
POV Dara
Jam 11 malam tiba, waktunya pulang untuk shift B. Kini giliran shift C yang masuk dari jam 11 malam sampai jam 7 pagi. Setelah bertegur sapa dengan Delia dan serah terima mesin, aku beranjak meninggalkan ruangan berbunyi bising itu bersama Nela, Ira dan lain-lain. Setelah menggesek punch card, semua berhamburan keluar pabrik untuk melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing.
Baru beberapa langkah di muka pabrik, tiba-tiba aku melihat sosok Kak Meta QC shift A berada di sekitar sini. Dia duduk di kursi warung tenda depan pabrik, warung tenda yang mangkal khusus di malam hari.
Aku dan Nela melihat ke arah Kak Meta dan Kak Meta pun melihat ke arah kami. Aku kurang begitu akrab dengan Kak Meta, cuman tegur sapa biasa saja.
"Kak Meta, kok di sini. Ngapain Kak?" tegur Nela duluan.
"Aku lagi nunggu teman," sahutnya singkat. Tebakanku benar, pasti lagi nunggu seseorang.
Setelah kami bertegur sapa dengan Kak Meta, bergegas kami melanjutkan perjalanan pulang, sepanjang jalan Nela keheranan dengan keberadaan Kak Meta dekat pabrik.
"Kok gua heran, ya, dengan Kak Meta."
"Heran kenapa, sih?" tanyaku.
"Heran aja, tumben dia malam-malam gini dekat pabrik, bukannya molor buat persiapan kerja besok," celotehnya.
"Janjian kali sama seseorang," tanggapku cuek.
"Bukan janjian, tapi nungguin suami elu kali!" tebak Nela membuat aku sedikit terkejut, tapi aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku.
"Apa alasannya nemuan Bang Azlan?" tanyaku pura-pura bego.
"Isssss ... dah elu ini. Bego dipiara, kan pernah gua bilang si Meta QC shift A itu naksir sama bojo elu, mana tahu kali ini dia sengaja nyamperin suami eku untuk mengambil hati suami elu!" Papar Nela gemes.
"Ah terserahlah gua gak peduli Kak Meta nungguin siapa, bukan urusan gua," timpalku sok tidak peduli.
"Btw, tadi elu manggil QC itu Kak Meta, sekarang si Meta, kenapa?" Aku heran keningku pun mengkerut.
"Alahhhh ... gak usah komplenlah, mau Kak Meta, si Meta sama aja orangnya. Lagian dia gak di sini gak dengar juga kok, umurnya juga gak jauh amat sama kita, lebih tua dia dua tahun dari kita," tandas Nela sambil cekikikan, akupun ikut cekikikan mengingat Kak Meta gak bakalan dengar juga walau disebut si Meta.
"Iya juga ya." Kami cekikikan berjamaah.
"Hati-hati lho Dar, si Meta bisa jadi bakal saingan elu, apalagi dia belum tahu Bang Azlan sudah nikah " maksa" sama elu. Dia sudah mulai nyosor, tapi jangan-jangan dari sebelum-sebelumnya dia udah nyosor-nyosor. Soalnya jauh hari sebelum elu nikah "paksa" sama Bang Azlan, dia selalu cerita tentang cowok Teknisi pabrik sebelah gitu." Nela memberi peringatan panjang lebar, dan sebalnya lagi kata "maksa dan paksa" pake ditekan segala ngomongnya, bikin aku tengsin saja.
__ADS_1
"Yang benar, lu?" tanyaku penasaran juga akhirnya.
"Iyalah. Makanya elu hati-hati sama si Meta, sekarang elu bilang gak cinta sama si Teknisi Hitam Legam itu, eits hitam manis maksud gua, wakwakwak ... giliran diembat si Meta atau yang lain, elu ngebatin." Lagi-lagi Nela memperingatkan diselingi candaan garing.
Perkataan Nela barusan sedikitnya membuat aku tergugu. Aku mulai terpengaruh. Ada rasa sesak dalam dada yang entah kenapa sebabnya.
"Gua ada ide buat elu. Gimana kalau nanti pas jam istirahat elu telpon laki elu vidio call, ya pura-puranya elu nanyain yang jual Somay kek, tiba-tiba elu mau kek atau apalah alasannya. Nah entar elu perhatiin disekitar vidio laki elu, ada si Meta atau gak, soalnya tadi gua lihat dia bawa jinjingan, mungkin saja jinjingan itu bekal buat laki lu," beber Nela tiba-tiba memberi ide yang tidak aku pikirkan sebelumnya.
"Ogah ah, gengsi gua harus nelpon Bang Azlan," tolakku.
"Duhhh, elu ini gimana sih. Alasannya elu gak cinta, kan sama laki elu makanya gengsi, dan kesal karena udah ngejebak elu dalam pernikahan paksa?" Nela geleng-geleng kepala.
"Gini aja deh, Gua ada ide yang lebih bagus dan menarik."
"Apalagi sih Nel?" dumelku.
"Mungpung kita belum jauh dari pabrik, gimana kalau kita nunggu di warung tenda depan pabrik Hitachu."
"Setelah jam istirahat, elu langsung WA laki lu supaya doi nyamperin elu di warung tenda Hitachu," sambung Nela bersemangat. Aku masih mencerna omongan tentang ide yang kata Nela bagus dan menarik itu.
"Ogah ah, gua gengsi ketemunya," sanggahku.
Nela, walau omongan sering ceplas ceplos, tapi rasa pedulinya sama aku begitu besar, makanya aku merasa Nela itu sahabat rasa saudara. "Gak, gua lebih baik pulang dan siap-siap molor," tolakku mentah-mentah.
"Terserah lu dah!" dumel Nela kesal. Kamipun melanjutkan perjalanan pulang.
Akhirnya sampai juga di kontrakan. Kontrakan yang kini dihuni olehku dan Bang Azlan. Cowok yang sebenarnya baik itu, sesungguhnya sangat perhatian. Dari sejak awal kenal, begitu perhatian. Ya aku tahu, dia perhatian karena dia menyukaiku, hingga suatu hari dia menyatakan rasa sukanya padaku. Rasa nyaman sebagai teman dan kehangatan sebagai sodara hilang begitu saja, sejak dia menyatakan rasa sukanya padaku. Aku berubah jutek dan selalu kesal padanya. Aku jadi gak nyaman dekat-dekat dengannya.
Namun semakin aku jutek semakin dia perhatian. Bahkan parahnya lagi, sekarang dia malah semakin dekat keberadaannya denganku karena jebakannya dia sendiri. Ingat kejadian itu, rasa kecewaku makin dalam.
Perlahan Aku rebahkan tubuh lelahku setelah melewati pekerjaan hari ini. Tiba-tiba suara notif WA mengejutkanku.
"Ting," Dengan cepat Aku buka WA itu, ternyata dari Bang Azlan.
"Adek sudah balik, ya? Tadi Abang masak ayam sama sayur bening. Adek makan dulu, ya, sebelum tidur!" Begitu isi WA dari Bang Azlan sangat perhatian.
__ADS_1
Jujur saja selama jadi istri "paksa" nya, perhatiannya makin menjadi. Mencucikan bajuku, memasak buat berdua, menyajikan makanan buatku, beberesih rumah, bahkan ke pasar membeli kebutuhan makanan sehari-hari dia yang handel tanpa aku minta. Di sini, kadang aku merasa malu ada, gak enak ada, campur baur.
Namun saat mengingat kisah penggerebegan tempo hari itu, aku merasa pengorbanan dia untukku tidak sebanding dengan rasa kecewaku saat itu, jadi biar saja Bang Azlan melakukan keinginannya sendiri selama dia mau melakukan. Aku gak peduli toh aku tidak meminta.
Aku tidak membalas isi WA dari Bang Azlan, biarkan saja aku tidak mood untuk membalas. Seketika omongan Nela tadi saat pulang kerja tiba-tiba terngiang-ngiang di telinga, malah membuat hati aku merasa sakit. Kenapa sakit? Aku tidak mengerti. Pikiranku malah membayangkan Bang Azlan duduk berdua sama Kak Meta menikmati makanan bekalnya. Aku berusaha menepis bayangan itu. Aku berpikir tentang ide yang diberikan Nela, "telpon jangan ya?" timbangku gamang.
Saat pikiran sedang merasa gamang karena bayangan itu, tiba-tiba pintu kontrakan yang sudah aku kunci diketuk seseorang disertai salam. Aku tersentak, sebab suara itu aku kenal. Perlahan aku bangkit dan membuka pintu.
"Assalamualaikum!" salamnya disertai ketukan pintu.
"Waalaikumsalam!" sahutku. Pintu terbuka dan muncullah dia makhluk bernama Azlan. Di tangannya menjinjing kantong kresek yang entah apa. Tapi aku rasa makanan. Sejenak aku merasa terbuai, kala melihat Bang Azlan dengan pakaian Teknisi abu-abunya. Selalu menarik saat dia memakai baju kebesarannya itu, entah kenapa? Kelihatannya lebih ganteng. Pikirku. Ya aku memang suka sama cowok ganteng kaya Kak Rian dan Bang Jabar, putih, bersih, wangi dan ganteng.
Issss, tapi yang di hadapanku tidak putih dan tidak seganteng mereka, yang di hadapanku adalah cowok hitam manis yang kelihatan menarik banget ketika berpakaian Teknisi. Katanya sih mirip To Ming Se tapi versi hitam manis. Lumayanlah, eits!
POV End
"Dek, kok bengong?" Dara yang sejak tadi anteng dengan imajinasinya, seketika tersadar. Dia heran kenapa Azlan balik.
"Kenapa Abang balik?" tanya Dara kaku.
"Ini Abang belikan kue putu buat Adek, tadi kebetulan ada yang lewat depan pabrik. Abang langsung ingat Adek suka banget kue putu, jadi Abang belikan dan langsung dibawa kesini, sekalian Abang makan di sini saja," jabarnya sambil menyodorkan kresek berisi kue putu yang masih hangat itu.
Tebakan Dara benar, kantong kresek yang dijinjing itu rupanya makanan buat Dara yang sengaja dibelikan untuknya. Bahkan makanan sederhana kesukaan Dara pun sudah Azlan hapal. Sedalam itu perhatiannya, Dara mungkin tidak sadar setiap kebiasaan Dara selama belum jadi istri "paksa" Azlan, rupanya detil-detilnya Azlan perhatikan. Dan sekarang terbukti, kue putu kesukaan Dara terhidang untuknya.
Entah bagaimana sebelumnya, Azlan dan Dara kini sedang menikmati makan malam berdua yang nampak romantis disertai sedikit interaksi yang membuat suasana mencair yang biasanya penuh kebekuan. Mungkin buat sebagian orang normal lainnya, makan malam ini bisa dibilang makan larut malam.
Azlan menyudahi makan malamnya, disusul Dara. Segera setelah itu, Azlan bersiap kembali ke pabrik, karena jam istirahatnya mulai habis.
"Abang pamit lagi ya, Dek, kunci pintu dan cepat tidur. Hati-hati di rumah!" intruksinya perhatian. Dara mengangguk, ada sedikit kehangatan dari gestur tubuhnya dalam berinteraksi dengan Azlan kali ini.
Sebetulnya sikap Dara sedikit menghangat karena ada kaitannya dengan kedatangan Azlan yang tiba-tiba dan membawakan kue putu hangat. Itu artinya, Azlan tidak sempat bertatap muka lama berdua dengan Kak Meta, seperti sangkaan Nela tadi.
Sebentar, bukankah Dara tidak peduli tentang Azlan atau bahkan tentang siapapun yang akan merebut Azlan darinya karena tidak ada cinta di hati Dara? Tapi kini, kenapa Dara merasa bahagia setelah tahu Azlan tidak sedang bersama cewek lain atau bahkan bersama Kak Meta QC itu, yang kata Nela naksir berat sama Azlan?
__ADS_1
Kira-kira kenapa Dara menjadi sedikit menghangat? Mungkinkah Cinta hadir karena kue putu hangat?
"Hayo siapa yang mau tebak-tebak pohon Manggis? Silahkan komen dan like. Hadiah juga boleh, vote apalagi.