Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sikap Dingin Azlan


__ADS_3

Sikap Azlan yang berubah dingin, membuat Dara merasa canggung dan rasa bersalahnya makin besar. Namun Dara bertekad akan kuat menghadapi sikap Azlan, sebab dia merasa Azlan masuk RS juga ada hubungannya dengan dirinya. Yakni, kekecewaan Reno ditampik Dara, akhirnya Azlan kena imbasnya.



"Abang, maafkan Dara! Dara bukan bermaksud tidak ingin bercerita tentang masalah Dara, tapi Dara takut Abang melakukan tindakan kekerasan pada orang lain, Dara takut kehilangan Abang!" Ucapnya lirih mengulang ungkapan hatinya yang tadi. "Kenapa harus minta maaf lagi, apa karena Abang suami kamu? Bukankah kemarin- kemarin Adek bahkan tidak mau bercerita sedikitpun masalah Adek, padahal Abang suami Adek." Sahutnya datar.



Malam makin larut, setelah Suster memeriksa keadaan Azlan, Dara mulai sedikit ngantuk. Kebetulan ada bed pasien yang kosong di sebelah kiri bed Azlan, Dara mencoba membaringkan tubuhnya dengan membelakangi Azlan. Rasa kantukpun mulai menyerang dan lamat-lamat Dara tertidur. Azlan menatap punggung orang yang sangat dicintainya itu dengan sedih. "Maafkan Abang, Dek! Bukan maksud Abang tega sama


Adek, tapi Abang terlanjur kecewa dengan sikap Adek yang tidak pernah mau bercerita masalah Adek sedikitpun." Lirihnya sedih.


Subuh menjelang, Dara terbangun karena suara Adzan. Perlahan dia bangkit, sejenak dia duduk di atas bed pasien. Tatapannya memendar menyapu seluruh ruangan rawat inap itu. Saat tatapannya menuju ke arah Azlan, rupanya cowok itu sudah bangun dengan mata sayu menatap langit-langit ruangan itu. Dara anteng menatap mata itu tanpa disadari Azlan, perasaan menyesal tiba-tiba begitu menyeruak dalam dada.



Perlahan Dara menghampiri Azlan dengan perasaan ragu, baru pertama kali ini dia merasa ragu di hadapan cowok yang telah menjadi suaminya itu, biasanya dia yang selalu jutek dan terkesan cuek, tapi kini perasaan sedih begitu terasa saat dicuekkan Azlan.



"Abang....!" Panggilnya pelan, Azlan seketika menoleh namun tanpa senyum. Dara meraih tangan kanan Azlan dan dengan perasaan canggung meremas jemari lelaki yang kini mulai dicintainya. Azlan hanya diam, namun Dara berusaha menepis kekakuan.



Tiba-tiba seorang Suster masuk sembari mendorong troli yang membawa beberapa air hangat di baskom untuk pasien. "Mbak, ini air hangatnya untuk cuci muka dan waslap. Jika pasien ingin gosok gigi, airnya bisa ambil dari keran langsung," aba-abanya sambil berlalu dan mendorong kembali trolinya.


"Terimakasih" Ucap Dara sambil mengangguk paham.


Dara mencoba membantu Azlan untuk bangkit, dengan gesit dia menggunakan air hangat di baskom untuk mewaslap Azlan, walaupun Azlan berusaha menepisnya namun Dara tidak peduli. Dara hanya mewaslap wajah, perut dan punggung Azlan. Karena Azlan mau sholat, Azlan meminta untuk ke kamar mandi ingin buang air dan berwudhu. Dara mengantarnya seraya memegangi labu infus.


__ADS_1


Pagi menjelang, Dara sudah nampak segar walaupun tidak mandi. Hari ini dia tidak akan masuk kerja, sebab Nela berjanji akan memintakan ijin tidak masuk Dara pada Kak Vita.



"Pulanglah... Adek masuk kerja, bukan?" Azlan tiba-tiba bersuara seolah mengusir tapi dengan nada halus. Dara menggeleng. Hatinya kini dilanda sedih melihat Azlan semakin dingin. "Kenapa Abang masih bersikap dingin begitu dengan Dara? Dara hari ini tidak masuk kerja, Dara sudah dimintakan ijin oleh Nela pada Kak Vita." Ujar Dara.



"Kenapa harus minta ijin tidak masuk?, Abang tidak apa-apa tidak ada yang nungguin." Ucap Azlan bertanya. "Dara hanya ingin menjaga Abang," jawabnya lirih. Bersamaan dengan itu rasa sesak di dada dan air mata yang sudah di pelupuk mata, seolah berlomba ingin menyeruak duluan.



Dara mencoba menyembunyikan bulir bening yang kini mulai mengerubuti pipinya dengan berlari keluar menuju kamar mandi. Rasa sedihnya kini makin tidak tertahan. Dia tumpahkan di kamar mandi pasien. Sikap Azlan benar-benar membuatnya sedih.



Jam di dinding menunjukan pukul 8 pagi, saat itu nampak Suster dan seorang Dokter tengah memeriksa Azlan. Dara menghampiri dan berdiri di belakang Suster. Setelah selesai memeriksa, Dokter berbicara pada Dara.




"Adek belum pulang?" Tiba-tiba Azlan mengejutkan Dara yang sedang asik dengan pikirannya. "Emmm... Dara sudah diijinkan tidak masuk kerja hari ini," sahut Dara.


"Pergilah ke kantin, sarapanlah dulu!" Perintah Azlan. Dara menggeleng dia tidak mau karena memang Dara tidak lapar terlebih dia tidak selera makan.


"Ijinkan Dara disini, seenggaknya sampai siang. Siang nanti Dara akan pulang dulu, membawa baju ganti Abang," ucapnya penuh permohonan. Azlan kembali diam.



Dara masih merasakan hawa dingin dari sikap Azlan, untuk menepis kekakuan itu terpaksa Dara mohon pamit ke kantin untuk membeli teh hangat. Azlan menatap sekilas kepergian bidadarinya dengan hati yang melas. Ada rasa sakit di ulu hatinya saat sikap dinginnya berusaha dia tunjukkan pada Dara.

__ADS_1



Setelah kurang lebih setengah jam Dara menghabiskan waktu di kantin, Dara beranjak kembali lagi ke ruangan rawat Azlan. Sebelum tubuhnya benar-benar masuk ke dalam ruang rawat Azlan, namun pemandangan yang mengejutkan sekaligus membahagiakan berada di depan mata, sesaat Dara menatap tidak percaya.



Rian dan Rivai yang entah sejak kapan sudah berada di sini, belum menyadari ada Dara. Lalu tanpa bisa ditahan lagi Dara tiba-tiba menghambur memeluk seseorang yang selama ini dia rindukan.



"Mamak....!" Pekiknya seraya merangkul wanita paruh baya itu yang tidak pernah Dara duga bisa berada disini. Dara memeluk begitu erat seraya menangis. Sekalian menumpahkan rasa sedihnya karena didiamkan Azlan. Lagipula Mamak tidak akan menyangka Dara menangis karena didiamkan Azlan.



"Ayo, kita diluar. Disini tidak enak dilihat Perawat!" Ajak Mamak seraya menuntun Dara. Dara belum menyapa sama sekali Sofia yang sejak tadi berada di samping Mamak.



Sebelum keluar dari ruangan rawat Azlan, Dara sempat menyapa Rian dan Rivai dulu.


"Kak Rian, Kak Vai titip Bang Azlan dulu...." Rivai dan Rian tersenyum mengangguk.


"Sofi... !" jeritnya kini giliran untuk Sofia. Dara memeluk erat tubuh Sofia. "Dara kangen banget," ucapnya diiringi isak. Di sela-sela rangkulannya, Dara berpikir kok bisa Mamak dan Sofia bisa tiba-tiba ada disini, apakah Azlan menghubungi mereka dan menyuruh mereka kesini?


"Gimana Neng, sehat....? Makin cantik saja mantu Mamak ini." Puji Mamak sambil memeluk Dara. "Alhamdulillah sehat Mak," jawab Dara lesu.


Perlahan Dara mengurai pelukan Sang Mama mertua. "Mamak dan Sofi, emmm sengaja kesini atau Bang Azlan yang telpon?" tanya Dara ragu. "Mamak sengaja antar Sofi, Yuk. Sofi kan ada libur semester sebulan. Jadi, untuk mengisi liburan semester Sofi datang saja kesini. Sofi juga ada teman yang liburan ke Jakarta ke rumah orang tuanya. Jadi dari sana Sofi bareng sama teman." Sambar Sofie menjelaskan.



"Oh ya, jadi mau kemana saja nih liburan disini? Disini mah cuma pabrik-pabrik elektronik, yang ada cuma dapat polusi."

__ADS_1


"Sofi mau diajak jalan-jalan juga Yuk sama teman Sofi yang di Jakarta.


__ADS_2