Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Pertanyaan Todongan dari Dara


__ADS_3

Setelah hujan reda, Wisnu kembali melanjutkan perjalanan menuju daerah Cikarang.


"Pras, Gua pamit ya!" pamit Wisnu seraya melambaikan tangannya ke arah Pras. Pras membalas lambaian Wisnu, kemudian menutup kembali gerbang setelah Jeep Wisnu meninggalkan gerbang.


Sepanjang jalan, Sofia maupun Wisnu saling diam. Tidak ada sedikitpun yang memulai bicara. Hanya suara musik di DVD Jeep yang masih berputar menyembunyikan kebekuan dan kecanggungan diantara mereka.



Lamat-lamat Sofia merasakan ngantuk dan akhirnya dia tertidur bersandarkan pintu Jeep di sisi kirinya dengan wajah yang sengaja ditutup kerudung segi empat.



Jalanan yang masih basah karena hujan tadi, masih menyisakan genangan yang tinggi. Got yang hampir penuh tidak bisa menampung debit air hujan, sehingga lubang drainase bukannya bisa menampung air ke dalam got, namun air hujannya keluar lagi.



Jeep yang dijalankan Wisnu jalan tersendat-sendat. Menurut pengendara jalan yang berlawanan arah, 500 meter di depan terjadi pohon tumbang. Sehingga sistem buka tutup saat ini sedang berlaku, karena evakuasi pohon yang membutuhkan waktu. Wisnu menarik nafas dalam, mencoba menahan sabar menunggu giliran lajurnya diperbolehkan berjalan.



Wisnu menoleh ke samping kirinya, dia merasa tidak ada pergerakan dari Sofia sejak tadi. Saat dilihat, rupanya Sofia tertidur dengan deru nafas yang tidak teratur sebab posisi lehernya yang menekuk. "Sofia... kenapa tidak bilang-bilang mau tidur, kalau begini terus setengah jam leher kamu bisa patah," gerutunya seraya menurunkan posisi jok yang diduduki Sofia agar lebih rendah, dengan hati-hati.



Gadis disebelahnya memang cantik juga, apalagi dia sekarang sudah berkerudung. Dan Wisnu menyukai itu. Wisnu tidak bermaksud mempermainkan Sofia. Dengan menyatakan ingin melamarnya, ini semata karena Pak Akbar Komandan di kesatuannya, ingin menjodohkan dirinya dengan anak bungsunya yaitu Jeni. Wisnu berpikir daripada dia harus menerima Jeni karena terpaksa, lebih baik menolaknya dengan alasan akan segera menikah. Untungnya Pak Akbar mau mengerti dan tidak mempermasalahkan penolakan Wisnu. Namun sekarang Wisnu menjadi bingung, perempuan mana yang akan bersanding dengannya, sementara dia tidak memiliki kekasih.



Tiba-tiba muncul satu nama dalam kepala Wisnu, gadis yang pernah memperlihatkan rasa suka padanya sejak pertama kali bertemu saat acara resepsi pernikahan Dara dan Azlan di Lembang, 4 tahun yang lalu. Dia nampak agresif dan caper, namun Wisnu tidak peduli. Tapi kini, Wisnu merasa Sofialah yang masih lebih baik diajak nikah untuk memberikan alasan nyata, kenapa dia menolak anaknya Pak Akbar tempo hari.



"Sofia mungkin lebih baik daripada Jeni. Dan Wisnu berharap Sofia bisa menghapus perlahan-lahan nama Dara sebagai perempuan yang selalu dihatinya, meskipun rasa cinta kemungkinan belum muncul sepenuhnya untuk Sofia, seiring waktu rasa cinta itu akan ada. Dan Wisnu percaya akan hal itu.



"*Maafkan aku, aku bukan bermaksud* *mempermainkanmu. Namun jika kamu mampu* *menghadirkan cinta untukku, maka aku akan* *mencintaimu seperti kamu mencintai aku*," bisik hati Wisnu.


__ADS_1


15 menit kemudian, lajur kiri diperbolehkan berjalan. Sementara lajur kanan untuk kendaraan yang berlawanan arah, distop dulu menunggu giliran lajur kiri sampai habis antriannya. Begitu dan begitu sistem buka tutup jalan yang kini terhambat karena evakuasi pohon tumbang.



Akhirnya setelah melewati perjalanan yang penuh hambatan, Jeep yang ditumpangi Wisnu tiba di rumah Dara. Untung Sofia sudah terbangun sejak masih di Cililitan, jadi Wisnu tidak perlu susah-susah membangunkan Sofia.



Seperti biasanya, setelah Wisnu turun dari Jeep, dia memutari Jeep dan membukakan pintu buat Sofia. Sekilas nampak romantis, namun bukan itu alasan Wisnu. Sofia keberatan saat mengangkat pintu Jeep. Sebab sebelum dibuka, pintu Jeep itu harus diangkat sambil didorong.



Sofia dan Wisnu masuk beriringan ke dalam rumah sambil mengucap salam yang dijawab oleh Dara dan Bu Endah bersamaan.


"Assalamu'alaikum....!"


"Wa'alaikumussalam....!" Bu Endah dan Dara kompak sembari melemparkan senyum yang sumringah.


"Bu, ini ada oleh-oleh Martabak. Dan ini Baso Pak Kumis buat Yuk Dara," ujar Sofia sembari menyodorkan dua buah kresek ke hadapan Bu Endah dan Dara. Mereka senang dibawakan oleh-oleh bawa Sofia. Sebenarnya Wisnu yang beli.




"Kalian lebih baik cepat nikah deh, kalian dari segi wajah juga cocok. Dara tidak rela kalau A Wisnu dimiliki perempuan lain, kecuali Sofia," ucap Dara seperti sebuah ultimatum.


"De... kamu itu apa-apaan sih!" gertak Wisnu bete.


"Alah... Aa ini pake malu-malu kucing segala, Aa itu sudah tua mau nahan-nahan jodoh melulu, nanti keburu bujang lapuk. Emangnya Aa mau ngikutin Aa Lee Min Ho, jadi bujang sampai lapuk?" ledek Dara sembari mencebikkan bibirnya.



"Husss... Neng... tidak boleh mendoakan si Aa jelek begitu. Lebih baik doakan tahun ini Aamu nikah. Iya, kan, A?" Timpal Bu Endah diiringi senyum.



"Kalian sama saja, Uwa dan ponakan bisanya bikin Wisnu tersudut. Lihat saja, bulan depan Wisnu benar-benar menikahi seseorang, dan kalian para ladies jangan kaget!" tunjuk Wisnu ke arah Bu Endah dan Dara dengan muka ditekuk tapi semakin ganteng.


__ADS_1


"Benar A...!!?? Wahhh... kalau benar, Dara akan senang banget tuh. Tapi... kalau cuma omong doang, itu artinya Aa pembohong dan memang benar-benar akan menjadi calon bujang lapuk," oceh Dara diakhiri raut wajah yang berubah sedih yang semakin membuat Wisnu gerah berada lama-lama disini. Wisnu tahu Ibunya dan Dara mendukung Wisnu ada hubungan sama Sofia.



"Kalian, bikin Wisnu gerah berada lama-lama disini. Wisnu pamit," ucap Wisnu menghentak langkahnya dengan kesal dengan candaan dan godaan adik dan Ibunya itu.


"Assalamu'alaikum....!" salamnya menuju pintu dan keluar. Bu Endah dan Dara memberi kode supaya Sofia mengantar Wisnu sampai depan, Sofia patuh dan mengikuti Wisnu.


"A, hati-hati ya....!" Wisnu membalikkan badan dan sejenak menatap Sofia. Wisnu tahu, Sofiapun gerah dengan godaan dan candaan Dara dan Ibunya itu, nampak dari sikap Sofia yang diam tanpa menimpali.



"Saya pamit ya....!"


"A....!" Langkah Wisnu terhenti dan kembali membalikkan badan lalu menatap Sofia seperti tadi.


"Kenapa?"


"Emmm... apakah Sofia boleh menceritakan niat Aa yang ingin melamar Sofia ke Mamak dan Bapak di kampung?" tanya Sofia ragu-ragu. Wisnu tidak segera menjawab.


"Ceritakan saja, toh saya serius kok," ucapnya menatap tajam Sofia, seketika Sofia menunduk.


"Saya balik dulu ya."


"A....!" tahan Sofia lagi seakan masih ada yang ingin dia sampaikan.


"Apa lagi?"


"Tidak, A... Sofia....!"


"Jangan khawatir... saya akan datang dan tidak akan mengingkari apa yang sudah saya ucapkan!" potongnya tegas seraya berbalik dan segera menuju Jeepnya. Jeeppun melaju membelah jalanan komplek perumahan dan keluar portal lalu membelah jalanan kota Cikarang, tanpa menoleh lagi ke arah Sofia. Sofia menghembuskan nafasnya kasar.


"*Masih kaku dan datar saja sikap Aa*, *bagaimana Sofia akan percaya bahwa Aa serius* *pada Sofi*?" bisiknya dalam hati sedih.


Sementara Bu Endah dan Dara yang menyaksikan sikap dingin Wisnu saling melempar pandang dan merasa iba pada Sofia.


"Nanti juga A Wisnu pasti akan mencintai Sofia kok, Bu. Jangan sedih begitu. Terbiasa bersama pasti akan menimbulkan cinta," ujar Dara mencoba membesarkan hati Bu Endah supaya tidak sedih melihat Sofia yang sedih dengan sikap Wisnu.


__ADS_1


"*Kamu belum tahu saja Neng, bahwa yang* *dicintai Aamu adalah kamu sendiri. Mungkin* *Aamu kini berusaha membuka hati, walau belum* *100 persen bisa melupakanmu*," guman Bu Endah dalam hati, nelangsa.


__ADS_2