Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Fitnah yang akan Terbongkar


__ADS_3

"Sebentar Kak Dela, Kak Vita dan semua yang ada disini, betul apa yang dikatakan Bang Jabar bahwa kapasitas operator yang menjalankan mesin 10 tidak perlu diragukan lagi, Teknisi-teknisi mesin 10 tahu betul dan tidak mungkin salah satu operator mesin 10 sengaja melakukan kesalahan atau teledor melakukan kesalahan, sehingga terjadi dan ditemukan PCB terbakar saat outgoing. Ini bisa saja terjadi, apabila ada yang sengaja membuat fitnah!" tegas Dara membuat semua yang ada di Store menatap Dara penuh tanya, termasuk Meta yang sontak tatapannya berubah galak.


"Maksud kamu, kamu difitnah? Begitu?" Tanya Kak Vita.


"Iya Kak difitnah, Dara difitnah!" tegas Dara lagi lantang.


"Siapa yang mau fitnah kamu Dara....?" tanya Kak Dela tidak percaya.


"Begini saja deh Kak, logikanya. Setiap tim katakan disini Shift A, B dan C, saat pulang dan serah terima laporan pastinya akan diserahkan ke shift berikutnya, begitupun PCB outgoing dari shift Dara, pastinya akan diterima shift C dengan QCnya Kak Meri. Tapi, PCB yang outgoing di QC tentunya sudah dicek sejeli mungkin sama Kak Dian sebagai QC shift B sebelum serah terima ke QC shift C, yaitu Kak Meri. Harusnya kalau memang PCB itu terbakar, pastinya akan ketahuan sama Kak Dian dulu dong sebelum sama Kak Meri. Tapi disini yang mengetahui, kenapa bisa Kak Meta dan langsung laporan ke Kak Dela. Ada yang ganjil tidak disini?" terang Dara membuat Meta nampak terhenyak.


"Iya juga ya....!" seru Jabar dan Kak Vita bersamaan sambil terlihat berpikir.


"Apa sih Dara, kamu mau fitnah aku? Memang benar prosedur serah terima PCB outgoing memang begitu. Setiap shift sebelumnya, serah terima ke shift berikutnya. Jadi mungkin ada ketidak jelian QC shift B dan C, aku sengaja mengecek ulang setiap PCB outgoing dan kebetulan PCB outgoing yang kamu serahkan ke shift C aku cek ulang, dan aku menemukan PCB terbakar itu di magazine paling bawah!" urai Meta lantang.


"Harusnya Kak Vita tadi ajak Kak Dian sebagai QC shift Dara, dan Kak Meri juga sebagai QC shift C lho untuk meeting ini, biar sama-sama bisa menjelaskan, apa memang Kak Dian saat serah terima ke Kak Meri sebagai QC shift C kurang jeli saat ngecek? Dara rasa Kak Dian tidak teledor, sebab semua PCB yang ada capnya Dara tidak ada PCB terbakar. Dara yakin itu, Dara tidak buta dan masih sehat, Dara tidak ngantuk lho saat ngecek barang," jelas Dara lagi tak kalah lantang.


Meta makin tertekan, wajahnya makin menegang.


"Aduhh... aku jadi pusing nih, disini meeting ini untuk mencari titik terang dan mencari siapa pelakunya, sengaja atau tidak harusnya mengaku biar masalah ini tidak sampai terdengar Supervisor. Kalau mengaku, alangkah baiknya. Bukan kita mau menghukum, tapi untuk pelajaran siapa tahu diantara kita memang belum paham akan PCB rijek atau Ok. Lagipula ini bukan PCB urgent, tapi alasan kenapa sampai dimeetingkan? Untuk pelajaran saja supaya mencegah kesalahan yang sama jangan sampai terulang!" Kak Dela berkata sambil memijit kepalanya yang tiba-tiba pusing.


"Begini deh Del, aku rasa saran Dara ada benarnya. Kita sekalian panggil Dian sebagai QC shift B dihadirkan di sini, sebab dia tahu betul PCB yang outgoing sebelum serah terima ke shift C, pasti dia sudah cek benar atau tidak. Kalau Meri aku rasa belum perlu dihadirkan disini. Coba deh Reno, minta tolong panggil Dian sebentar!" perintah Kak Vita pada Reno yang saat itu sedang bengong. Reno nampak terkejut, lantas berjingkat pergi dan bermaksud memanggil Kak Dian sebagai QC shift B.


Tidak berapa lama, Kak Dian dan Reno tiba. Tidak menunggu waktu lama, Kak Vita langsung mengintrogasi Dian.

__ADS_1


"Dian, aku mau tanya dan jawab yang jujur. Saat kamu ngecek PCB outgoing dari mesin 10 model Kenwood, apakah kamu menemukan PCB yang terbakar, terutama hasil Cheker dari capnya Dara?" tanya Kak Vita sedikit di tekan.


"Aku tidak menemukan Kak, semua PCB outgoing dalam keadaan OK, makanya aku lepas dan cap Ok!" jelas Kak Dian yakin.


"Yakin kamu Dian....?" tekan Meta menatap Kak Dian penuh intimidasi.


"Yakinlah Met, mata aku tidak picek apalagi katarak!" balas Kak Dian telak. Dara nampak tersenyum senang akan jawaban Kak Dian. Sebaliknya Meta nampak menahan rasa marah.


"Meta, jadi gimana mengenai penemuan kamu ini. Apa kamu yakin itu ditemukan dari Magazine mesin 10 hasil produksi shift B? Kalau yakin, kenapa bisa Dara dan Dian menyangkal mentah-mentah?" Kak Dela balik mengintrogasi Meta yang saat ini nampak tegang.


"Bisa saja kamu itu salah dan tidak di cek satu persatu, Dian?" sentak Meta menuding Dian.


"Aku tidak begitu Meta, memangnya kerja aku itu molor di depan Magazine, terus aku loss begitu saja PCB? jangan nuding sembarangan dong. Aku juga jadi QC tidak bodoh. Sebelum aku jadi QC aku jadi operator dulu, jadi tidak mungkin aku main loss PCB begitu saja!" bela Dian tidak terima.


"Masalah pribadi? Kalau memang ada, kenapa harus mencampur adukkan dengan pekerjaan, ini tidak benar namanya?" Kak Dela merasa heran dan geram.


"Jangan mengalihkan fokus deh Bang, dengan mengkambing hitamkan orang yang punya masalah pribadi dengan Dara, disini memangnya siapa yang punya masalah pribadi dengan Dara?" serang Meta seakan berusaha mengalihkan pembicaraan Jabar.


"Aku tidak mengkambing hitamkan siapa-siapa, aku hanya berusaha untuk membuat orang yang melakukan kesalahan ini mengaku saat ini juga, kelar!" ucap Jabar tegas.


"Kalau si Dara masih belum mengaku, laporkan saja masalah ini ke Supervisor Kak Dela!" saran Meta ketus.


"Silahkan saja laporkan, Dara tidak takut karena Dara memang tidak pernah merasa ngecek PCB yang terbakar. Apalagi sengaja memasukkan kembali PCB yang sudah keluar dari oven, terus dimasukkan kembali supaya terbakar," tantang Dara semakin berani.

__ADS_1


"Ya ampun... kenapa jadi bertengkar disini, kita meeting lho mencari solusi dari masalah yang ada, tapi kenapa kalian malah saling ngotot mempertahankan pendapat kalian masing-masing," Kak Santi Leader shift C yang tadi diam saja kini ikut menyumbangkan suara, mencoba melerai.


"Reno... Jangan-jangan Elu yang melakukan ini, Elu punya masalah pribadi kan sama Dara?" Reno yang dituding tiba-tiba sama Jabar spontan terkejut, dia tersadar dari lamunannya.


"Elu juga, kenapa musti Gua yang dituding, Gua mending adu otot dari pada fitnah memfitnah. Ngomong itu pakai otak Bar, jangan pakai mulut tapi otak tidak dipakai!" hardik Reno kesal.


"Alah ngeles Lu....!"


"Apa sih Bro, ngeles apaan? Gua jujur tahu, meskipun Gua punya masalah pribadi sama Dara, tapi Gua tidak sejahat itu mencelakai Dara. Bukannya ngeles, yang ada Gua ngelas mulut Elu yang sembarangan ngomong!" Maki Reno dongkol banget karena mukanya memerah.


"Ya sudahlah Bro, jangan ngegas dong kalau memang Elu tidak merasa, sorry Gua tarik lagi omongan Gua!" ucap Jabar sambil tersenyum menggoda.


"Dasar gila Lu!" umpat Reno.


"Jadi ini gimana keputusannya?" tanya Kak Vita.


"Aku juga punya sedikit pendapat dan pemikiran tentang Dara, bukan maksud membela. Tapi setahu aku selama Dara menjalankan mesin 10, aku belum pernah menemukan masalah yang berarti dari Dara pribadi. Jadi disini aku sedikit heran, masa iya Dara melakukan kesalahan dengan sengaja. Motifnya apa?" ucap Kak Vita memberi pendapatnya sebelum teman-teman Teknisi dan Leader mengambil keputusan.


"Jadi ini gimana dong, Dara tidak mengaku, sedangkan PCB ini ada bukti yang memberatkan Dara jadi pelaku!" Kak Vita nampak bingung.


"Kenapa mesti bingung sih Kak, laporkan saja sama Supervisor, setelah di sana kalau masih nyangkal naikkan lagi laporan ke Manajer. Tamat riwayat dia!" ucap Meta lantang.


"Silahkan, ayo Dara tantang. Dara tidak takut untuk naik laporan ke Manajer. Memangnya Kak Meta ada bukti kuat bahwa Dara yang salah?" Meta diam, tapi akhirnya dia tersenyum nampak bahagia.

__ADS_1


__ADS_2