Dijebak Nikah Paksa

Dijebak Nikah Paksa
Sakit Hati Kedua Kali


__ADS_3

Di tempat kerja Dara


"Dar ... ini kertas reportnya, sekalian yang Ira kasih ya," seru Kak Vita seraya memberikan dua lembar kertas report.


"Siap Kak," sahut Dara.


Saat Dara sedang sibuk menulis report, Reno menghampiri dan duduk di hadapan Dara. Walau sedikit terkejut, tapi Dara berusaha bersikap tenang.


"Eh, Abang." Reno tidak menyahut dia hanya asik menatap dan memperhatikan Dara. Dara merasa risih dan berniat pergi dari mejanya. Namun secepatnya Reno menahannya.


"Kemana sih, mesin lagi berjalan dengan Ok. Kamu tidak perlu jalan-jalan," cegahnya.


"Duduklah, ada yang mau Abang omongin." Dara terpaksa duduk mengikuti arahan Reno.


"Jangan menghindar terus dong cantik," bujuknya merayu.


"Memang ada apa?" tanya Dara heran.


"Kamu tahu, Abang mencintai kamu walaupun kamu sekarang sudah menikah resmi dengan Teknisi sebelah, tapi rasa cinta Abang sama kamu tidak pernah berkurang kadarnya, istilahnya walau kamu bekas orang lain Abang tetap mau," Reno menjeda sejenak omongannya. Sementara Dara masih mencerna kemana arah pembicaraan Reno, yang hari ini terlihat lebih tampan dari biasanya.



Dara semakin risih dibuatnya, karena pembicaraan Reno bukan membahas masalah kerjaan. Ingin menyela, namun Reno keburu bicara.



"Abang tahu pernikahan kamu sama Teknisi sebelah itu cuma pernikahan paksa, kan? Jadi Abang jamin, suatu saat kalau kamu sudah merasa tidak nyaman pasti selingkuh dan mencari yang lain. Daripada repot-repot mencari yang lain, Abang siap menjadi penggantinya, tidak perlu menunggu nanti, sekarang saja Abang siap," jelas Reno.



Dara terbelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan, kata-kata Reno seakan sebuah pelecehan untuknya. Dara merasa harga dirinya sangat rendah di mata Reno. Dara menghela nafasnya dalam, dia berusaha menyimpan marah di dadanya. Ingin rasanya menampar wajah tampan tapi tidak berakhlak di hadapannya ini sekeras mungkin. Wajah tampan Reno kini seakan wajah iblis yang menyerupai manusia saja. Dara muak dibuatnya.



"Serendah itu Abang menilai Dara, Abang pikir Dara wanita murahan mau saja diajak laki-laki mana saja. Ngomong itu dipikir sedikit pakai otak jangan asal mangap, kalau Abang mau mencari yang begituan jangan merayu Dara. Dara bukan wanita murahan yang Abang maksud." Geramnya menahan marah. Nafasnya turun naik menahan sesak di dada, genangan air mata kini berkumpul di sudut mata siap berjatuhan.



Reno menatap Dara yang marah dengan sudut mata, bibirnya mencebik menganggap remeh.


"Alah... tidak usah sok sedih begitu Dara, kalau kita suka sama suka kenapa tidak dijalani saja, lagipula tidak akan ada orang lain tahu. Kamu dapat kesenangan dari Abang, dan Abang dapat kesenangan dari kamu. Lagipula tipe cowok yang kamu suka pastinya seperti Abang, tampan dan kulit bersih serta wangi, jadi Abang yakin suatu saat kamu akan mudah berpaling dari si Azlan. Sebab dia bukan tipe kamu banget, kan?" ucapnya datar dan meremehkan. Dara semakin marah dibuatnya, tanpa sadar tangannya secepat kilat melayang ke arah muka Reno.

__ADS_1


"Plak....!" tamparan itu tidak keras bahkan hanya menyentuh sedikit kulit wajah Reno, sebab Reno sudah membaca pergerakan tangan Dara. Dara benar-benar sangat dilecehkan oleh ucapan Reno, benar-benar tidak tahu diri.



"Tampan tapi tidak berakhlak buat apa, Dara tidak menyangka ucapan Abang adalah sebuah pelecehan buat Dara. Mulai detik ini Dara sudah tidak mau kenal Abang," tekannya sembari berlari ke arah toilet.



Dara berlari kecil sambil menahan air mata yang mulai menetes, nafasnya begitu cepat dan tidak beraturan, dadanya semakin sesak sebab tangis yang ditahan. Sampai di toilet, Dara langsung membuka pintu toilet dan langsung masuk lalu menguncinya. Di sana dia menumpahkan segala kekesalannya atas ucapan Reno yang sangat melecehkannya dan merendahkan harga dirinya.



Sakit rasanya sampai dadanya sesak, tidak disangka Reno akan berbicara semenyakitkan itu. Menangis, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang. Lima belas menit sudah Dara di dalam sana. Saat Dara mulai tenang, Dara ke luar dari toilet dan berdiri sejenak menatap cermin yang berjejer di sana.



"Dara...! Kok Elu disini, tadi dicari Ira lho. Memangnya kamu tidak bilang ke Ira kalau kamu ke toilet?" tanya Nela heran.


"Kok Elu sembab, Elu nangis Dar?" Nela menatap wajah Dara heran.


"Nel.... Gua sakit hati Nel.... " isaknya bergetar seraya merangkul Nela. Kini tangisnya pecah kembali.


Dara belum bisa berkata-kata, dia nampak shock nafasnya masih tidak beraturan.


Tidak lama dari itu tiba-tiba Kak Vita masuk ke dalam toilet, di sana dia melihat Dara tengah menangis merangkul Nela.


"Dara... kamu sakit?" Kak Vita terkejut menghampiri dan meraba kening Dara. Memang kening Dara terasa panas, bisa jadi efek dari menangis dan emosi Dara yang meledak.


"Kening kamu panas Dar... sebaiknya bawa ke ruang kesehatan. Ayo Nel, papah Dara. Bawa dia kesana," titah Kak Vita khawatir.


"Ayo baringkan!" titahnya. Nela membaringkan tubuh Dara yang kini terasa lemah. Nela dan Kak Vita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Dara, tadi Kak Vita dan Nela masih melihat Dara baik-baik saja. "Nela, coba di kotak obat ada kayu putih tidak?"


Nela mencari dan beruntung kayu putih yang dimaksud ada.


"Ini Kak, kayu putihnya."


Kak Vita mengoles-oleskan kayu putih ke hidung dan ke kening Dara kemudian diurut-urut. Dara sudah tidak menangis, namun isaknya masih tersisa.


"Gimana Dar, apa yang Elu rasakan? Apa sebaiknya Elu pulang saja biar Elu dijemput Abang Elu?"


"Badan kamu lemas Dar, kamu sakit. Benar kata Nela, sebaiknya kamu pulang saja," ujar Kak Vita setuju. Dara menggeleng.

__ADS_1


"Tapi Elu lemas Dar, Jangan-jangan Elu hamil ya?" Nela mendadak sumringah. Tapi Dara menggeleng.


"Benar kata Nela, Jangan-jangan kamu hamil Dar,"


"Tidak Kak, Dara bukan hamil," ucapnya lemas.


"Ya sudah kalau begitu kamu untuk beberapa saat istirahat dulu biar Nela temanin. Kakak ke ruang produksi dulu takutnya operator lain mencari Kakak, kalau sampai waktu setengah jam kamu masih belum baikan, kamu pulang saja ya Dar, nanti Kakak buatkan surat ijin sakitnya." Dara mengangguk dan berkata, "terimakasih banyak ya Kak." Ucapnya.



Seperginya Kak Vita, Dara perlahan bangkit dan meraih tangan Nela.


"Dara, Elu tidak benar-benar sakit, kan?" yakin Nela. Dara menggeleng. "Lantas?"


"Gua sakit disini," tunjuknya ke arah dimana letak hati.


"Iya, siapa yang nyakitin Elu?" Nela mencoba mengerti perasaan Dara.


"Bang Reno," jawabnya lemah.


Nela mengkerut heran.


"Dia kenapa lagi?".


Akhirnya Dara walau masih dengan perasaan sakit hati dan fisiknya lemas karena shock atas ucapan Reno tadi. Perlahan, dia menceritakan kepada Nela apa yang diucapkan Reno tadi sehingga Dara lemas seperti ini. Tidak ada satupun yang terlewat. Nela benar-benar geram mendengarnya, tangannya mengepal menyimpan kemarahan atas sikap Reno terhadap sohibnya. Nela hanya mampu menenangkan Dara dengan mengusap-usap rambut Dara.



"Kurang ajar si Reno, benar-benar pelecehan ini. Sebaiknya Elu bilang sama Abang Elu biar dia tahu rasa, biar dia digampar sama Abang Elu," Nela nampak berapi-api. Dara menggeleng tidak setuju dengan saran Nela.



"Jadi gimana, Elu mau pulang saja atau melanjutkan kerja dan ketemu si menyebalkan Reno?"


"Gua tetap melanjutkan kerja Nel, kalau Gua pulang, nanti disangkanya Gua lemah banget sama Bang Reno," ucap Dara pelan.


"Ya sudah kalau begitu, Elu harus semangat dan kuat. Ayo dong tunjukkan semangat Elu, mulai sekarang cuekkan si Reno muka tembok." Ucap Nela memberikan semangat pada Dara.


Dara dan Nela beranjak kembali ke mesin, setelah tubuh Dara sudah merasa kuat lagi.


Mohon dukungannya ya, kasih like, komen, vote dan masukkan Favorit jangan lupa! Trmksh....

__ADS_1


__ADS_2