
"Apa yang mau Eneng bicarakan sama kami, ayo cerita! Apakah ini ada hubungannya dengan Nak Azlan?" tanya Pak Malik mengawali obrolan.
"Ehh... tapi sebelumya Bapak sama Ibu masih bingung dengan sebab musabab tadi Wisnu marah sama Nak Azlan, bagaimanapun Bapak sama Ibu harus tahu hal yang sebenarnya. Nak Azlan juga tamu kami, kami disini merasa bersalah atas sikap Wisnu tadi," ujar Pak Malik menyesalkan sikap Wisnu tadi.
Dara menatap Azlan sejenak dan memberi kode, Dara mengangguk seakan menyetujui sesuatu.
"Sebelumnya, saya secara pribadi mau minta maaf pada Bapak sekeluarga, bahwasanya kedatangan saya ini malah terjadi keributan di sini. Itu hal diluar dugaan saya. Sekali lagi saya minta maaf," ucap Azlan, sungguh-sungguh.
"Sebetulnya, saya datang kesini bersama Neng Dara selain bersilaturahmi dengan Bapak dan Ibu sekeluarga, sekalian ada niat baik ingin melamar Neng Dara," terang Azlan sambil menunduk.
Beberapa saat Pak Malik dan Bu Endah saling tatap dan nampak terkejut.
"Melamar anak kami?" Pak Malik terperanjat.
"Bukan apa-apa, kami kaget karena tidak menyangka begitu cepat Neng Dara ada yang melamar, dan Neng Dara bilang ke Wisnu mau nikah saat tadi ditanya di kamar," lanjut Pak Malik tenang.
"Kami tidak percaya, si Eneng yang baru beberapa bulan di Cikarang tahu-tahunya bawa calon suami!" ucap Pak Malik.
"Kalian masih baru kenal, kenapa bisa Nak Azlan memutuskan untuk melamar Neng Dara secepat ini?" Bu Endah menimpali.
"Kami sudah menikah siri Bu di sana," Dara menjawab pertanyaan Bu Endah sambil menunduk, menyembunyikan rasa takut.
"Nikah siri...serius kalian?" Bu Endah menganga tak percaya.
"Kenapa, kok bisa? jelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sampai Aamu tadi marah?" Bu Endah heran. Dara terdiam beberapa saat sebelum memutuskan berbicara. Lidahnya terasa kelu dan bibirnya tiba-tiba terkatup.
"Bicaralah....!" Bu Endah menatap teduh mata Dara. Perlahan Dara mengangkat wajahnya, memberanikan diri untuk memulai berbicara.
__ADS_1
"Dara mau cerita yang sejujurnya pada Ibu dan Bapak, tapi Dara mohon jangan ada kemarahan lagi seperti tadi yang A Wisnu lakukan. Dara mohon!" ucap Dara penuh permohonan.
Pak Malik dan Bu Endah saling tatap, ada rasa penasaran disana.
"Bicaralah Neng, Insya Allah Ibu dan Bapak akan mengerti!"
Dara sejenak menghela nafasnya dalam sebelum berbicara panjang lebar. Azlan menatap Dara memberi isyarat bahwa dia saja yang bicara, namun Dara menggelengkan kepalanya. Biar kali ini kesempatan Dara yang menjelaskan sejelas-jelasnya pada Ibu dan Bapaknya tentang semua yang terjadi.
Dara mulai berbicara perlahan-lahan disertai matanya yang berkaca-kaca. Dari awal hubungan bersama Azlan, Dara ceritakan tanpa terlewat satupun dan tanpa kebohongan sedikitpun. Semua dibeberin, tentang alasan Azlan dan sampai Dara setuju pernikahan siri itu ingin disahkan secara agama dan negara, atas pertimbangan-pertimbangan yang sudah dipikirkan matang. Dara mengakhiri ceritanya disertai isakan tangis.
Pak Malik dan Bu Endah nampak terhenyak dengan apa yang baru saja didengar. Mereka menghela nafas panjang seakan menahan amarah, namun seperti permohonan Dara tadi, kedua orang paruh baya itu segera mengelus dada, menyimpan amarahnya dan mencoba bijaksana meresponnya.
"Sebenarnya Ibu dan Bapak marah mendengar penjelasan Eneng barusan, marah sama Nak Azlan. Pantas saja tadi Aamu begitu marah sama Nak Azlan sehingga emosi, siapapun tidak ingin adik kesayangannya dihinakan orang lain, sementara dia selama ini yang menjaga Eneng dari semua yang mengganggu," Bu Endah menjeda sejenak bicaranya.
"Ibu tidak melarang Eneng dekat dengan siapa atau nikah dengan siapa, hanya saja kenapa Nak Azlan untuk mendapatkan anak kami sampai dengan cara hina seperti itu, walau pada kenyataannya Nak Azlan tidak melakukan pelecehan itu dalam arti sebenarnya. Andai saja Ibu dan Bapak dulu tidak mengijinkan Eneng pergi ke Cikarang untuk bekerja, mungkin kejadian penjebakkan itu tak akan terjadi. Benar kata A Wisnu, kenapa kami tidak teguh melarang Eneng pergi ke Cikarang. Ibu jadi menyesal dan merasa bersalah pada kedua orang tuamu Neng!" Bu Endah menyudahi bicaranya, kini air matanya menetes bercucuran penuh rasa sesal dan bersalah.
Azlan dan Dara tiba-tiba tanpa kompromi menghampiri Bu Endah dan bersimpuh di kaki Bu Endah, menangis dan minta maaf.
"Sudahlah... semua sudah terjadi. Nak Azlan sudah menyesali perbuatannya, dan akan berjanji menyayangi anak kami dengan tulus ikhlas serta tidak akan menyia-nyiakannya. Kami pegang janjinya. Jika memang keputusan Neng Dara seperti itu dan mau melanjutkan pernikahannya bersama dengan Nak Azlan, kami hanya tinggal mendukung dan mendoakan yang terbaik saja," ucap Bu Endah sambil mengelus keduanya penuh kasih.
Azlan dan Dara berdiri dan kembali duduk di kursi.
"Jadi sekarang apa mau Eneng, maksud Ibu mau kalian?" tanya Bu Endah lembut.
"Kami....!" ucap Azlan dan Dara bersamaan.
Azlan memberi kode pada Dara supaya dia yang kini bicara, Dara setuju.
__ADS_1
"Kami ingin pernikahan kami ini sah secara agama dan negara. Supaya jelas ketentuan hukumnya," ungkap Azlan.
"Sebetulnya tanpa menikah ulang, pernikahan kalian sudah sah di mata agama. Sebab Neng Dara sudah hilang nasabnya!" jelas Bu Endah sambil menatap sendu ke arah Dara.
"Sejak kecil Neng Dara sudah yatim piatu, saudara Ayah Neng Dara cuma Ibu satu-satunya. Kakek ataupun Kakek buyutnya sudah tidak ada. Dan dari keturunan kakeknya tidak ada saudara laki-laki lagi. Jadi Neng Dara tidak ada wali nasab lagi," jelas Bu Endah sambil berkaca-kaca mengenang kembali masa lalu.
"Sejak kecil Neng Dara sudah ditinggal Ayah dan Ibunya, tepat 14 tahun yang lalu. Kedua orang tuanya menjadi korban kecelakaan maut. Sejak saat itu Neng Dara tinggal bersama kami dan tumbuh besar bersama Kakaknya Wisnu. Wisnu sangat sayang sama Neng Dara. Selalu melindungi Neng Dara. Jadi sangat wajar tadi Wisnu emosi saat mendengar Neng Dara diperlakukan seperti itu oleh Nak Azlan," Bu Endah mengakhiri ceritanya disertai helaan nafas panjang.
"Neng Dara yatim piatu, tapi tidak sebatang kara. Masih ada kami keluarganya. Apakah Nak Azlan masih mau menerima Neng Dara dengan keadaan seperti yang Ibu ceritakan di atas? Serta mau membahagiakan dan tidak akan menyia-nyiakannya selama pernikahan?" tanya Bu Endah mencoba menanyakan kesungguhan Azlan.
"Insya Allah Bu, Pak, saya berjanji akan membahagiakan Neng Dara apapun keadaannya!" janji Azlan sungguh-sungguh.
"Jadi bagaimana sekarang keinginan Eneng?" tanya Pak Malik menimpali setelah tadi memberikan kesempatan pada Bu Endah, selaku Uwa kandungnya Dara.
"Seperti yang Dara bilang diawal, Dara ingin pernikahan ini sah di mata agama dan negara, supaya Dara pulang ke Cikarang sudah mengantongi surat nikah," ujar Dara.
"Kalau memang sudah Eneng pikirkan dan Eneng putuskan secara bulat, Bapak dan Ibu hanya bisa mendukungnya. Mengenai pernikahan secara resmi, syaratnya hanya KTP dan keterangan numpang nikah bagi mempelai laki-laki,"
"Tapi, KUA sudah tutup Neng. Harus nunggu jam kerja," ujar Pak Malik.
Azlan dan Dara saling tatap satu sama lain.
"Tapi walaupun KUA tutup, masih bisa kita temui Pak Penghulu langsung untuk dinikahkannya diluar jam kerja, namun jika diluar jam kerja ada biayanya, Nak Azlan siap dengan biayanya?" Pak Malik menatap Azlan.
"Insya Allah siap Pak!" ucap Azlan sambil mengangguk.
"Tapi harus menunggu 4 hari lagi, sebab Pak Penghulunya sudah mudik ke Garut, beliau kebetulan tetangga kampung kita. Bapak tahu kabar beliau sebab Bapak tergabung dalam grup sesepuh kampung," terang Pak Malik.
__ADS_1
"Selagi menunggu Pak Penghulu datang, kalian persiapkan persyaratan lain seperti mahar atau yang lainnya. Biarlah surat pengantar ke RT dan RW Bapak yang urus. Kebetulan disini RWnya adalah Bapak, tinggal ke RTnya saja," pungkas Pak Malik membuat Azlan sedikit lega.
"Kalau begitu, saya ucapkan terimakasih Pak atas bantuan Bapak. Untuk mahar dan lainnya akan saya persiapkan segera," ucap Azlan lega.