang kesini?" tanya Azlan lemah, setelah sekian saat sejak sadar dia baru bersuara.
Dara nampak kikuk diberi pertanyaan seperti itu. Disini sekarang dia merasa kaku menghadapi Azlan. Benarkah yang dikatakan Nela bahwa Azlan begini karena dirinya? Dirinya yang tidak mau bercerita mendapat pelecehan dari Reno tempo hari.
Semuanya jadi semrawut, hanya karena dirinya tidak menceritakan perlakuan Reno karena ketakutannya. Takut terjadi pertikaian antara Azlan dan Reno, namun kenyataan di depan mata malah Azlan menjadi korban.
"Abang, tolong ceritakan kejadian yang sebenarnya pada Dara. Dara mohon, jangan dulu hukum Dara seperti ini sebelum Dara mendapat penjelasan dari Abang. Tolong... Abang jelaskan! Jika memang Bang Reno terlibat dalam pengeroyokan ini, maka Dara tidak akan memaafkannya." Ucap Dara memohon dengan nada menggebu-gebu. Dara menatap Azlan penuh harap.
"Buat apa, bukankah sudah tidak ada gunanya lagi untuk Abang menjelaskan semua?"
Dara menatap dalam ke arah mata Azlan, disitu jelas ada rasa kecewa yang terlihat, Dara memahaminya.
"Tolong Abang jangan menghindari Dara, bukankah Dara istri Abang? Dan Dara sungguh-sungguh khawatir dengan Abang."
"Khawatir, kenapa harus khawatir?"
"Karena Dara mencintai Abang, Dara sangat mencintai Abang. Jadi tolong maafkan Dara. Kasih penjelasan untuk Dara!" Dara masih memohon disertai isak tangis.
Dara meremas jemari kanan Azlan, dia tidak mau Azlan berubah. Dunia rasanya sirna jika Azlan bersikap dingin seperti itu.
__ADS_1
"Abang... tolong!" mata Dara menatap Azlan meminta Azlan untuk memberikan penjelasan.
Lalu Dara menurunkan tubuhnya, dia memeluk Azlan sembari menangis. Tangis penuh sesal.